Menghela nafas terlebih dahulu, kemudian Randa mengetuk pintu rumah di hadapannya. Melirik Sabian yang tidak sedikit pun melepas tangannya. Senantiasa menggenggam tangannya.
Pada ketukan ketiga terdengarlah suara dari dalam.
Yang membuka pintu Ibunda Randa yang terlihat terkejut. Apalagi saat menatap Sabian kemudian tautan tangan mereka.
Dengan pelan Randa melepas tangannya dari genggaman Sabian. Kemudian mencium tangan Ibu, begitupun Sabian yang tersenyum tipis.
"Apa kabar Bu? Ibu gak lupa sama saya, kan?" ujar Sabian pelan. Pernah menjalin hubungan dengan Randa tentu membuatnya mengenal sosok Ibu. Apalagi saat itu Ibu mempercayakan dirinya menjaga Randa yang satu kota dengannya. Randa yang sekolah, sementara ia yang kuliah saat itu.
"Em iya. Nak Sabian," ujar Ibu pelan, tersenyum tipis yang terlihat dipaksakan. Membiarkan Randa dan Sabian masuk.
Sebelum masuk, Randa dan Sabian saling bertatapan. Merasa heran dengan sikap Ibu.
Apalagi Ibu yang tidak bertanya kenapa Randa datang bersama Sabian. Tidak dengan Dera dan Arga.
Perasaan Randa berkecamuk apalagi saat Angga bergabung duduk di ruang tamu. Melati hanya keluar untuk menyuguhkan minuman lalu kembali masuk.
"Em... Ibu sakit?" tanya Randa karena menyadari wajah pucat Ibu.
Dengan pelan Ibu menggeleng.
Keterdiaman Ibu membuat Randa semakin gelisah, apalagi tatapan dingin Angga yang menusuknya.
"Sebenarnya kamu masih anggap kami keluarga, Dek?"
Pertanyaan menohok tersebut membuat Randa tertegun, begitupun Sabian.
"Bang Angga kenapa ngomong begitu?" tanya Randa dengan suara gemetar. Selama ini Angga tidak pernah bersikap sedingin ini padanya. Pun saat ia yang tidak ada kabar selama bertahun-tahun dan tiba-tiba kembali dalam keadaan hamil, Angga membuka lebar kedua tangannya. Menyambutnya dengan hangat.
"Kamu cerai dan gak bilang ke Abang ataupun Ibu? Terus sekarang kamu datang sama laki-laki itu untuk apa? Minta restu?"
Sabian merasa tersinggung, tapi ia memilih untuk diam tidak ingin semakin memperkeruh keadaan. Menduga jika keluarga Randa sudah tau jika wanita itu telah berpisah dari Dera. Sudah pasti Dera yang memberitahu.
"Kenapa bisa Abang ta..."
"Kamu bercerai dari Dera tanpa memberitahu kami. Lebih baik juga kamu menikah lagi, gak usah ngasih tau kami!" ujar Angga tajam. Merasa begitu kecewa pada adiknya. Sangat kecewa.
Jika memang rumah tangga adiknya tidak bisa dipertahankan. Setidaknya Randa memberitahunya ataupun Ibu karena mereka adalah keluarga.
Angga saja begitu kecewa, apalagi Ibu. Meski tidak mengungkapkan kekecewaannya, tapi Angga tau wanita yang melahirkannya itu sangat kecewa. Merasa tidak dianggap keluarga oleh Angga.
"Bang Angga kenapa ngomong gitu?" Suara Randa semakin bergetar, ia menatap Ibu yang enggan menatapnya. "Ibu... Randa bisa jelasin."
"Kamu gak usah jelasin. Abang dan Ibu udah tau dari Dera."
Sudah Randa duga jika kakak dan ibunya tau dari Dera. Entah kenapa ia merasa emosi. Pasti Dera berkata buruk tentangnya. "Dera ngomong apa? Ngomong yang jelek, kan?"
"Kamu salah Da..." Angga menyela. Meraup oksigen sebanyak mungkin lalu menghembuskannya dengan pelan. Tatapannya masih tajam terarah pada Randa. "Sebelum Dera ajukan perceraian ke pengadilan, dia ke sini. Bicara baik-baik kalau kalian akan berpisah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Makes Hurt [S2-S3]
Romance》Sequel Love Makes Hurt《 • • • Pernikahan yang Randa jalani bersama Dera rasanya sangat semu. Mereka memang menjadi orang tua yang baik untuk putra mereka. Arga. Namun, untuk menjadi sepasang suami istri, mereka belum melakukan yang terbaik. Hing...
![Love Makes Hurt [S2-S3]](https://img.wattpad.com/cover/263665682-64-k297871.jpg)