[S2] 26. Pergi

2.7K 260 32
                                        

Dengan tangan gemetar, Randa menyentuh Arga dengan hati-hati agar tidak membangunkan putranya itu. Membungkuk untuk memberikan kecupan pada kening Arga. Sangat lama.

Hingga setetes air mata terjatuh, membuatnya kembali berdiri tegak. Menyeka air matanya kembali mengusap kepala Arga.

Menatap lamat-lamat Arga.

Karena tidak akan lagi ia bisa menatap, menyentuh dan mencium Arga setelah ini.

Isakan tangis tidak bisa ia tahan. Sekuat tenaga menahan isakannya agar tidak keluar. Menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Matanya berembun, tidak bisa menatap jelas Arga.

Menyeka kasar air matanya, ia berujar dengan suara gemetar. "Maafin Bunda, Sayang. Bunda sayang Arga... maaf," lirihnya lalu kembali mencium kedua pipi Arga.

Hendak pergi, tapi jari mungil itu menarik ujung kardigan yang ia kenakan.

Tangis Randa rasanya ingin pecah saat melepaskan jari mungil Arga. Lalu keluar dari kamar.

Tergesa-gesa keluar dari apartemen. Hanya membawa ponsel. Pukul empat pagi ia keluar dari sana.

Pergi meninggalkan Dera dan Arga.

Karena setelah ia pikirkan, apa yang dikatakan Sabian ada benarnya.

Harusnya ia kembalikan Dera pada Rere. Keduanya saling mencintai. Harusnya ia tidak menjadi penghalang bagi mereka.

Lalu Arga.

Arga adalah alasan Dera bersamanya. Dera tidak akan melepaskannya jika ia membawa Arga pergi juga. Arga pun bisa dirawat Rere jika Dera kembali bersama Rere.

Jadi, rasa bersalah Randa yang selama ini ia rasakan terhapus. Arga bisa menjadi pengganti tangisan Rere selama ini karena dirinya.

Randa yakin, Rere bisa menjadi ibu yang baik untuk Arga. Lebih baik dari dirinya.

Dengan air mata bercucuran, Randa menangis tersedu-sedu. Merasakan sesak di dadanya. Antara rela dan tidak melakukan ini semua.

Namun, ia harus bahagia, bukan?

Selama ini ia merasa tidak pernah mencapai titik itu. Titik kebahagiaan dirinya. Yang ia rasakan hanya rasa sakit, sakit dan sakit.

Randa juga ingin bahagia, walau merelakan Arga tidak bersamanya. Lagian Arga akan jauh lebih bahagia hidup bersama Dera. Hidupnya akan terjamin. Tidak seperti dirinya yang hilang arah. Tidak memiliki tujuan.

*****

Sabian yang terlelap, terbangun karena suara ponselnya yang berdering. Menggerutu kesal, ia melihat siapa yang menghubunginya di pagi buta.

Ah bahkan matahari belum nampak.

Namun, saat melihat siapa si pemanggil, ia langsung membuka lebar matanya. Jantungnya berdebar tidak karuan karena merasa terkejut dan tidak percaya.

Wanita itu...

Menghubunginya.

Segera ia menjawab dan semakin terkejut mendengar jika Randa berada di halte yang berada di depan hotel tersebut.

Tanpa mencuci muka, ia berlari keluar. Menghampiri Randa yang duduk sendirian, termenung.

Tatapan Randa begitu kosong, bahkan tidak menyadari kehadirannya yang sudah berdiri di sebelah wanita itu.

"Mira...," panggilnya pelan.

Randa mendongak. Wajah wanita itu sembab dengan kedua mata sayunya bengkak. "Aku... capek Bi," bisiknya lirih.

Love Makes Hurt [S2-S3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang