[S2] 13. Perebut!

2.7K 251 9
                                        

Richel menghempaskan tubuh Gibran di atas ranjang. Lalu menghela nafas panjang. Kemudian melepas kedua sepatu Gibran.

Pria itu mabuk berat, meracau tidak jelas. Bahkan terisak, lalu tertawa bak orang kesurupan yang membuat Richel ngeri sekaligus geli melihat tingkah Gibran.

Dari yang Richel tangkap jika benar dugaannya selama ini. Gibran sedang patah hati dan wanita yang mematahkan hati Gibran bernama Randa.

Agak heran karena yang ia tau mantan Gibran adalah Zara. Malah keduanya telah tunangan, tapi tiba-tiba putus.

Ia kira itulah yang membuat Gibran galau berkepanjangan, tapi ia salah.

Gibran galau bukan karena Zara, tapi karena wanita bernama Randa.

"Sialan Randa! Gue cinta sama lo! Gue sayang sama lo anjing! Tapi lo nyakitin gue!"

Richel agak terganggu dengan perkataan Gibran yang kasar, dengan kesal ia memukul Gibran menggunakan bantal.

Yang membuat Richel semakin heran saat Gibran kembali menangis. Tersedu-sedu. Meringkuk seperti bayi dalam perut. Memeluk dirinya sendiri.

"Gue sayang sama lo, Da...," bisiknya lirih. Lalu membalas tatapan Richel.

"Richel... gue sayang sama Randa. Gue cinta sama dia."

Richel menatap iba Gibran. Ikut merasakan sakit yang dirasakan Gibran. Pria itu begitu rapuh. Tatapannya menyiratkan penuh luka. Raut wajahnya begitu menyedihkan.

"Gue sakit... dada gue sakit! Dia nyakitin gue, Chel!" Gibran mulai meraung, memukul dadanya sendiri. Tangisnya semakin keras.

"Randa sialan!! Gue cinta sama lo!" teriak Gibran. Nafasnya tersengal-sengal akibat teriak dan menangis.

Matanya mulai menatap langit-langit dengan pandangan kosong. "Gue nyesel jatuh cinta sama dia. Gue nyesel jatuh sedalam-dalamnya sama dia. Karena pada akhirnya dia nyakitin gue." Lalu kembali menatap Richel. "Kenapa cinta bikin gue terluka, Richel? Bukannya cinta itu bikin orang bahagia? Orang yang kasmaran pasti bahagia, tapi kenapa gue terluka?"

"Gak melulu cinta bikin bahagia Ran," ujar Richel pelan. "Karena kalau cinta tentang bahagia terus, seseorang gak bakal merasa puas dengan hal itu. Jadi, adanya luka karena cinta biar seseorang itu belajar untuk menghargai cinta itu, biar seseorang itu merasa puas dan gak bakal melukai seseorang yang dicintainya."

Lalu Richel duduk di tepi rajang, tangannya terulur mengusap rambut Gibran. "Di balik rasa sakit akibat luka patah hati yang kamu rasain sekarang, bakal ada balasannya. Jauh lebih indah. Makanya kamu ikhlas. Jalanin semuanya dengan lapang dada. Buang kebencian kamu itu, karena rasa benci dan cinta beda tipis. Kalau kamu mau berhenti mencintai, berarti kamu juga harus berhenti membenci."

Akibat usapan tangan Richel di rambutnya, Gibran jatuh terlelap. Richel menghela nafas panjang.

Memang, menasehati orang mabuk adalah hal yang sia-sia.

*****

Seperti yang dikatakan Dera kemarin, hari ini pria itu kembali menjenguk sang Mama. Membawa serta Randa dan Arga.

Mama menyambut Arga dengan hangat. Mengatakan melihat Arga mengingatkan diri Mama saat Dera masih kecil.

Terlihat begitu bahagia wanita paruh baya itu mengajak cucunya mengobrol.

"Arga punya dua kakak lho. Kakak kembar. Ada Abang Rion dan Kakak Rora," ujar Mama sembari mengusap rambut Arga. Memberitahu Arga tentang anak kembar Iyo yang beda setahun lebih tua dari Arga. Lalu Mama menatap Iyo. "Yo kenapa gak ajak kembar biar bisa ketemu adeknya."

Love Makes Hurt [S2-S3]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang