Usai Sabian bertanya kabar Randa, hening melingkupi meja tersebut.
Noah menatap Dera dan Sabian secara bergantian, begitupun Steven.
Gibran yang tadinya acuh tak acuh kini menatap kedua pria itu.
Dengan senyum tipis Dera menjawab dengan santai. "Kabarnya Randa baik."
Mengangguk pelan, Sabian menunduk lalu meneguk americano-nya.
"Oh iya anak lo cowok kan, Der?" tanya Steven yang diangguki Dera. Lalu beralih pada Sabian. "Anak lo cewek atau cowok?"
"Cewek. Kenapa?" tanya Sabian.
Steven bertepuk tangan lalu berseru. "Cocok. Kalau mereka gede nanti, kalian jodohin tuh biar kalian jadi besan!"
Sabian dan Dera tertawa hampa. Tatapan keduanya bertemu, tapi secepatnya terputus. Sementara Noah hanya mampu menghela nafas lelah. Steven semakin memperkeruh keadaan saja.
"Jangan sampai..." Gibran yang sedari tadi terdiam akhirnya bicara. Ekspresi pria itu terlihat santai.
"Hah? Kenapa?" tanya Steven.
Gibran mengendikkan bahunya cuek. "Bahaya. Kalau mereka besanan, bisa aja bakal terlibat affair. Right?"
Sabian menghela nafas kasar membuang pandangannya, enggan menatap bajingan itu. Sementara Dera menatap tajam Gibran. Kedua tangannya yang ada di atas pangkuannya terkepal kuat.
Gibran meraih bungkus rokok Steven lalu membukanya, menarik sebatang rokok. Merasa semua tatapan tertuju padanya, ia kembali menegapkan kepalanya. "What? Dokter juga manusia kali. Biasa kalau ngerokok." Lalu menyelipkan sebatang rokok tersebut di bibirnya.
Meski tau tatapan mereka bukan karena ia merokok, tapi karena perkataannya.
"Di sini bukan smooking area. Kalau lo mau ngerokok mending di luar, " ujar Noah menegur Gibran.
"Kalau bisa langsung pulang aja," sahut Sabian dengan nada cuek, tanpa menatap Gibran.
"Tapi si bangsat itu pasti mau besanan sama Dera dan Randa biar bisa terlibat affair dengan Randa. Toh Randa bakal gak nolak."
Suasana semakin memanas. Sekarang Gibran terang-terangan ingin memulai pertengkaran di antara mereka.
"Ran, jangan mulai!" desis Noah menatap tajam Gibran yang masih acuh tak acuh, kini mematikan rokoknya yang hanya dihisap tiga kali.
"Gak usah bacot lo anjing," sahut Sabian pelan. Tatapannya tajam menghunus Gibran.
"Gue kan punya mulut. Suka-suka gue mau ngebacot, ini mulut gue bangsat" balas Gibran sengit.
"Tapi mulut lo udah keterlaluan Ran!" Tatapan Gibran tertuju pada Dera. "Karena lo dokter, mending lo jahit tuh mulut lo biar berhenti ngebacot!"
Suara tepuk tangan mengalihkan ketegangan diantara Sabian, Gibran, Dera. Ketiga pria itu menatap Steven yang bertepuk tangan heboh. Begitupun Noah.
"Gila! Gak nyangka aja Randa bisa bikin kalian saling hina gini? Come on man! Masih banyak cewek di luaran sana. Lebih cantik, lebih seksi, lebih baik dan tentunya gak munafik. Bener kan?"
Rasanya Dera ingin menghajar Steven yang memasang ekspresi polos lengkap dengan cengiran lebar.
"Ya, banyak cewek di luar sana, terus kenapa lo malah demen cowok?" sarkas Dera. Senyum sinis terbit di bibirnya saat melihat Steven terhenyak.
Begitu pun Noah terhenyak saat menyadari lirikan Dera.
Steven yang tadi begitu santai dan menebar senyuman menyebalkan kini berubah datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Makes Hurt [S2-S3]
Romance》Sequel Love Makes Hurt《 • • • Pernikahan yang Randa jalani bersama Dera rasanya sangat semu. Mereka memang menjadi orang tua yang baik untuk putra mereka. Arga. Namun, untuk menjadi sepasang suami istri, mereka belum melakukan yang terbaik. Hing...
![Love Makes Hurt [S2-S3]](https://img.wattpad.com/cover/263665682-64-k297871.jpg)