[S2] 6. Pertemuan Tidak Disengaja

2.4K 256 8
                                        

Bagian depan baju Randa basah akibat Arga yang bergerak tidak hentinya saat dimandikan. Bayi berusia lima belas bulan tersebut begitu menyukai bermain air.

Saat diangkat, Arga menangis. Masih ingin bermain air.

Kewelahan, Randa berusaha menggendong Arga. Harus menahan tubuh Arga yang berusaha ingin turun.

"Duh! Anak manis kenapa ngamuk?" tegur Melati, wanita yang telah sah menjadi istri kakaknya tadi pagi.

"Mau main air terus Mbak," awab Randa dengan nafas tersengal karena menahan tubuh gempal Arga. Segera ia pamit masuk ke kamar untuk memakaikan Arga baju.

Memberi susu pada Arga agar putranya tenang, lalu mulai memakaiakan baju.

"Kuku mu mulai panjang, Nak. Dipotong ya?" ujar Randa seraya memperhatikan kuku jari Arga yang mulai tumbuh panjang.

Mengerti dengan perkataan ibunya membuat Arga menarik tangannya lalu menggeleng. "Ndak."

Randa tersenyum geli, lalu mengoreksi perkataan Arga. "Nggak, bukan ndak."

Lalu mengusap rambut Arga yang kembali fokus minum susu.

"Da..."

Randa menoleh ke arah pintu, melihat ibunya yang melangkah masuk menghampiri.

"Kenapa Bu?"

"Laras udah mau balik."

Randa pun menegakkan badan, beranjak turun dari ranjang. Meminta ibunya menjaga Arga dulu. Lalu masuk ke kamar yang menjadi tempat Laras tidur.

Wanita hamil itu sedang berberes. Memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper.

"Cepet banget baliknya, Ras."

Laras mendongak lalu tersenyum. Menarik resleting koper hingga tertutup rapat. Lalu berusaha berdiri. Rasanya sangat melelahkan, padahal hanya memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.

"Kerjaan gue banyak Da. Apalagi kerjaannya Kak Andra."

"Masih aja lo terima kerjaan. Tuh perut udah mau meletus tau."

Laras tertawa atas perkataannya. Ia pun ikut duduk di sebelah Laras.

"Selama gue masih mampu kerja, kenapa enggak?"

"Iya deh yang gila kerja." Keduanya kembali tertawa.

Laras kembali berdiri, melanjutkan membereskan barang-barangnya.

"Sebelum balik ke Aussie, lo harus mampir di rumah!" tekan Laras menatap Randa.

"Iya Ras." Randa menyunggingkan senyum tipis.

"Kalau ada apa-apa hubungi gue. Inget, gue kakak lo!"

"Iya Laras!"

Lalu Laras meminta Randa untuk memanggil Andra agar membantu Laras mengangkut barang bawaannya.

Mencari Andra yang ternyata sedang berbincang dengan Dera.

Langkah Randa berhenti ketika mendengar perkataan Andra.

"Walau gimanapun beliau nyokap lo, Der."

Mengamati ekspresi kedua pria itu serius membuat Randa menduga jika keduanya sedang membicarakan keluarga Dera.

Lalu Andra berdiri, menepuk pundak Dera. Kemudian menyadari kehadirannya.

"Laras... manggil lo, Kak," ujar Randa, Dera pun ikut menatap ke arahnya.

Andra mengangguk dan melangkah meninggalkan mereka.

Keduanya saling bertatapan, tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Love Makes Hurt [S2-S3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang