[S2] 22. Tidak Boleh Goyah

2.3K 227 8
                                        

Randa mengamati setiap pergerakan Sabian yang menyiapkan makan malam untuk mereka. Makanan yang dibeli di luar. Pria itu membeli sup ayam untuknya agar ia merasa lebih baik.

Duduk di sebelahnya dan mulai menikmati makanannya juga.

Mereka makan dalam keadaan hening. Hanya suara denting peralatan makan yang terdengar. Hingga Randa memutuskan untuk bicara.

"Di sini cuma ada satu kamar."

Sabian berhenti makan, menoleh menatap Randa lalu mengendikkan kepala ke arah sofa yang berada di ruang tengah. "Gue bisa tidur di sana."

Terdiam. Randa melanjutkan menikmati sup tersebut.

Matanya melirik saat Sabian menyodorkan sepiring nasi dengan lauk ayam goreng. "Makan nasi juga," ujar pria itu. "Atau mau bubur?"

Menggeleng pelan, Randa menyentuh nasi itu. Mulai memakannya walau tidak sampai habis. Merasa sudah kenyang. Meneguk air dan tidak lupa meminum obatnya.

Masuk ke kamar, membiarkan Sabian yang membereskan dapur. Mencuci peralatan makan.

Keluar lagi sembari membawa selimut dan bantal. Menaruhnya di sofa. Menatap punggung Sabian yang masih mencuci piring.

"Bian, ini bantal dan selimut. Gue tidur duluan. Jangan lupa matiin lampu." Setelah melihat anggukan pria itu. Randa kembali masuk ke dalam kamar.

Tidak langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Masih berdiri di balik pintu. Melamun, memikirkan apakah tindakannya ini benar?

Membiarkan Sabian bersinggungan lagi dengannya. Yang jelas-jelas masih menginginkannya.

*****

Suara tawa Arga menggema mengisi unit apartemen tersebut. Tergelak-gelak karena digendong di atas pundak. Tidak berapa lama kemudian diturunkan karena Sabian merasa lelah.

Arga menaiki perut Sabian, duduk di sana seraya memukul dada Sabian. Merengek ingin digendong di pundak lagi.

Dengan nafas tersengal-sengal Sabian berujar. "Tunggu dulu ya? Om mau istirahat sebentar."

"Aaarrggh!" Arga merengek. Semakin memukul dada Sabian.

"Arga jangan gitu  Nak!" tegur Randa yang sedari tadi duduk di sofa. Bahkan berdiri lalu meraih tubuh Arga, membawa putranya itu duduk di pangkuannya. Mulai mensehati agar tidak kurang ajar pada orang yang lebih tua.

Sabian yang melihat itu tersenyum. Kagum atas sikap keibuan Randa.

Beringsut duduk, ia lalu berdiri. Kemudian meraih jaketnya.

"Mau pulang?" tegur Randa padanya saat ia memakai jaket.

"Kok lo terdengar gak rela gue pulang?" tanya Sabian dengan nada geli membuat wanita itu mendengus pelan lalu memalingkan wajahnya.

Sabian melangkah mendekat, mengusap kepala Arga yang kembali merentangkan kedua tangan ingin diambil. "Om pulang dulu. Nanti balik lagi kok."

Setelahnya melenggang pergi meninggalkan Randa yang hendak protes. Melarang pria itu datang lagi.

Namun, wujud Sabian tidak ada lagi membuat wanita itu hanya mampu menghela nafas pelan.

Karena meski dilarang, Sabian tidak akan menurut. Pria keras kepala itu tetap akan datang.

Dan seperti perkataannya tadi, pria itu kembali.

Menemani Arga bermain, menyiapkan makanan untuknya. Melarangnya bergerak leluasa karena ia belum pulih. Padahal Randa tidak sakit lagi, meski ia masih lemas.

Love Makes Hurt [S2-S3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang