[S3] 1. Belum Waktunya

2.5K 187 14
                                        

Helaan nafas kasar dihembuskan begitu saja saat melihat benda pipih di hadapannya. Duduk terkulai lemas di atas kloset. Menatap kosong benda di tangannya.

Tiga tahun lamanya pernikahannya dengan Sabian sudah terjalin. Memilih menunda terlebih dahulu karena ingin menghabiskan waktu berduaan.

Randa memasang implan KB untuk mencegah kehamilan selama tiga tahun dan tiga bulan yang lalu melepasnya. Karena ingin memiliki anak.

Tapi, hingga saat ini, ia tak kunjung hamil.

Entah sudah berapa kali ia melakukan pengecekan.

Pintu kamar mandi terbuka, Sabian yang baru bangun masuk. Menatapnya dengan heran, lalu tatapannya turun ke tangannya yang masih memegang test pack.

Pria itu menghela nafas pelan. Pasti jengah dengan tingkahnya yang hampir tiap minggu membeli benda tersebut lalu mengeceknya.

Berdiri dari tempatnya duduk, membiarkan pria itu buang air.

"Sampai kapan sih kamu mau lakuin itu?"

"Sampai aku hamil." Randa membuang test pack tersebut ke dalam tempat sampah.

Sabian menaikkan celananya, membasuh wajahnya lebih dulu lalu menatap Randa. "Belum waktunya kita dikasih. Kamu yang sabar." Tersenyum. Mencoba menenangkan istrinya yang cemberut. Merangkul pundaknya dan membawanya ke kamar.

"Makanya kita harus sesering mungkin bikin biar jadi," bisiknya seduktif di kuping Randa. Hendak mencium pipi Randa, tapi wanita itu mendorongnya pelan.

"Aku mau bikin sarapan. Mending kamu mandi. Emang kamu gak mau kerja?"

Sabian menghela nafas kasar, kembali menarik Randa bahkan membanting tubuh Randa ke atas kasur. Membuat Randa memekik kaget. "Bi!"

Sabian tertawa, mulai memberikan Randa kecupan ringan di leher serta pundak Randa yang hanya mengenakan baju tank top.

"Emh Bi..." Randa mendorong pelan Sabian agar pria itu tidak menindihnya. "Aku harus bikin sarapan."

Setelahnya terbebas dari Sabian, keluar dari kamar. Tidak lupa menyuruh Sabian agar cepat mandi.

Mulai membuat sarapan. Hanya berupa nasi goreng serta telur ceplok dan juga teh hangat untuk Sabian.

Tidak beberapa lama pria itu telah selesai mandi. Mengenakan kemeja dan celana berbahan kain. Penampilannya begitu rapi.

"Nasi goreng lagi?" tanyanya membuat gerakan Randa yang menaruh nasi goreng ke atas piring berhenti.

"Emang kenapa? Kamu gak suka?" tanyanya ketus seraya menyimpan kembali piring tersebut lalu melenggang masuk ke kamar.

Sabian menghela nafas pelan. Ia hanya bertanya? Kenapa wanita itu tersinggung.

Segera berdiri, menyusul Randa yang tengah membereskan ranjang. Merapikan seprei.

Memeluk Randa dari belakang, mulai menenangkan Randa. "Yang, jangan marah dong. Aku kan cuma nanya."

"Kamu tuh kayak gak ngehargain masakanku." Randa mengusap air matanya, lalu melepaskan tangan Sabian yang merengkuhnya.

"Gak ngehargain gimana sih? Aku kan cuma nanya?" ujar Sabian lembut seraya menarik tubuh Randa agar menghadap ke arahnya.

"Tapi pertanyaan kamu itu kayak gak ngehargain aku tau!" sentak Randa menepis tangan Sabian yang mengelus pipinya.

"Ya maaf, Yang. Kamu kenapa sih sensi banget? Lagi mau datang bulan ya?" Sabian hendak meraih wajah Randa agar menatap dirinya, tapi tangan wanita itu kembali melayang, ingin menepis tangannya, tapi malah mengenai hidungnya.

Love Makes Hurt [S2-S3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang