Randa sedang mengamati Ruri, ia menoleh saat di hadapannya ditaruh sebuah minuman dingin. Tersenyum tipis pada Laras.
Sepupunya itu duduk di kursi tepat di hadapannya. Ikut mengamati Ruri dan Sean yang bermain bersama.
Saat ini Randa sedang berada di rumah Laras. Mengajak Ruri, mengenalkan putrinya tersebut pada Laras juga Sean yang merupakan putra Laras.
"Gimana rumahnya? Nyaman?" tanya Laras membuat Randa kembali menatap wanita itu. Laras memang membantunya mencari rumah untuk ia tempati di kota tersebut. Bahkan Laras ingin ia tinggal di rumah bekas kantor sekaligus rumah pribadi Laras dulu sebelum menikah, tapi Randa menolak. Karena menurutnya rumah tiga lantai bergaya ruko begitu besar.
"Sekolahnya Ruri gimana? Kemarin-kemarin gue nyuruh Sean buat kenalan ama Ruri, tapi dia gak tau yang mana anaknya." Randa tertawa mendengar perkataan Laras. "Makanya gue nyuruh lo kemari, kenalin mereka. Kan kalau ada yang gangguin Ruri, ada Sean yang bakal jagain."
"Iya, Ras." Randa meneguk minuman yang disuguhkan.
Laras terdiam mengamati Randa. Banyak perubahan dari sepupunya tersebut. Tidak cerewet seperti dulu. Mungkin kalau bukan dirinya yang menghubungi Randa lebih dulu, mereka tidak akan saling duduk berhadapan saat ini.
"Ibu gue gimana kabarnya, Ras?" Tatapan Randa begitu sendu membalas tatapan Laras. Sejak beberapa tahun yang lalu, insiden pengusiran Angga membuat Randa tidak pernah lagi menampakkan diri. Antara hatinya sakit dan takut jika kembali mengunjungi ibunya.
Sakit hati atas perlakuan Angga. Meski ia tau dirinya salah, tapi tidak sepatutnya Angga melakukan hal itu, bukan? Apalagi saat itu ia hamil.
Pun rasa takut jika ia kembali mengunjungi ibu, maka kejadian beberapa tahun lagi akan terjadi. Ia diusir. Dilarang bertemu Ibu.
Laras terdiam sejenak. "Jadi, lo beneran gak pernah berhubungan lagi sama Ibu dan Bang Angga?"
Randa menggeleng pelan.
Laras pun menghela nafas pelan, ia meraih kedua tangan Randa. Meremasnya pelan. "Ibu udah gak ada. Dia udah pergi dua tahun yang lalu."
Randa terdiam seluruh tubuhnya kaku. Ia menatap tidak percaya Laras. Menggeleng pelan. Seraya menunduk.
Segera Laras berdiri lalu memeluk Randa. Menguatkan Randa. Meminta maaf karena baru memberitahu Randa sekarang.
"Waktu itu gue mau ngasih tau lo, Da. Tapi gue gak tau nomor lo yang baru. Nomor lo yang ada di gue, udah gak aktif," jelas Laras.
Mengira Randa benar-benar memutus akses darinya. Membuatnya tidak bisa menghubungi Randa.
Kalau saja pertemuan tidak sengaja mereka saat di Bandung, ia yang memiliki klien di sana saat itu dan Randa yang datang sebagai tamu karena yang menikah adalah teman Randa, mungkin mereka tidak pernah bertemu lagi.
Meminta nomor ponsel Randa yang baru. Hingga Randa meminta tolong padanya untuk dicarikan rumah karena Randa ingin pindah ke Jakarta.
"Kenapa gak ada yang ngasih tau gue? Ke-kenapa Bang Angga benci gue, Ras? Gu-gue tau, gue salah, gue pantas disalahin, tapi kenapa saat Ibu meninggal, Bang Angga sama sekali gak ngasih tau gue..." Suara isak tangis Randa tertahan.
"Gak ada yang tau nomor hape lo yang baru," ujar Laras pelan. Ikut menangis.
Kini tangisan Randa tergugu, memeluk erat Laras.
*****
Randa menghela nafas pelan melihat kelakuan Ruri. Putrinya itu belum selesai mengerjakan tugas rumahnya, tapi malah bermain ponsel. Main game.
Inilah yang membuat Randa enggan memberikan Ruri ponsel, tapi Ruri akan menangis bahkan mengamuk jika tidak dituruti.
