Meski telah meminum obat dan tidur secukupnya tidak membuat Randa pulih. Bahkan kepalanya semakin pusing, apalagi mendengar rengekan Arga.
Putranya itu tak ingin lepas dari gendongannya. Dikasih makan tidak mau, dikasih susu pun tidak mau.
"Arga mau apa, Sayang?" ujar Randa lemah, matanya semakin sayu saja.
Akhirnya ia berdiri, meletakkan Arga di depan dada, menghadap ke arahnya. Menimang sembari menggumamkan nyanyian tidur.
Melangkah kesana kemari.
Namun, Arga tak kunjung berhenti menangis.
Akhirnya Randa mendudukkan Arga di kursi yang membuat putranya itu semakin keras menangis. Merentangkan kedua tangan ingin diambil.
"Tunggu bentar ya Nak. Bunda ambilin kamu nasi," ujar Randa, menahan sakit kepalanya. Berpegangan pada tepi meja, ia berjalan pelan menuju rak piring, mengambil piring lalu kembali ke meja.
Namun, penglihatannya mulai buram dan berputar membuat keseimbangannya goyah.
Tubuhnya menghantam lantai mengakibatkan debuman keras dan piring di tangannya pun ikut terjatuh.
Tangis Arga semakin menjadi-jadi, mencoba turun dari kursi membuatnya terjatuh. Bokong menghantam lantai.
Bocah itu, memanggil-manggil Bundanya yang tidak sadarkan diri. "Nda! Nda!".
Mendekati Bundanya, Arga menyentuh wajah Bundanya yang tidak membuka mata.
Mendengar suara bel berdenting membuatnya berlari ke arah pintu. Memukul pintu tersebut dengan tangan mungilnya. "Ayah! Yah! Nda!" teriaknya di sela tangis. Menduga Ayahnya yang ada di balik pintu karena setiap harinya jika pintu terbuka maka ayah yang datang.
Sementara itu sosok yang ada di balik pintu mengkerutkan kening samar mendengar suara tangisan dari dalam unit tersebut.
Ia pun mengetuk pintu lalu memanggil si penghuni unit. "Mira! Mira!"
Ketukan Sabian berubah menjadi gedoran.
Rasa cemas menelusup dirinya, apalagi mendengar suara tangisan Arga yang semakin keras dan tidak ada sahutan dari dalam.
Membuat pria itu turun ke bawah. Memberitahu pusat keamanan yang terjadi pada unit Randa.
Akhirnya setelah memberitahu petugas keamanan, Sabian dibantu mereka untuk membuka pintu unit tersebut.
Sehingga ia menemukan Randa yang tergeletak pingsan di lantai.
Segera ia meraih tubuh Randa yang terasa panas, pun kening Randa. Membuatnya berseru panik pada petugas keamanan untuk memanggil ambulance.
*****
Kelopak mata sayu itu terbuka pelan. Kedua bola matanya bergulir untuk mengamati keadaan sekitar. Menyadari dirinya tidak berada di apartemen membuatnya tersentak kaget.
Kesadarannya seketika kembali mengingat putranya.
Beringsut duduk, ia merasakan pening di kepalanya membuatnya mengaduh sakit memegang kepala. Penglihatannya masih berputar-putar.
"Hei Mir!" Seruan bernada cemas tersebut mengalihkan perhatiannya.
Sabian mendekat lalu membantunya untuk merebah kembali.
Matanya memicing menatap Sabian. "Lo..."
"Lo tadi pingsan di apartemen dan Arga nangis kejer. Untung aja gue dateng terus minta bantuan ke pihak keamanan buat buka pintu unit lo," jelas Sabian.
"Arga mana?" tanya Randa lemah. Lalu mengikuti arah pandang Sabian. Putranya itu terlelap di atas sofa. Berselimut jaket kulit yang ia yakini milik Sabian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Makes Hurt [S2-S3]
Romance》Sequel Love Makes Hurt《 • • • Pernikahan yang Randa jalani bersama Dera rasanya sangat semu. Mereka memang menjadi orang tua yang baik untuk putra mereka. Arga. Namun, untuk menjadi sepasang suami istri, mereka belum melakukan yang terbaik. Hing...
![Love Makes Hurt [S2-S3]](https://img.wattpad.com/cover/263665682-64-k297871.jpg)