Ruang perawatan tersebut hening, meski Randa telah bangun pasca melahirkan semalam. Pun Sabian yang tidak tidur semalaman, sama sekali tidak beranjak tidur.
Tatapannya tertuju pada anak perempuan yang berada di ranjang khusus anak, menggeliat pelan beberapa kali hingga menangis membuat kamar tersebut pecah dari keheningan.
Segera ia berdiri mendekat melihat putrinya yang wajahnya memerah karena menangis, ia menatap Randa yang tidak bergerak sama sekali, tetap di atas brankar. Tatapannya tertuju pada langit-langit.
"Mi-mira... dia nangis," ujar Sabian pelan, lalu kembali menatap putrinya. Ingin meraihnya tapi tidak tau caranya. "Kamu belum ada ASI ya? Aku keluar dulu beliin dia susu ya?"
Segera Sabian melesat keluar, Randa yang tadi terdiam kini menoleh pada bayinya. Dengan pelan ia beringsut duduk, lalu menurunkan kedua kakinya. Berjalan pelan ke arah bayinya. Kemudian meraihnya.
Karena semalam ia begitu lelah sehabis melahirkan, ia tidak sempat melihat bayinya.
Kedua matanya berkaca-kaca menatap bayi perempuannya yang begitu mungil dalam dekapannya. Menenangkan bayi tersebut seraya menimangnya dengan pelan. Tidak mengacuhkan kedua kakinya yang diperban akibat pecahan gelas kini berubah warna menjadi merah.
"Astaga Mir, kakimu!" Sabian masuk bersama seorang suster yang membawa kotak susu serta botol susu yang bersih.
"Mari Bu, biar saya yang urus bayinya," ujar suster tersebut meraih bayi Randa.
Segera Sabian menggendong Randa kembali mendudukannya Randa di brankar. Berjongkok di depan Randa seraya melihat kedua telapak kaki Randa yang diperban kini berwarna merah.
"Sus, tolong ganti perban istri saya." Suruh Sabian pada suster tadi yang telah membuatkan susu untuk anaknya. Kini Sabian memberikan susu pada anaknya dengan menjulurkan dot. Anaknya tersebut dengan lahap menyedot susu.
Tidak berapa lama si suster kembali masuk, mulai membuka perban di kaki Randa. Menggantinya dengan yang baru.
"Ibu, belum boleh jalan dulu. Kalau mau ke kamar mandi bisa minta tolong suaminya." Randa mengangguk saja. Segera suster itu pamit keluar dari sana meninggalkan keluarga kecil tersebut yang kembali lagi terjebak keheningan. Karena anak mereka telah terlelap setelah menghabiskan satu dot susu.
"Kamu mau ngasih dia nama, siapa?" tanya Sabian pelan menatap Randa yang sama sekali enggan menatapnya, tatapan Randa tertuju pada anak mereka yang terlelap.
Sabian menghela nafas pelan. "Em... aku ya yang ngasih nama?" Meski Randa tidak menjawab, tapi Sabian tetap mencari nama untuk putrinya. Mulai membuka ponselnya mencari nama yang bagus.
Hingga beberapa saat kemudian, Sabian kembali menatap Randa. "Gimana kalau Ruri? Kalau dalam bahasa Jepang artinya zamrud. Batu permata hijau yang berharga."
Randa hanya diam, tapi Sabian tetap melanjutkan perkataannya. "Ruri Samira Sabian. Gimana? Bagus kan?"
"Segitu sukanya kamu sama nama 'Mira'?" Akhirnya Randa bersuara. Terdengar datar, pun tidak menatap Sabian.
"Kan Ruri anak kita. Ada namamu, juga namaku di nama lengkapnya," jelas Sabian lembut.
"Aku mau pisah!" sahut Randa pelan tapi tegas kini menatap Sabian yang langsung terlihat cemas.
"Mira..."
"Aku gak sanggup hidup sama kamu! A-aku bakalan jadi gila kalau selamanya hidup sama kamu!" Berusaha mungkin Randa menjaga suaranya agar putrinya tidak bangun. Ia menatap Sabian dengan pandangan lelah. Ingin memberitahu jika ia benar-benar tidak sanggup lagi berada di pernikahan dengan Sabian.
Ingin menjaga kewarasannya agar tetap normal. Ingin menjaga perasaannya agar tidak mati rasa.
Randa tidak bisa bertahan lagi.
"Karena kamu gak mau punya anak. Aku bisa kok urus dia sendiri. Kalau kamu gak mau nafkahi dia, aku bisa nafkahi dia sendiri. Kalau..."
"Enggak Mir! Enggak!" sela Sabian tegas menatap serius Randa. Matanya memerah menatap Randa dengan kesungguhan.
"Baik kamu! Maupun Ruri gak boleh pergi dari aku! Kalian harus tetap bersamaku!" Sabian mendekat di berlutut di hadapan Randa. "Aku tau, walaupun seribu kali aku minta maaf gak akan bisa bayar apa yang aku lakuin ke kamu. A-aku bener-bener minta maaf, Mira. Aku bajingan."
Dengan suara gemetar juga tangannya, Sabian meraih tangan Randa menatap Randa dengan mata berkaca-kaca. "Mira, kasih aku kesempatan lagi. Aku janji... aku gak akan ngulangin kesalahan kayak kemarin. A-aku nerima Ruri kok. Dia anakku. Aku janji akan sayang sama dia. Kamu jangan pergi ya? Jangan ninggalin aku?"
Randa hanya diam mendengar Sabian yang memohon.
"Aku bakal jadi Ayah yang baik buat Ruri. Aku janji!"
Randa menghela nafas pelan. Tatapannya tertuju pada putrinya yang terlelap. Wajahnya begitu mirip dengan Sabian.
Benar-benar duplikat ayahnya....
.
.
.
.
.
Janji terooosss!🙄
28 July 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Makes Hurt [S2-S3]
Romance》Sequel Love Makes Hurt《 • • • Pernikahan yang Randa jalani bersama Dera rasanya sangat semu. Mereka memang menjadi orang tua yang baik untuk putra mereka. Arga. Namun, untuk menjadi sepasang suami istri, mereka belum melakukan yang terbaik. Hing...
![Love Makes Hurt [S2-S3]](https://img.wattpad.com/cover/263665682-64-k297871.jpg)