[S3] 13. Benci

1.9K 183 7
                                        

Kedua mata Randa berkaca-kaca menatap bingkai foto di depannya. Menyentuh foto itu. Foto Arga yang tersenyum lebar ke arah kamera.

Lalu ia menatap bingkai lainnya yang juga foto Arga. Menghela nafas kasar, ia menyeka air matanya saat mendengar derap langkah kaki.

Memutar tubuhnya menghadap ke arah Melati yang menyuguhkan teh dan kudapan padanya.

Kakak iparnya itu tersenyum lembut seraya menyuruhnya duduk kembali.

Hanya Melati yang berada di rumah karena Angga sedang mengantar Ibu ke Puskesmas. Penyakit asam urat yang diderita Ibu sedang kambuh, makanya Ibu pergi memeriksa keadaannya.

"Udah berapa bulan, Da?" tanya Melati seraya menatap perut Randa yang membesar.

"Enam bulan, Mbak." Lalu terjadi keheningan lagi.

Usai memutuskan menikah dengan Sabian dan keluarganya tidak merestui, hubungan Randa dengan mereka tidak lagi baik. Tadi saja ia sempat ragu untuk ke sini, cemas jika nantinya diusir.

Mungkin Ibu tidak, tapi tidak dengan Angga yang sudah terlanjur kecewa padanya.

Agak sedih sebenarnya karena tidak ada Ibu di rumah. Pun Arga yang sempat ia kira berada di sini pun juga tidak ada.

"Baru dua hari yang lalu Arga pulang..."

Randa yang tadi mengamati foto Arga, balik menatap Melati. "Bareng siapa?"

"Bareng Dera dan Rere. Tapi Dera cuma nganter gak nginep. Cuma Arga dan Rere yang nginep selama dua malam. Terus Dera jemput mereka dua hari yang lalu."

Randa terdiam. Tidak tau harus berkata apa. Tiba-tiba pikirannya kosong. Dan pertanyaan kenapa bisa ia tiba di sini? Terlintas di kepalanya.

"Hubungan kalian gak baik? Kamu gak pernah ketemu Arga lagi?"

Dengan pelan Randa mengangguk lalu tersenyum getir. "Mungkin ini hukuman buat aku, Mbak. Karena aku... aku ninggalin Arga waktu itu."

Melati yang kali ini terdiam, tidak tau harus berkomentar apa.

"Tapi itu udah lama banget, Da. Sudah tiga tahun berlalu. Apa kamu gak mencoba bicara dengan Dera?"

"Sudah pernah, Mbak. Tapi, tetep aja Dera gak mau."

"Kamu yang sabar ya, Da. Nanti juga Dera bakal izinin kamu ketemu Arga."

"Arga nyari aku gak, Mbak? Dia masih ingat aku?" tanya Randa penuh harap. Jika Arga ke sini, mengenal Ibu, Angga dan Melati tentu anak kecil itu bertanya siapa mereka, kan?

Melati tidak langsung menjawab, terdiam sejenak. Lalu menghela nafas pelan. "Maaf Da, Arga... Arga gak nyari kamu. Terus... terus Mas Angga juga gak biarin kamu diungkit."

Kedua tangan Randa meremas tangannya satu sama lain. Menekan rasa kecewa dan sedihnya. "Bang Angga kecewa banget sama aku ya, Mbak? Ibu juga?"

Melati hendak pindah duduk untuk menenangkan Randa, tapi kedatangan Angga mengurungkan niatnya. Ketiganya saling tatap.

Tatapan Angga yang tadinya lembut pada Melati kini tajam pada sosok Randa. Apalagi saat melihat perut adiknya itu.

"Kenapa datang ke sini? Mau tinggal lagi kayak dulu? Diusir suami mu?" Ucapan sinis Angga membuat dada Randa berdebar sakit. Sangat sakit...

Memberanikan dirinya, ia menatap Angga. "Ibu mana?"

"Gak usah nyari Ibu! Mending kamu pergi dari sini!" Angga mulai mengeraskan suaranya. Membentak Randa yang langsung tersentak, begitupun Melati.

Melati hendak menyahut, tapi Angga mendahului. Menyuruh istrinya itu masuk ke kamar. Melarangnya ikut campur.

Mau tidak mau Melati mengikuti perintah suaminya. Menggumamkan kata maaf pada Randa.

"Kamu pergi..."

"Segitu bencinya Abang sama aku?" sela Randa kini kedua matanya dibanjiri air mata.

"Iya, Abang benci sama kamu!" ujar Angga lantang. Matanya memerah menatap Randa.

Randa menyeka air matanya kasar. "Maafin aku, Bang."

"Bukan sama Abang yang harus kamu minta maaf, tapi sama anak kamu, Da!" ujar Angga tegas. Lalu menyuruh Randa keluar dari rumah. Menutup pintu bahkan menguncinya. Untung saja Ibu singgah di rumah kerabat. Jadi, tidak bertemu dengan Randa.

Angga hanya tidak ingin sakit Ibu makin parah setelah melihat Randa. Apalagi dengan kondisi Randa yang hamil. Seperti halnya beberapa tahun yang lalu. Randa pulang dalam keadaan hamil.

Dulu, Angga menerimanya dengan lapang dada. Tapi untuk sekarang, Angga tidak bisa. Rasa kecewa setelah apa yang Randa lakukan membuatnya tidak bisa bersikap baik lagi pada Randa.

Karena menurutnya Randa tidak bisa bersyukur. Memiliki keluarga yang cukup harmonis, tapi malah ditinggalkan. Memilih kembali bersama mantan kekasihnya bahkan menikah dan kini adiknya itu hamil.

"Kok kamu tega usir Randa, Mas? Apalagi dia sedang hamil," ujar Melati dengan raut cemas saat Angga masuk ke kamar.

Angga terdiam sejenak, ia menatap istrinya lalu menghela nafas kasar. Meraih kunci mobil. Lalu keluar.

Menemukan Randa yang masih berada di teras. Tengah menangis sesenggukan.

"Naik ke mobil!" Suruh Angga. Menyuruh Randa naik ke mobil pick up. Mobil yang biasanya ia pakai untuk mengantar sayur-sayuran ke kota.

Segera Randa naik ke sana. Tidak lagi bertanya. Apalagi saat Angga mengendarai mobil menuju ke arah terminal bus.

"Kamu jangan pernah datang lagi. Bikin Ibu makin sakit kalau lihat kamu!" ujar Angga tajam sebelum Randa turun. Ia enggan menatap adiknya itu.

Randa tidak membalas, menyeka kasar air matanya. Ia segera menarik handle pintu. Mendorong pintu tersebut.

Sebelum turun, Angga kembali memanggilnya lalu menyodorkan beberapa uang. "Ambil!"

Randa hanya diam menatap uang tersebut lalu menatap kakaknya.

Angga meraih tangan Randa yang terasa dingin lalu memberikan uang tersebut. Raut wajahnya masih saja dingin.

"Makasih Bang," ujar Randa pelan. Lalu turun dari mobil. Mulai berjalan menjauhi mobil.

Angga menatap adiknya dalam diam hingga menghilang dari pandangannya. Meski telah sejam berlalu, ia tetap di tempatnya. Sama sekali tidak pergi dari sana.

.

.

.

.

.

27 July 2021

Love Makes Hurt [S2-S3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang