[S3] 22. Meledak

3.9K 243 29
                                        

Seluruh tubuh Randa gemetar. Mencengkeram erat tepi meja. Mengontrol emosinya, ia segera meraih gelas lalu menuang air. Kemudian meneguk dua pil obat.

Menunduk seraya memejamkan matanya. Kedua tangannya kembali mencengkeram tepi meja. Mendesis pelan, mengumpat pada Sabian.

Mendapat pesan dari Friska. Pesan yang membuatnya rasanya ingin mematahkan jari-jari wanita itu karena lancang mengiriminya pesan agar ia meninggalkan Sabian.

Sabian memang bangsat, batinnya. Rasanya ingin meledak. Kalau Sabian pulang akan ia ajukan perceraian pada pria itu.

Randa tidak bisa bertahan lagi.

"Bunda..."

Randa menoleh, ia segera menyeka air matanya. Menemukan Ruri yang tersenyum manis padanya. "Kenapa Sayang?"

Ruri tidak langsung menjawab, ia melihat tempat pil obat di atas meja lalu menatap Bundanya. "Bunda sakit?"

"Cuma sakit kepala kok." Meski sekarang perasaannya berkecamuk, tapi Randa tetap tersenyum pada Ruri.

"Ruri boleh main game? Ruri udah ngerjain tugas sekolah kok." Randa mengangguk, putrinya itu segera masuk ke kamar. Akan bermain game lewat ponsel yang baru dibelikan Bunda karena ponsel yang dibelikan Tante Friska telah rusak. Katanya Bunda tidak sengaja menjatuhkannya.

Sementara itu Randa meraih botol obatnya lalu masuk ke kamar. Ingin tidur saja agar ia merasa tenang.

*****

"Aku kira kamu gak bakalan pulang?"

Sabian mengurungkan niatnya mengganti pakaian, ia melihat Randa sedang membaca sebuah buku. Bersikap begitu tenang.

Biasanya jika tenang begini, Randa akan siap meledak.

Maka Sabian memilih duduk di kursi berhadapan dengan Randa yang duduk bersandar di atas ranjang. Meluruskan kedua kakinya dan memangku bantal.

"Mir, kamu gak capek berantem?" Sabian menghela nafas lelah. Akhir-akhir ini Randa sering mengajaknya bertengkar membuatnya pusing sendiri.

"Coba kamu ambil hapeku terus baca chat yang paling atas."

Sabian mengerutkan keningnya, tapi tetap melakukan perintah Randa. Kedua matanya melotot, ia menatap Randa yang masih di posisinya. Tetap tenang.

"Mir, ini... aku." Sabian gagu. Dadanya berdebar cemas. Menatap Randa dengan takut.

Randa akhirnya menatap Sabian dengan pandangan dingin. "Kamu emang gak bisa berubah. Sekali bajingan kamu tetep bajingan. Kalau aja kamu punya pacar, mungkin udah biasa bagiku. Tapi kamu nikah. Kamu nikahin perempuan itu tanpa sepengetahuan aku?!!"

"Mira..."

"Diam!!! Aku gak butuh penjelasan sialan kamu!!" Randa menghentakkan buku di lantai turun di ranjang, berdiri menghadap ke arah Sabian. "Kalau aku, aku gak pa-pa. Tapi, Ruri? Kamu gak mikirin Ruri, bajingan?!! Kamu tega nyakitin Ruri!!! Hah?!!"

Sabian hanya mampu menunduk.

Seluruh tubuh Randa bergetar karena emosi. Kedua matanya memerah menahan tangis. Dadanya berdebar tidak karuan karena begitu sakit. Begitu sesak sehingga rasanya ia tidak bisa bernafas.

Randa duduk di tepi ranjang karena kedua kakinya terasa lemas. Mengusap wajahnya kasar. "Cerain aku!"

Sabian langsung menegakkan kepalanya menatap Randa. Menggeleng. "Gak Mir! Aku gak bakal cerain kamu! Aku gak mau pisah dari kamu!"

"Kalau kamu gak mau pisah terus kenapa kamu selingkuh?!! Kenapa kamu nikah lagi, sialan?!" Teriak Randa murka. Suaranya tercekat. Sangat sakit. Lebih sakit dari perlakuan Sabian yang dulu.

Suaminya menikahi wanita lain padahal ia masih berstatus sebagai istri.

"Dia hamil." Suara Sabian tercekat, dengan takut-takut menatap Randa. "Ta-tapi aku bakal cerain dia kalau anaknya udah la..."

"Pernikahan bagi kamu cuma sebatas gitu ya? Gak berarti sama sekali?!" sela Randa tajam. "Pokoknya cerain aku! Aku muak! Capek jadi istri kamu!"

Randa hendak keluar dari kamar, tapi Sabian mencegahnya. Menahan lengannya. Segera ia menepis tangan pria itu. Menatap tajam Sabian.

"Kalau kamu mau cerai, kamu gak bakal dapetin Ruri!"

"Kamu..." Kedua tangan Randa terkepal kuat menatap tajam Sabian.

Sekelebat bayangan tentang ia kehilangan Arga kembali.

Randa menggeleng pelan seraya memegang kepalanya.

Dia tidak boleh kehilangan Ruri, seperti kehilangan Arga.

"Jangan berani-berani kamu bawa anakku pergi! Karena aku bakal bener-bener pisahin kamu kalau kamu lakuin hal itu. Kabur dari sini!" Ancam Sabian lalu keluar dari kamar meninggalkan Randa semakin bergetar. Mulai menitihkan air mata.

Randa tidak boleh kehilangan Ruri!

Randa tidak boleh berpisah dengan Ruri!

*****

Randa mengintip dari pintu kamar, ia melihat Sabian sedang bersenda gurau dengan Ruri. Menemani Ruri menonton televisi.

Dengan pelan ia keluar dari kamar. "Ruri, kamu belum ngerjain tugas mu kan?"

Ruri langsung cemberut menatap Bunda malas. "Nanti aja Bunda."

"Nanti aja sih. Lagian besok Ruri masuk siang," sahut Sabian menatap Randa lalu kembali menatap putrinya. "Iya kan, Nak?"

"Iya Ayah," jawab Ruri ceria. Lalu kembali menatap Ayahnya. "Besok kita ke mall lagi ya? Kayak kemarin. Ruri mau beli tas baru."

"Tas mu kan masih bagus," sahut Randa setelah mendengar perkataan Ruri.

"Tapi Ruri bosan pake Bunda. Terus ada samanya. Ruri gak suka. Ruri mau yang baru." Ruri kembali menatap Ayahnya. "Bunda gak asik Ayah. Masa gak mau beliin Ruri tas baru? Ayau mau kan?"

Sabian mengangguk seraya mengusap rambut Ruri. Putrinya itu memekik senang. Sabian minta dicium di pipinya, segera Ruri melakukannya lalu memeluknya.

Randa diam mengamati dua orang didepannya.

Keduanya memang begitu dekat, dari dulu...

Bahkan Ruri lebih dekat dengan Sabian, daripada dirinya.

Saat Ruri kecil dulu jika bangun pagi dan tidak melihat Ayahnya, pasti menangis mencari Ayahnya padahal Ayahnya berada di kamar mandi atau keluar dari kamar.

Tidak seperti Randa. Jika Ruri tidak melihat Randa, Ruri tidak menangis. Langsung ke dapur untuk minta dibuatkan susu.

Apa memang seorang anak perempuan dekat dengan ayahnya?

.

.

.

.

.

13 August 2021

Love Makes Hurt [S2-S3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang