[S2] 41. Akhir Bahagia

4.1K 214 42
                                        

Richel melihat Malvin makan sendirian di kantin rumah sakit, ia pun menghampiri pria itu sembari membawa nampan berisi makanannya. Menyapa Malvin yang dibalas dengan anggukan.

Melihat kotak bekal berisi sandwich isi sayur dan daging membuatnya tersenyum tipis. Pasti bekal tersebut buatan Auri.

"Emang kenyang cuma makan itu doang?" tanya Richel yang membuat perhatian Malvin tertuju padanya.

"Katanya bisa ngenyangin karena Auri bikin pake cinta."

Richel tertawa geli. Malvin dengan eskpresi dan suaranya yang datar mengatakan hal yang seharusnya manis tersebut.

"Jadi, hubungan kalian sudah membaik?"

"Ya berkat kamu yang ngasih tau dia yang sebenarnya."

"Gak mau berterima kasih?"

"Thank's."

Richel tersenyum tipis lalu kembali menikmati makan siangnya.

"Asalkan kamu gak ngasih tau siapapun," sambung Malvin yang langsung digelengi Richel.

"Gak akan, Vin." Richel membuat gerakan mengunci mulut lalu tersenyum. Yang Malvin maksud tentang kondisi Malvin saat ini yang mengalami Sexual Averson Disorder. Hanya Richel dan Auri yang mengetahuinya. Malvin tak ingin banyak orang yang mengetahuinya

Malvin mengangguk pelan. Mengerti tentang tindakan Richel yang mengatakan pada Auri tentang kondisinya. Kalau saja Richel tidak bertindak, mungkin ia saat ini berstatus sebagai duda.

Tatapan Malvin kembali mengarah pada Richel yang terlihat berseri-seri. Beda dari hari-hari lainnya.

"Aku liat kamu dan Gibran kembali dekat." Gerakan tangan Richel yang memotong daging ayam berhenti, ia menegakkan kepala membalas tatapan Malvin. "Apa karena dia, makanya kamu batalin perjodohan dengan Dokter Nauval?"

"Em... aku mau kamu hargai keputusanku," sahut Richel pelan.

Malvin menghela nafas pelan. "Richel, aku udah peringatin kamu dari awal..."

"Iya. Tapi aku gak bisa nahan diri aku buat gak jatuh cinta sama dia!" sela Richel pelan, tapi penuh penekanan. Menggeleng pelan. "Aku... gak punya perasaan lagi dengan Bang Kana." Lalu membuang pandangannya. Menunduk untuk menatap makanannya.

"Bakal rumit."

"Yeah I know. Tapi... tapi Gibran bakal berjuang, katanya," cicit Richel.

Tatapan Malvin tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis wanita itu lalu ia menatap Richel. "Jatuh cinta bikin kamu bego ya?"

Perkataan bernada datar tersebut membuat Richel kembali menatap Malvin. "Makanya kamu gak bisa baca situasi dan karakter orang itu."

Richel semakin bungkam.

"Ternyata bener yang dibilang orang-orang. Cinta gak pake logika. Makanya banyak orang yang jatuh cinta berubah jadi bego, bahkan jadi gila."

Setelah mengatakan itu Malvin beranjak meninggalkan Richel yang termenung.

*****

Dada Richel berdebar tidak karuan. Padahal ia biasa ke rumah orang tua Gibran. Bebas keluar masuk di sana. Namun, situasinya saat ini beda. Ia datang ke sana bukan sebagai keponakan, melainkan kekasih Gibran.

Kedatangannya bersama Gibran ingin memberitahu keluarga tersebut tentang keinginan Gibran yang mau menikahinya.

Awalnya suasana begitu hangat, seperti biasa mereka makan siang bersama diiringi obrolan ringan. Beda halnya antara Gibran dan Arkana.

Love Makes Hurt [S2-S3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang