Randa menghela nafas kasar. Menatap Ruri yang menangis karena enggan ke sekolah.
Meski ia sangat marah, tapi Randa tidak pernah melakukan fisik pada Ruri. Hanya membesarkan suara. Menggertak putrinya tersebut.
"Ruri, mau jadi apa kamu kalau gak sekolah? Gak selamanya kamu kecil, nanti kamu udah gede. Bunda juga gak selamanya ada buat kamu."
Ruri menepis tangan Randa saat Randa hendak mengusap rambutnya.
"Ruri gak mau sekolah! Gak ada Ayah yang anter Ruri. Jemput Ruri. Ayah kemana sih, Bunda?!" teriak Ruri kesal, masih menangis.
"Ayah kerja." Randa bohong. Ia tau jika Sabian berada di rumah istri barunya.
Kedua tangannya terkepal kuat. Menghela nafas kasar.
"Ya udah terserah kamu..."
"Ruri mau sama Ayah!" Langkah Randa berhenti saat hendak keluar dari kamar Ruri. Menoleh menatap Ruri yang sesenggukan. "Ruri mau sama Ayah..."
"Ruri.... pilih Bunda atau Ayah?"
Ruri terdiam sejenak menatap Bunda yang terlihat seperti orang sakit. "Ayah."
"Ruri lebih sayang Ayah daripada Bunda?" Mungkin Randa sudah bodoh karena memberikan pertanyaan tersebut. Tapi, ia sangat ingin tau.
Ruri hanya diam membuat Randa memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.
*****
Dada Randa berdebar tidak karuan. Kedua kakinya ditekuk cemas. Kedua tangannya meremas satu sama lain. Tatapannya tidak pernah putus dari pintu kafe tersebut. Menunggu seseorang.
Seseorang yang harusnya ia temui dari dulu.
Tapi karena rasa takut, cemas dan malu membuatnya tidak berani menemui seseorang itu. Karena rasa bersalah yang menelingkupi dirinya.
Sosok itu terlihat.
Entah kenapa Randa menunduk, tidak berani menatapnya karena malu.
"Mbak Randa..."
Sikapnya pun masih sama seperti dulu membuat Randa semakin malu.
Segera ia berdiri, hendak bersimpuh di hadapan Rere, tapi Rere segera mencegah. "Mbak?"
"Maafin gue Re! Maafin gue!" Tangis Randa pecah, mencoba untuk bersimpuh, tapi Rere mencegahnya. Lalu memeluk dirinya.
Randa tergugu.
Rasa bersalah membuatnya malu untuk bertemu Rere. Membuatnya tidak langsung meminta maaf pada wanita itu. Wanita yang begitu baik hati.
Rere memeluk erat Randa, menenangkan wanita itu yang tidak hentinya meminta maaf. Ikut menangis.
"Udah Mbak. Jangan nangis. Berhenti minta maaf," ujar Rere seraya mengusap punggung Randa.
Usai tenang, Randa kembali duduk, juga Rere duduk di hadapannya.
Masih menunduk karena merasa malu pada Rere. Mengambil Dera dari Rere, tanpa mempedulikan perasaan Rere hanya karena ia ingin Arga memiliki orang tua yang lengkap. Tapi, pada akhirnya ia malah meninggalkan putranya tersebut. Lalu Rere pun menggantikan perannya sehingga Arga tidak kekurangan kasih sayang dari seorang ibu.
Bukan hanya pada Rere, Randa merasa bersalah, tapi pada putranya. Pun ia merasa malu jika bertemu dengan Arga.
"Mbak... tenang. Oke?" Rere meraih tangan Randa yang gemetar. Meremasnya dengan lembut. Wanita itu begitu kurus, tidak seperti yang dulu.
Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu.....
Mendapat chat dari nomor baru kemarin. Dan tidak menyangka jika itu Randa. Minta bertemu dengannya. Mengira Randa minta bertemu dengan Arga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Makes Hurt [S2-S3]
Romance》Sequel Love Makes Hurt《 • • • Pernikahan yang Randa jalani bersama Dera rasanya sangat semu. Mereka memang menjadi orang tua yang baik untuk putra mereka. Arga. Namun, untuk menjadi sepasang suami istri, mereka belum melakukan yang terbaik. Hing...
![Love Makes Hurt [S2-S3]](https://img.wattpad.com/cover/263665682-64-k297871.jpg)