Terjadi keheningan di dalam mobil tersebut. Di antara mereka bertiga sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Gibran yang fokus menyetir. Randa yang fokus melamun, menatap ke arah luar jendela. Sedangkan Richel dengan pikirannya.
Richel melirik Gibran yang tetap fokus menyetir, lalu ia menoleh ke belakang menatap Randa. Sebelum masuk ke mobil tadi, mereka sudah berkenalan. Sudah Richel duga jika wanita ini adalah Randa. Mantan kekasih suaminya.
"Kandungannya sudah berapa bulan?"
Randa tersentak, ia segera menatap ke arah Richel. Ikut mengukir senyuman. "Ah enam bulan."
"Kalau saya delapan bulan. Jenis kelaminnya laki-laki. Kalau anak kamu jenis kelaminnya apa?" balas Richel kembali mengukir senyuman.
"Em perempuan."
Richel mengangguk pelan menatap perut Randa lebih dulu lalu menatap Randa. "Pasti nantinya cantik kayak ibunya."
Randa tersenyum, menggumam kata terima kasih. Karena melihat Richel ingin menghidupi suasana yang hening, maka ia pun melakukan hal yang sama. "Anak kamu juga pasti cakep..."
"Kayak Papanya, ya?" sela Gibran. Melirik spion tengah untuk melihat Randa yang langsung bungkam.
Richel menatap Gibran lebih dulu lalu menatap Randa. Kembali mengukir senyuman pada Randa.
"Nanti kalau udah gede bisa ya sekolahnya bareng-bareng," ujar Richel yang merujuk pada anaknya dan anak Randa.
"Hm iya."
"Bisa jadi temen mereka... em atau bisa jadi jodoh." Richel tertawa geli karena ucapannya sendiri. Anak mereka belum lahir tapi sudah membicarakan jodoh.
Randa ikut tertawa merasa cukup terhibur dengan perkataan Richel. Membayangkan bagaimana jika anaknya dengan anak Gibran berjodoh. Bisa-bisa Sabian mengamuk. Yang ada Sabian dan Gibran bertengkar lagi.
"Ya gak pa-pa sih kalau sikap anaknya Randa gak kayak ayahnya," sahut Gibran suasana hangat tadi berubah menjadi dingin, apalagi saat Randa kini menatap Gibran dengan pandangan tersinggung.
Randa menghela nafas pelan, lalu kembali menatap Richel yang tersenyum canggung. Ia balas tersenyum kemudian berujar. "Mudah-mudahan anak kamu gak kayak Papa-nya ya?"
Gibran mendelik kesal pada Randa yang tertawa, apalagi saat Richel ikut tertawa. Tapi, istrinya itu langsung terdiam saat menyadari lirikan tajamnya.
*****
Gerakan jari Randa yang menggulir layar ponsel berhenti. Tangannya bergetar pelan, kedua matanya memanas saat melihat foto di depannya saat ini.
Anaknya sudah besar....
Apalagi saat memutar sebuah video yang diunggah akun facebook yang ia stalk dari kemarin tersebut.
"Aga sekarang udah sekolah ya? Sekolah di mana?" tanya Melati, hanya suaranya yang terdengar karena fokus kamera tertuju pada Arga yang sedang duduk seraya memakan kue.
"Kinder Joy!" seru Arga seraya tersenyum ke arah kamera.
"Lho? Itu kan merk makanan?" tanya Melati heran.
Arga terkikik. "Kata Ayah sekolah Aga di singkat aja soalnya ngomongnya susah."
Randa menyeka air matanya, kembali lagi memutar video lain.
"Aga udah pintar baca gak?"
"Udah dong!" Anak lelakinya itu berseru bangga dan membaca sebuah kalimat yang ditunjukkan Melati.
"Pintarnya Aga!" Puji Melati. Arga langsung tersenyum bangga.
"Iya dong! Tante Melati harus kasih Aga hadiah!"
"Lho kenapa dikasih?"
"Karena Tante nyuruh Aga membaca terus puji Aga. Aga gak terima kalau dipuji doang!" Wajah Arga merengut lucu yang membuat orang-orang di sekitar sana berseru gemas.
Begitupun Randa. Seraya menyeka air matanya. Kembali menggulir turun, tapi tidak ada lagi foto ataupun video Arga.
Mengusap perutnya, ia kembali menatap foto Arga yang menyengir. "Dek, lihat deh. Abang Arga udah gede. Udah sekolah, bisa baca lagi. Nanti Adek kayak gitu ya? Pinter kayak Abang," ujarnya dengan suara bergetar. Kembali menyeka air matanya.
Ia masuk ke messenger room. Dengan perasaan gelisah dan gundah, ia ingin mengirim pesan pada Melati. Tapi, perasaan takut menghantuinya.
Apalagi mengingat jika hubungannya dengan keluarganya regang. Ibu dan Angga marah padanya karena pernikahannya dengan Sabian.
Randa mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan. Segera beralih ke aplikasi pemesan tiket pesawat.
"Kamu ngapain?" Randa tersentak, ia segera menyeka air matanya. Balas menatap Sabian yang baru masuk ke kamar. "Kamu abis nangis? Kenapa?"
"Gak usah sok peduli!" desis Randa segera berdiri. Hendak keluar dari kamar, tapi suara Sabian mengurungkan niatnya.
"Tadi kamu pulang naik apa?" tanya Sabian, mengetahui jika istrinya hari ini ada jadwal senam untuk ibu hamil.
"Kamu tau hari ini aku jadwal senam, tapi gak ada niat buat jemput." Randa berujar sinis membuat Sabian menghela nafas kasar.
"Kenapa sih kamu ngajak berantem mulu? Aku capek tau gak, kalau kamu kayak gini terus."
Tatapan Randa berubah datar pada Sabian yang mengerang frustasi. "Terus kalau kamu capek, kamu mau apa?"
Sabian menatap Randa dengan kening mengkerut. "Kamu ngomong apa sih?"
"Aku juga capek Bi," ujar Randa lirih. Kini tatapannya sendu. "Aku capek..."
"Ya kamu istirahat." Kemudian Sabian melengos masuk ke kamar mandi meninggalkan Randa yang tatapannya berubah kosong.
.
.
.
.
.
.
23 July 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Makes Hurt [S2-S3]
Romantik》Sequel Love Makes Hurt《 • • • Pernikahan yang Randa jalani bersama Dera rasanya sangat semu. Mereka memang menjadi orang tua yang baik untuk putra mereka. Arga. Namun, untuk menjadi sepasang suami istri, mereka belum melakukan yang terbaik. Hing...
![Love Makes Hurt [S2-S3]](https://img.wattpad.com/cover/263665682-64-k297871.jpg)