"Ruri, kok main game? Padahal tugas sekolahnya Ruri belum selesai," tegur Randa membuat Ruri tidak terpengaruh sama sekali. Tetap bermain game.
"Susah Bunda. Ruri mau refresh otak dulu makanya main game!"
Randa mendengus pelan mendengar sahutan anaknya. Segera ia merampas ponsel dari tangan Ruri membuat anaknya itu merengut kesal.
"Bunda..."
"Gak Ruri! Mau Bunda sita hapenya?"
Ruri berdecak pelan, lalu meraih bukunya.
Kenapa matematika sangat susah?!
"Makanya perhatiin gurunya kalau jelasin biar kamu paham," ujar Randa duduk di sebelah Ruri yang menatap malas buku di depannya. "Ruri dengerin Bunda, gak?"
"Iya-iya," jawab Ruri malas. Hendak mengambil pensilnya, tapi suara pagar dibuka mengurungkan niatnya.
Segera ia berdiri lalu berlari, tidak mengacuhkan panggilan Bunda.
"Ayah!!" seru Ruri langsung melompat ke arah Ayahnya yang baru pulang dari luar kota karena pekerjaan.
Sabian langsung menggendong Ruri. Mencium pipi anaknya tersebut. "Kangen sama Ayah?"
"Iya dong!" seru Ruri lalu mengecup pipi Ayahnya. Diturunkan dan melihat Ayahnya membuka bagasi mobil.
Ruri berteriak senang saat melihat mainan yang dibelikan Ayahnya. Segera ia masuk ke dalam rumah. Mengeluarkan semua mainan yang Ayah belikan.
Sabian bergabung duduk bersama Ruri di atas karpet. Memberitahu Ruri cara memainkan mainan tersebut.
"Oh ya Ayah? Ada yang ngatain Ruri pendek. Mereka jahat banget." Ruri menatap Ayahnya. Mulai melakukan sesi curhat.
"Kan emang pendek." Sabian tertawa saat melihat Ruri merengut. "Tapi nanti kalau udah gede. Tinggi kok. Siapa yang bilang kamu pendek? Nanti Ayah kasih pelajaran!"
Ruri tersenyum lebar. "Besok Ayah anterin Ruri ke sekolah ya?"
"Iya dong. Eh suka sama sekolah barunya, kan?"
"Awalnya kurang suka karena Ruri diledekin pendek. Tapi sekarang suka kok karena udah punya temen." Ruri terlihat berpikir sejenak. "Tapi Ruri juga gak suka karena ternyata masih ada matematika. Ruri kira udah gak ada Ayah!" rengek Ruri di akhir kalimatnya.
"Ayah pembohong! Bilang di sekolah baru Ruri nanti gak ada matematikanya, tapi ternyata ada!" sambung Ruri membuat Sabian tertawa. Mengacak rambut Ruri dengan gemas.
Memang Sabian mengatakan hal tersebut agar Ruri berhenti merengek karena enggan pindah.
"Nanti Ayah ajarin matematika."
"Ayah kan gak pinter matematika," ejek Ruri lalu tertawa.
Randa yang melihat hal tersebut menghela nafas pelan.
Kalau saja waktu itu ia memutuskan berpisah dengan Sabian, apa ia bisa menyaksikan tawa Ruri?
Tentu tidak.
Ruri akan merasa sedih karena orang tuanya berpisah dan ia takut jika dipisahkan Ruri seperti ia dipisahkan Arga.
Sabian menegakkan kepala menatap kehadiran Randa.
Mengukir senyum, ia mengecup pipi anaknya dulu lalu berdiri. Menghampiri Randa.
"Are you okay?" Tanya Sabian lembut. Mengetahui jika Randa dalam keadaan sedih karena mengetahui ibunya telah meninggal. Itulah yang Randa katakan padanya tiga hari yang lalu melalui panggilan video saat itu.
Randa mengangguk saja. Kemudian Sabian memeluknya.
.
.
.
.
.
Ada yang kangen sama sabian?
Tuh dah nongol🤭😌
30 July 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Makes Hurt [S2-S3]
Romance》Sequel Love Makes Hurt《 • • • Pernikahan yang Randa jalani bersama Dera rasanya sangat semu. Mereka memang menjadi orang tua yang baik untuk putra mereka. Arga. Namun, untuk menjadi sepasang suami istri, mereka belum melakukan yang terbaik. Hing...
![Love Makes Hurt [S2-S3]](https://img.wattpad.com/cover/263665682-64-k297871.jpg)