[S3] 21. Fakta

3.4K 226 18
                                        

Ruri mengintip di kamar Bundanya. Karena sejak kemarin hingga ia pulang sekolah, ia tidak melihat keberadaan Bunda. Bahkan Bunda tidak masak dan menyiapkan seragam sekolah seperti biasanya.

Dengan pelan ia membuka pintu kamar, berdiri seraya memegang daun pintu. Menatap Bunda yang sedang berada di depan jendela. Duduk bersimpuh. Menunduk entah melihat apa.

Meski ragu, Ruri melangkah masuk. Ingin meminta maaf atas sikapnya yang membuat Bunda marah. Pasti karena ia keras kepala, makanya Bunda mendiamkan dirinya.

"Bunda," panggilnya pelan, tapi Bunda tidak menoleh. Ia pun melongokan kepala, Bunda sedang melihat sebuah album foto.

Sepertinya itu bukan foto bayinya. Karena seingat Ruri ia tidak pernah melihat album foto tersebut.

Kembali lagi ia memanggil Bundanya, "Bunda."

Randa menoleh dengan pelan membalas tatapan putrinya. Lalu tersenyum tipis. Mengajak Ruri duduk di sebelahnya.

"Bunda gak marah sama Ruri?" Ruri duduk, mendongak menatap Bundanya.

"Enggak Sayang. Tapi Ruri janji jangan kayak kemarin lagi ya? Harus dengerin Bunda." Randa mengusap pelan kepala Ruri.

"Iya Bunda. Maafin Ruri ya?" Randa tersenyum seraya mengangguk. Menunduk untuk mencium kepala Ruri.

Lalu menaruh album foto tersebut di hadapan Ruri. "Ini siapa Bunda?" tanya putrinya tersebut.

Dengan senyum lebar dan mata berkaca-kaca Randa memberitahu Ruri. Melanggar larangan Sabian untuk tidak memberitahu Ruri tentang masa lalunya. Tentang sosok Arga.

"Ini Abangnya Ruri."

Ruri yang tadi terpaku pada foto bayi tersebut, mendongak menatap Randa. "Ruri punya abang?"

Randa mengangguk pelan. "Namanya Arga. Beda empat tahun dari Ruri. Sekarang dia pasti udah kelas tujuh."

Ruri kembali menatap album foto tersebut. Membuka setiap halamannya hingga berganti dengan foto anak kecil, mungkin berusia setahun karena sudah berdiri seraya tersenyum lebar. "Terus Abang kemana? Meninggal?"

Randa langsung menggeleng. "Abang masih hidup. Dia ikut Ayahnya."

Ruri mengernyit heran menatap Bunda dengan bingung.

Randa pun menatap lamat Ruri. Meski Sabian tidak ingin tau tentang masa lalu dirinya, begitupun Sabian, tapi Randa akan memberitahu Ruri. Karena tidak ingin nantinya Ruri tau dari orang lain ataupun jika besar nanti, sehingga Ruri merasa kecewa karena telah menyembunyikan fakta tersebut.

Ruri harus tau siapa saudaranya.

Ruri terdiam mendengar penjelasan Bunda. Telah mengerti kata saudara tiri juga cerai.

"Jadi Ruri punya dua kakak?" Randa mengangguk. "Bang Arga dan Kak Shali?" Lagi-lagi Randa mengangguk.

Ruri mengernyitkan keningnya. Kok sama kayak nama dua anak SMP yang ia kenal?

"Terus kenapa gak pernah ketemu? Kenapa mereka gak ke sini?"

Randa hanya mengusap kepala Ruri dengan lembut. Menyunggingkan senyum tipis. "Nanti kalau Ruri gede, pasti udah ngerti. Dan kalau Ruri udah gede jangan benci sama Ayah ataupun Bunda ya?"

Ruri hanya diam karena tidak mengerti dengan perkataan Bunda. Ia kembali menatap foto anak lelaki tersebut. Ternyata dia punya dua kakak. Satu dari Bunda, satu dari Ayah.

Emm... Ruri merasa agak bingung.

*****

Sabian marah pada Randa karena istrinya itu memberitahu Ruri. Sesuatu yang harusnya Ruri tidak perlu tau.

Love Makes Hurt [S2-S3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang