"Ayah!"
Seruan tersebut menyambut kedatangan Dera yang tadinya menekuk wajah lelah menjadi berbinar menyambut Arga. Meraih putranya itu untuk digendong.
Diberikan ciuman bertubi-tubi membuat senyuman lebar Dera terbit. Ia pun balas mencium Arga. Bahkan menggigit pipi Arga. Tentunya dengan ringan.
"Arga kangen Ayah ya. Nak?"
"Hm'em!". Arga mengangguk semangat. Memeluk leher Dera.
Pria itu melangkah, masuk lebih dalam dan menemukan Randa yang sibuk di dapur. Entah mengerjakan apa.
Sama sekali tidak menyambutnya. Bahkan meliriknya pun tidak.
Lalu ia kembali beralih pada Arga. "Arga belum mandi sore, kan? Bareng Ayah yuk mandinya." Ajak Dera membawa Arga masuk kamar.
Kegiatan Randa berhenti, ia menatap pintu kamar dengan perasaan dongkol.
Dera benar-benar menjaga jarak darinya. Bahkan tidak menyapanya sama sekali. Seperti tidak melihat keberadaannya di dapur tersebut.
Usai makan malam, Randa beralih pada keranjang pakaian kotor. Memisahkan pakaian berwarna dan berwarna putih. Lalu dimasukkan ke dalam mesin cuci.
Mendongak saat melihat pakaian kotor yang disodorkan Dera. Tanpa kata, ia mengambilnya lalu memasukkan ke mesin cuci.
Berdiri menatap punggung Dera yang hendak keluar dari ruangan tersebut. "Kamu keterlaluan Mas!" desisnya tajam membuat langkah pria itu berhenti.
Menoleh menatapnya dengan kening berkerut. "Maksud kamu?"
"Selama kamu pergi, kamu gak pernah hubungi aku? Seneng-seneng ya kamu di sana, sampai lupain aku dan Arga. Dia nyari kamu terus!" Randa meluapkan kedongkolannya.
Lima hari Dera pergi, lima hari itu pria itu sama sekali tidak menghubunginya.
Dera maju selangkah sehingga mereka berhadapan. "Harusnya kamu yang hubungi aku!"
Mereka berdua saling menyalahkan. Seperti pasangan remaja yang bertengkar. Saling berharap menghubungi satu sama lain. Saling menunggu siapa yang menghubungi duluan. Ego yang membuat mereka tidak ingin menghubungi lebih dulu sehingga mereka saling berharap satu sama lain.
"Aku?" Randa tersenyum getir lalu mendengus tidak percaya. "Kamu pergi tanpa pamit. Gak ngajak aku bicara sama sekali! Aku pikir kamu marah sama aku."
"Kenapa kamu berpikir aku marah?!"
"Karena malam itu, aku nanya perasaan kamu pada Rere!"
Pria itu terdiam membuat Randa kembali tersenyum getir. Maju selangkah hingga jaraknya dan Dera begitu dekat. Mendongak untuk menatap pria itu dengan tajam. "Apa lima hari ini kamu menghindar karena merenung? Apa hasil renungan kamu? Apa kamu masih cinta Rere atau enggak?"
Dera menghela nafas kasar mendengar todongan Randa. "Aku kan udah bilang! Gak ada habisnya kalau kita bahas masa lalu, Da!"
"Makanya kita selesaiin masa lalu itu biar gak ada lagi! Biar kamu lupa sama masa lalu kamu!" seru Randa tertahan melotot pada Dera.
"Aku udah selesein!"
"Belum selesai! Kamu masih inget dia saat kamu cium aku!"
Dera mengerang frustasi. Kenapa Randa kembali membahas hal itu? Saat ia keceplosan menyebut Rere ketika mencium Randa.
"Astaga Da! Aku capek baru aja pulang. Terus kamu ngajak aku berantem?!"
"Aku gak ngajak kamu berantem? Aku cuma mau tau kenapa kamu hindarin aku setelah malam itu! Kamu gak hubungi aku selama kamu pergi lima hari! Aku mau tau alasan kamu! Cuma itu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Makes Hurt [S2-S3]
Romance》Sequel Love Makes Hurt《 • • • Pernikahan yang Randa jalani bersama Dera rasanya sangat semu. Mereka memang menjadi orang tua yang baik untuk putra mereka. Arga. Namun, untuk menjadi sepasang suami istri, mereka belum melakukan yang terbaik. Hing...
![Love Makes Hurt [S2-S3]](https://img.wattpad.com/cover/263665682-64-k297871.jpg)