Randa bersiap untuk keluar setelah apartemen rapi. Meski cuaca sangat panas hari ini, tapi ia tetap keluar di siang bolong. Menggunakan jasa taksi online sebagai kendaraan untuk mencapai tujuannya.
Perasaan Randa berdebar tidak karuan. Sejak dua tahun terakhir, ia menyiapkan dirinya. Agar nantinya ia siap dengan momen ini.
Momen pertemuannya dengan putranya dan tentunya Rere.
Rasa malu dan bersalah menggerogoti Randa selama ini membuatnya tidak berani bertemu Rere. Pun cemas jika sikap Rere nantinya tidak seperti dulu.
Mengingat ia yang merebut suami wanita itu pun hingga saat ini belum ada permintaan maaf yang ia lontarkan pada wanita itu.
Beberapa bulan terakhir, Randa dan Sabian pindah ke Jogja. Mengingat jika Arga, Dera dan Rere juga berada di sini. Itu informasi yang ia dapatkan dari Sabian tiga tahun yang lalu.
Namun, beberapa bulan saat ia berada di sini, baru kali ini ia merasa yakin untuk bertemu dengan mereka. Nyalinya untuk bertemu dengan Rere begitu menggebu-gebu membuatnya sangat bersemangat. Apalagi bertemu dengan Arga tentunya.
Tiba di depan sebuah rumah sederhana. Sesuai dengan alamat yang diberikan Noah tiga tahun yang lalu.
Menghembuskan nafas pelan, ia mulai menekan bel. Beberapa kali, tapi tidak ada sahutan.
Berjinjit untuk melihat keadaan rumah tersebut.
Terlihat begitu kotor. Banyak daun kering serta rumput halamannya yang tinggi.
Jantung Randa berdebar tidak karuan, perasaan cemas kembali menghampirinya.
Makanya ia ke rumah sebelah. Mengetuk pagar rumah tersebut dan tidak berapa lama seseorang keluar menatapnya dengan pandangan penasaran.
"Permisi Bu. Maaf ganggu. Saya mau numpang nanya?" ujar Randa sopan disertai senyuman tipis.
"Ya nanya apa ya, Dek?" Ibu-ibu itu membuka pintu pagar, sehingga berhadapan langsung dengan Randa.
"Em... rumah di sebelah penghuninya mana, Bu?" tanya Randa seraya menujuk rumah tadi.
"Oh itu udah pindah. Setahun terakhir ini gak ada yang ngontrak rumah itu makanya kondisinya agak kotor."
"Oh gitu... kalau boleh tau pindah kemana Bu?" Perasaan Randa mendadak sedih. Ia terlambat. Sibuk meyakinkan diri sehingga kesempatan untuk bertemu Arga kembali hilang.
"Bu Dayanti pindah ke Wonosobo."
Kening Randa mengeryit heran. "Jadi yang pernah ngontrak rumah itu Ibu Dayanti?" Wanita itu mengangguk pelan. "Oh em... terus sebelum Ibu Dayanti yang ngontrak rumah itu, siapa? Maksud saya suami istri dan punya anak laki-laki namanya Arga. Mereka pernah ngontrak di sana."
"Oh iya Mas Dera dan Mbak Rere!" seru wanita itu membuat Randa mengangguk pelan. "Kalau mereka pindahnya dua tahun lalu. Kata Mbak Rere karena mertuanya sering sakit, terus suaminya anak bungsu makanya disuruh balik aja ke Jakarta tinggal di sana."
Punggung Randa merosot, perasaan sendu tidak bisa ia pungkiri. Kalau saja ia tau mereka pindah di Jakarta sudah pasti ia menyuruh Sabian untuk pindah di sana juga. Bukan malah di sini.
Menghela nafas pelan, ia menutupi rasa sedihnya dengan senyum tipis. Berujar terima kasih pada Ibu itu lalu melangkah pergi.
Tidak ada niatan untuk memesan taksi online untuk segera pulang ke apartemen.
Randa berjalan menelusuri perumahan tersebut hingga keluar di jalan raya.
Termenung, menatap kosong jalan raya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Makes Hurt [S2-S3]
Romance》Sequel Love Makes Hurt《 • • • Pernikahan yang Randa jalani bersama Dera rasanya sangat semu. Mereka memang menjadi orang tua yang baik untuk putra mereka. Arga. Namun, untuk menjadi sepasang suami istri, mereka belum melakukan yang terbaik. Hing...
![Love Makes Hurt [S2-S3]](https://img.wattpad.com/cover/263665682-64-k297871.jpg)