Sabian berdecak saat melihat Audi yang tersenyum manis seraya melambai dengan tatapan genit tertuju padanya.
Segera ia abaikan wanita itu, melangkah menuju lift. Sebelum pintu lift tertutup, Audi dengan gesit masuk.
"Ngapain lo ke sini? Lo ada klien?" tanya Sabian menatap Audi dengan pandangan rendah.
"Gue kangen sama lo," ujar Audi manja menarik lengan Sabian. Memeluknya. Mendongak, menatap Sabian dengan pandangan genit.
"Apa sih lo?!" Sabian mendorong kasar Audi hingga terlepas dari lengannya. Mengusap lengannya seakan Audi adalah kotoran yang membuat Audi mendengus pelan.
Cemberut, Audi menatap Sabian sendu. "Gue dari tadi nungguin elo tau!"
"Bodo amat!" Sabian berdecak kesal. Segera keluar dari lift saat tujuannya sampai. Wanita itu lagi-lagi mengikutinya.
"Bi!"
Audi tersentak saat Sabian menghantam punggungnya di dinding. Pria itu melotot tajam.
Meneguk ludahnya susah payah. Sepertinya Audi salah karena memanggil Sabian 'Bi'. Memang pria itu tidak suka. Katanya hanya 'Mira' yang boleh memanggilnya.
"Sekali lagi lo manggil gue 'Bi', gue sobek mulut lo!" desis Sabian menekan punggung Audi yang membuat wanita berpakian seksi itu mengaduh sakit dan dengan cepat meminta maaf.
"Maaf," cicitnya takut.
Sabian melepaskan Audi. Lalu masuk ke unitnya.
Saat ini ia berada di Jakarta tanpa sepengetahuan Randa karena wanita itu terlelap. Tidak ingin Randa ikut, makanya ia pergi tanpa memberitahu wanita itu.
Sementara Audi merengut kesal. Bingung, bagaimana caranya ia keluar dari sana. Masuk ke lift tentu menggunakan kartu akses yang biasa dimiliki si pemilik yang tinggal di apartemen tersebut.
Ingin menggunakan tangga, tapi masa iya, ia menuruni tangga dari lantai dua puluh hingga ke lantai dasar?!
Saat ia ingin beranjak, pintu apartemen Sabian terbuka yang membuatnya kembali menghadap sana lalu tersenyum lebar menatap Sabian. Meski Sabian kasar, tapi ia akan tetap bersikap manis karena saat ini butuh uang. Siapa tau Sabian minta diberi 'service'.
"Masuk lo!"
Segera Audi masuk, ia hendak memeluk Sabian, tapi pria itu menghindar lalu mengatakan hal yang membuatnya melongo.
"Lo beresin barang-barang yang ada di kamar tamu. Semua baju yang ada di lemari lo masukin ke koper. Terus peralatan make up dan skincare, lo simpan ke dalam tas. Ngerti lo?"
Sabian hendak berlalu tapi lengannya di tahan Audi.
"Ko-kok lo nyuruh gue gitu. Emang lo gak mau..."
"Gue gak mau! Mau duit gak lo?"
Audi mengangguk semangat. Tanpa banyak protes, ia segera menjalankan titah Sabian.
Sementara itu Sabian masuk ke kamarnya. Mulai membereskan barang-barangnya juga.
Dering ponsel terdengar membuatnya beranjak mendekati benda tersebut yang ia taruh di atas meja. Ponsel Randa yang sengaja ia bawa berdering, menampilkan nama Laras. Kemudian, ia menolak panggilan tersebut. Lalu memblokir nomornya.
Seharusnya Sabian membuang kartunya, bukan?
Jadi, ia melakukan hal tersebut. Melepas kartu SIM dari ponsel Randa lalu membuangnya ke tempat sampah. Kemudian melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Makes Hurt [S2-S3]
Romance》Sequel Love Makes Hurt《 • • • Pernikahan yang Randa jalani bersama Dera rasanya sangat semu. Mereka memang menjadi orang tua yang baik untuk putra mereka. Arga. Namun, untuk menjadi sepasang suami istri, mereka belum melakukan yang terbaik. Hing...
![Love Makes Hurt [S2-S3]](https://img.wattpad.com/cover/263665682-64-k297871.jpg)