Randa menghela nafas pelan setelah mobil yang disetir Sabian tiba di depan rumah orang tua Dera. Dadanya berdebar tidak karuan karena cemas. Apakah nanti Dera mengizinkannya bertemu Arga? Dan ia juga berdebar karena tidak sabar bertemu Arga.
Melihat Sabian yang hendak turun dari mobil, ia segera mencegah membuat itu mengernyit menatapnya. "Kenapa?"
"Kamu gak usah turun."
"Lho kok?"
"Biar aku yang turun."
Sabian segera protes. "Aku ikut turun!"
"Please, Bi! Nanti kalau kamu turun, keadaan malah makin runyam!" ujar Randa pelan, tapi penuh penekanan agar Sabian mengerti keadaan saat ini. Randa hanya tidak ingin membuat semuanya semakin rumit. Sabian dan Dera tidak lagi bersahabat. Keduanya bermusuhan. Randa tidak ingin nantinya terjadi keributan.
Sabian menghempaskan punggung di sandaran jok. Menatap kesal Randa.
"Kamu jangan lama-lama!"
Randa hanya bersahut malas.
Setelah Randa turun dari mobil, Sabian berdoa jika Dera dan Arga tidak ada di rumah itu. Semoga saja mereka tidak bertemu.
Lama Sabian menunggu, ia hendak turun, tapi diurungkan saat melihat Randa mendekat lalu masuk ke dalam mobil.
Wajah wanita itu memerah. Entah karena matahari atau mungkin emosi.
"Kamu ketemu Arga?"
Gelengan pelan Randa, membuat Sabian menghela nafas lega. Tapi, ia tidak menunjukkannya. Saat ini, ia memasang ekspresi khawatir. "Kenapa? Dera gak ngizinin?"
"Aku gak ketemu Dera..." Wanita itu masih menunduk membuat Sabian lebih dekat ke arah Randa. Menunggu wanita itu kembali bicara. "Mereka gak ada di sini."
Lalu Randa menghela nafas panjang. Kedua tangannya terkepal dan gemetar menahan emosi.
Sangat marah dan ingin mengamuk. Mengetahui jika Dera benar-benar menjauhkannya dari Arga. Pria itu membawa Arga ke Jogja. Di rumah mantan mertuanya tersebut, hanya ART yang ia temui karena kedua orang tua Dera sedang berada di rumah Iyo. Menjelaskan jika Dera dan Arga tidak tinggal lagi di rumah tersebut, melainkan tinggal di Jogja.
Yang membuat Randa tidak bisa berkutik serta hilang harapan untuk bertemu Arga karena ART tersebut tidak tau letak alamat tempat Dera tinggal.
"Dera bener-bener..." Randa tidak kuasa bicara lagi, ia menggeleng pelan menahan desakan air matanya. "Aku... aku gak bakal pernah ketemu Arga lagi."
Sabian segera merengkuh tubuh Randa. Menenangkan wanita itu. "Semuanya bakal baik-baik saja. Kamu tenang, oke?"
"Gi-gimana aku bisa tenang, Bi?! Aku gak bisa ketemu anakku!" Kedua tangan Randa meremas baju kaos Sabian. Menangis tersendat-sendat dalam pelukan pria itu.
"Kamu bakal ketemu Arga. Udah nangisnya ya, Sayang?" Sabian mengusap punggung Randa.
Harusnya ia senang karena Randa tidak bertemu Arga, tapi ia juga tidak senang mendengar tangisan Randa.
*****
Suara lonceng berdenting menyentak fokus Rere yang memindahkan rangkaian bunga daisy yang baru tiba di keranjang khusus bunga tersebut. Menegakkan badannya, ia hendak tersenyum menyambut si pelanggan, tapi saat melihat siapa si calon pelanggan tersebut. Senyumnya terlukis kikuk.
Tidak menyangka Dera berdiri di toko bunga milik temannya tersebut, yang ia kelola selama setahun lebih ini.
Membiarkan pegawai lain yang menyambut Dera, ia kembali fokus pada kegiatannya. Meski tidak benar-benar fokus. Rasa penasaran menggelitiknya, meski ia berusaha menahan diri untuk tidak perlu merasakan hal tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Makes Hurt [S2-S3]
Romansa》Sequel Love Makes Hurt《 • • • Pernikahan yang Randa jalani bersama Dera rasanya sangat semu. Mereka memang menjadi orang tua yang baik untuk putra mereka. Arga. Namun, untuk menjadi sepasang suami istri, mereka belum melakukan yang terbaik. Hing...
![Love Makes Hurt [S2-S3]](https://img.wattpad.com/cover/263665682-64-k297871.jpg)