[S3] 10. Pencitraan

1.7K 181 16
                                        

Randa tidak mengacuhkan kehadiran Sabian yang baru pulang dari kantor saat jam makan malam. Pun tidak menawari suaminya itu makan. Karena sejak Sabian mengatakan jika masakannya hambar membuatnya tidak pernah masak untuk pria itu. Hanya membeli makanan di luar. Dan sejak pertengkaran mereka, saat Sabian menuduhnya selingkuh, membuat hubungan mereka semakin dingin.

Mendengar langkah kaki mendekat membuat Randa tetap melanjutkan makannya. Karena bosan membeli makanan dari luar jadi malam ini ia masak dan sepertinya anaknya menginginkan makanan yang ia buat. Menyukai makanannya. Tidak seperti ayahnya.

Ayahnya yang kini duduk di sebelahnya. Hendak meraih mangkuk sayur sup, tapi dengan cepat ia menarik mangkuk tersebut lalu membalas tatapan Sabian yang mengernyit. "Masakanku rasanya hambar. Mending kamu pesen makanan," ujar Randa. Lalu tangannya pun meraih dua piring lagi berisi ikan goreng serta sambal mendekat ke arahnya.

Sabian melongo melihat tingkah Randa. Apa istrinya itu masih marah? Padahal sudah berlalu beberapa hari pertengkaran mereka. "Mir, kamu masih marah?"

Randa hanya diam, tetap mengunyah. Akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat. Ia tidak lagi mengalami mual serta muntah. Menambah nasi ke atas piringnya lalu memakannya. Tidak mengacuhkan ekspresi frustasi Sabian.

Sabian mendengus pelan, lalu merogoh ponselnya. Mulai memesan makanan. Bisa saja ia memaksa agar Randa memberikan makanan tersebut, tapi ia enggan bertengkar lagi dengan Randa. Sangat lelah jika harus bertengkar lagi padahal pertengkaran sebelumnya belum juga selesai.

"Kamu gak pernah ngobrol lagi kan sama tetangga di depan?" tanya Sabian tajam. Tidak suka jika Randa terlalu dekat dengan pria yang bernama Farzan itu. Yang menyebabkan mereka bertengkar beberapa hari yang lalu.

Randa hanya diam membuatnya menggeram kesal. "Mir..." Perkataan Sabian berhenti saat Randa merebut ponselnya lalu wanita itu membuka kamera kemudian meletakkan di depan Sabian.

"Mending kamu ngaca sebelum nuduh aku selingkuh!" tekan Randa menatap tajam Sabian. Lalu berdiri. Membereskan piring dan gelas kotor miliknya.

"Masih ada tuh. Mending kamu makan. Jangan lupa cuci piring sekalian semuanya." Usai mengatakan hal tersebut Randa berlalu, masuk ke dalam kamar meninggalkan Sabian yang mendengus kesal. Membatalkan pesanannya lalu memakan masakan Randa.

Lebih enak dari sebelum-sebelumnya. Atau karena dia lapar jadinya enak?

*****

Masuk bulan keenam kehamilannya membuat Randa memutuskan untuk masuk ke kelas senam bagi para ibu hamil. Dari sana juga bisa merilekskan badan dan pikirannya. Juga tidak merasa bosan karena tinggal di apartemen terus menerus.

Melakukan tiga kali dalam seminggu. Sudah cukup bagi Randa.

"Sudah berapa bulan Mbak?" Randa mengukir senyum saat ada seorang ibu hamil yang bertanya padanya. Sepertinya masih begitu muda.

"Enam bulan. Kalau Mbak sendiri?"

"Ah tujuh bulan Mbak. Ini anak pertama. Kata mertua harus banyak gerak, ikut senam seperti ini biar nantinya anaknya cepat keluar." Logat khas kota tersebut sangat kental keluar dari wanita muda tersebut.

"Kalau saya anak kedua. Memang sih harus banyak gerak kalau udah hamil tua."

"Kalau boleh tau jenis kelaminnya nanti apa?"

"Perempuan." Randa kembali tersenyum, apalagi saat wanita muda itu memujinya. Katanya wajahnya terlihat cerah karena mengandung bayi perempuan.

Kedatangan suami ibu hamil tersebut membuat percakapan mereka berhenti. Pamit pada Randa.

Randa mengamati keduanya saat sang suami dengan hati-hati menuntun istrinya berjalan. Menghela nafas kasar lalu menunduk untuk mengusap perutnya.

Randa belum ingin pulang karena masih begitu lelah, jadi ia memilih beristirahat sejenak. Duduk di bangku yang tersedia di tempat tersebut.

Dan sepertinya Randa menyesal karena ingin tinggal di sana lebih lama.

Adanya sosok Gibran yang berjalan ke arahnya membuatnya ingin segera beranjak.

Bukannya Randa belum berdamai dengan keadaan. Tapi, ia tidak ingin lagi berurusan dengan Gibran. Bahkan berteman pun karena tidak ingin nantinya Sabian tau dan kembali menuduhnya selingkuh.

"Randa..." Randa tidak jadi jadi berdiri karena Gibran berdiri di hadapannya. Ia mendongak menatap Gibran. Tatapan pria itu tertuju pada perutnya lalu kembali menatap wajahnya. "Perut lo udah gede."

"Udah enam bulan."

"Kesini sendiri?" Randa mengangguk pelan. "Nungguin Sabian jemput?" Kali ini Randa hanya diam.

Gibran tersenyum kecil entah apa arti senyum pria itu.

"Lo ngapain di sini?" tanya Randa untuk mengalihkan topik pembicaraan.

"Jemput istri gue. Gue duluan?" Gibran beranjak pergi meninggalkan Randa yang masih mengamati pria tersebut. Masuk ke salah satu ruangan dan tidak berapa lama keluar dari sana bersama seorang ibu hamil.

Sepertinya hanya Randa yang tidak dijemput suaminya.

*****

Richel merasa heran dengan sikap Gibran yang tiba-tiba manis. Padahal tadi marah-marah saat ia menelepon minta dijemput. Lalu sekarang menggandeng tangannya seraya merangkul pundaknya. Tidak lupa dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

Mereka keluar dari ruangan tersebut. Lalu berhenti saat menjauh beberapa dari ruangan tersebut. Gibran menoleh ke belakang, membuatnya juga ikut menoleh.

Mata Richel memicing mencoba melihat jelas wanita hamil yang sedang menunduk sedang duduk tidak jauh dari posisi mereka.

Lalu pria itu kembali menatapnya. "Kamu tunggu sebentar." Kemudian melangkah menjauhi dirinya mendekati wanita itu.

Richel mengenal wanita itu atau lebih tepatnya tau wanita itu.

Wanita yang pernah menjadi kekasih Gibran yang membuat Gibran susah move on.

Tangan Richel meremas tas yang ada di tangannya. Apalagi saat melihat Gibran yang agak memaksa wanita itu agar diantar pulang. Dan pada akhirnya wanita itu menyetujui. Berjalan lebih dulu dan Gibran di belakang seakan mengawasi wanita tersebut.

Apa Gibran tadi bersikap manis hanya ingin melakukan pencitraan di depan wanita itu?

Yang kini tersenyum tipis padanya.

Meski perasan Richel mendadak gundah, tapi ia tetap tersenyum.

.

.

.

.

.

22 July 2021

Love Makes Hurt [S2-S3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang