[S2] 28. Keputusan Akhir

2.6K 241 22
                                        

Mama Dera menatap iba putra bungsunya tersebut yang sering melamun jika sendirian. Merasa begitu prihatin dengan nasib Dera yang selalu gagal dalam pernikahan.

Di pernikahan pertama gagal karena ternyata Dera menghamili wanita lain sehingga harus berpisah dengan Rere.

Tentu Mama kecewa dengan apa yang Dera lakukan. Tapi, mau bagaimana lagi. Semuanya telah terjadi. Meski Mama ikut mengamuk seperti Papa dan putra pertamanya, yang menghakimi Dera, tidak akan mengubah apapun.

Meski telah dibuat kecewa. Namanya juga seorang ibu, tentu pasti menerima kembali anaknya pun dengan wanita yang dicap sebagai perusak rumah tangga putranya tersebut. Mama menerima Randa, seperti halnya ketika Rere menjadi menantunya.

Namun, ia kembali merasa kecewa. Setelah ia mengira keluarga kecil Dera penuh dengan kebahagiaan. Ternyata, tidak sebahagia dengan yang terlihat.

"Eyang!"

Seruan tersebut membuatnya langsung menatap cucu kembarnya yang berbeda jenis kelamin tersebut. Keduanya hampir setiap hari berkunjung ke rumah setelah ada Arga. Ketiganya bermain bersama.

Menyambut kedua cucunya dengan pelukan hangat. Ia bertanya. "Kalian bareng siapa?"

"Papi!" seru Aurora ceria lalu celingukan mencari sesuatu. "Dedek Ayga mana?" tanyanya mencari adik sepupunya itu.

"Ada di kamar lagi bobok. Kalian main aja dulu di ruang tengah ya? Nanti kalau Dedek Arganya bangun, baru deh kalian main sama." Kedua cucunya tersebut dituntun si pengasuh ke ruang tengah.

Iyo masuk memeluk Mama sejenak lalu mencium pipinya sekilas. "Papa mana, Ma?"

"Biasa lagi nongkrong bareng temen-temennya. Main catur di rumah sebelah." Iyo tertawa mendengar jawaban Mamanya, lalu menyadari  adiknya yang duduk di beranda samping rumahnya tersebut.

Menyadari tatapan Iyo pada Dera, ia menyenggol siku Iyo membuat putra pertamanya itu menatapnya. "Tuh, hibur adikmu, Mas. Mama takut nanti dia depresi."

Iyo hanya tertawa. Mama pamit untuk ke ruang tengah menemani cucu kembarnya bermain.

Pria duda beranak dua itu ikut bergabung duduk dengan adiknya yang langsung tersentak karena kehadirannya.

Telah mengetahui apa yang menimpa Dera saat ini. Tentu dari Mama. "Jadi duda gak seburuk itu kok. Lo gak harus 'puasa' karena gak punya istri."

Dera mendelik kesal pada Iyo yang tertawa. Begitu bahagia melihat dirinya yang nelangsa.

"Puas aja lo ketawa Mas. Gue ikhlas kok. Gue emang pantes diketawain," ujar Dera sendu menatap lurus ke depan.

Iyo terdiam menatap lamat-lamat adiknya tersebut. Menyanggah kedua lengannya di lengan kursi tersebut. Mengikuti arah tatapan Dera yang tertuju pada tanaman Mama.

"Gue dapet karma, Mas."

Beberapa saat terdiam, Dera kembali bicara dan Iyo tertawa mendengar perkataan Dera membuat pria itu menoleh menatap adiknya.

"Gue gak percaya karma."

Dera mendengus pelan melihat wajah pongah kakaknya. "Karena lo belum rasaian!"

"Ibunya si kembar meninggal, apa itu bisa disebut karma buat gue?" Dera tidak menjawab. Ia serius melihat wajah kakaknya yang juga serius. "Terus perempuan yang gue cintai bahagia sama sahabat gue, apa itu karma buat gue juga?"

Menggeleng pelan, Dera sudah menduga jika kakaknya belum move on dari Via. Tapi, ia salut dengan persahabatan antara Iyo dan Anis. Meski keduanya selalu bertengkar jika bertemu layaknya musuh, tapi mereka tetap bersahabat. Tidak seperti persahabatannya yang hancur tidak tersisa.

Love Makes Hurt [S2-S3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang