[S2] 14. Obrolan Singkat

2.3K 230 16
                                        

Randa menghela nafas panjang sebelum membuka pintu di hadapannya. Hendak membuka pintu tersebut, tapi lebih dulu terbuka dari dalam. Dera yang membuka pintu tersebut.

Lalu mengambil alih kresek dari tangannya, kemudian menyuruhnya masuk ke kamar.

Menyadari keterdiaman Randa membuat Dera menegur dengan suara pelan.

"Kamu kenapa?"

Randa yang sedang menyuap Arga tidak langsung menjawab. Mengelap sudut bibir Arga yang kotor akibat kecap, lalu menatap Dera. "Emang kenapa?"

"Dari tadi kamu diem." Tatapan Dera khawatir. Ekspresi Randa sedari tadi begitu murung. Ia khawatir siapa tau saja Randa bertemu Gibran lagi.

"Aku gak pa-pa." Randa tersenyum tipis lalu kembali berpaling pada Arga, menyuap putranya itu.

"Abis ketemu Gibran?" tanya Dera pelan yang langsung di gelengi Randa.

"Terus mukanya kenapa murung gitu?"

Randa menghela nafas pelan, lalu kembali menatap Dera. Tersenyum lebar seraya memperlihatkan giginya. "Aku gak pa-pa!" ujarnya pelan, tapi penuh penekanan.

"Itu ada cabe nyelip di gigi mu." Dera tertawa pelan menunjuk gigi Randa.

"Masa sih?" Randa menggerakkan lidah menyapu gigi bagian depannya. Tapi, tidak ada yang menjanggal, ia pun tersadar jika Dera bohong.

Pria itu tertawa puas membuatnya kesal lalu memukul lengan Dera.

"Astaga! Arga! Tolongin Ayah, Bunda ngamuk nih!" teriak Dera masih tertawa meminta pertolongan pada Arga yang langsung berdiri. Ikut tertawa. Bukannya menolong malah ikut memukul Dera seperti yang dilakukan ibunya.

Momen keluarga kecil itu terlihat begitu bahagia saat Randa ikut tertawa karena Arga membantunya memukul Dera.

Dan momen itu tidak luput dari mata Mama yang ikut tersenyum melihat kebahagiaan keluarga kecil itu.

*****

Randa keluar dari kamar mandi usai buang air kecil. Tidak melihat kehadiran Dera dan Arga membuatnya mengernyit heran. Kemana dua laki-laki itu?

"Dera keluar beliin Arga es krim sekalian bawa Arga juga." Sahutan tersebut membuat Randa mengalihkan tatapan pada Mama mertuanya.

Tersenyum canggung, ia mengangguk pelan seraya melangkah mendekati Mama mertuanya. "Em... Mama butuh sesuatu?"

Mama tidak langsung menjawab, yang membuat Randa tersenyum kaku.

"Bisa kupasin apel buat Mama?"

Randa langsung menjawab. "Bisa Ma. Bisa." Lalu duduk di kursi sebelah brankar. Mulai mengupas kulit apel. Terlalu fokus mengupas kulit apel hingga ia tidak mengajak mertuanya berbincang.

"Udah setahun ya kamu dan Dera nikah?"

Randa menegakkan kepala lalu mengangguk. "I-iya Ma."

"Mama merasa sikap Dera makin dewasa setelah punya anak. Dia gak jahil lagi kayak dulu."

Randa hanya mampu mengangguk menyetujui perkataan Mama. Lalu memberikan apel yang sudah dipotong dan ditaruh di atas piring pada Mama.

"Makasih," ujar Mama yang dibalas senyum tipis Randa.

"Kamu dan Dera udah berapa lama kenal?" Mama memakan apel tanpa melepas tatapannya dari Randa.

Mengkerutkan kening mencoba mengingat sudah berapa lama ia mengenal Dera. "Kurang lebih sembilan tahun, Ma."

Mama mengangguk sembari mengunyah. "Ada gak perbedaan sikap Dera saat jadi temen kamu dan saat dia jadi suami kamu?"

Lagi-lagi Randa mengangguk. Mama tersenyum tipis. Menatap lurus Randa. "Randa jaga Dera ya? Sekarang peran Mama digantiin kamu. Dulu Mama yang ngurusin Dera, tapi sekarang kamu."

Love Makes Hurt [S2-S3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang