07|| ESKAMEL

3.4K 223 4
                                        

~Hay Call me- Yaya

Jika ada typo atau kalimat berulang-ulang mohon direfresh ulang ceritanya. Oke enjoy and happy reading gaes.🥳

°°°🥳°°°

"Bi, Mel ke toilet bentar ya kebelet banget," pamit Mel lalu berlari keluar dapur.

Dan cerobohnya Mel, saat berlari menuju toilet tak sengaja dirinya menabrak seseorang didepannya.

"Pa maa-, kak Marvin?" kaget Mel saat mendongak melihat siapa yang tak sengaja dirinya tabrak.

"Mata lo buta? HA?!" bentaknya yang membuat Mel menunduk dalam.

Marvin berdecak kesal, "goblok banget si, mata lo ditaruh mana?" menghela nafas panjang Marvin melempar sendok besi yang mendarat di dahi Mel, sontak Mel langsung meringis pelan.

"Kalau gue tau lo cuman pembawa sial dan nggak guna, mendingan lo yang MATI bukan Bunga ataupun mama. Jijik banget gue lihat muka lo di rumah ini," Marvin menjambak rambut Mel kasar, "gue benci sama lo, cewek murahan! Jual berapa lo sampai Areska mau sama cewek jelek kayak lo? atau lo kasih gratisan? HA?!"

Otak Mel berkerja dengan keras, memahami maksud ucapan Marvin, "kak aku nggak pernah macem-macem sama kak Eska, Aku nggak pernah jual diri atau semacamnya. Semua yang kakak pikir tentang aku itu salah-,"

"Diem bego," bentak Marvin tepat di wajah Mel, "ternyata dibalik wajah polos lo ini, ada jiwa jalang yang tersembunyi!"

Marvin mengatur nafasnya yang memburu, "lo kira gue nggak tau apa yang lo lakuin sama Areska sampai seragam lo sobek begitu," Marvin tertawa lepas, "murah si lo," mendorong tubuh Mel kasar hingga membentur pembatas tangga.

Mel hanya bisa diam dan menunduk, memang kalau dia bicara Marvin akan mendengarkannya? tentu tidak, bagi Marvin Mel adalah kegelapan yang dititipkan Tuhan di hidupnya. Mel menatap punggung Marvin yang menjauh, tak terasa bulir air matanya jatuh semakin deras, dengan kasar Mel menghapus cairan bening itu.

"Maafin mel, seharusnya Mel yang pergi bukan kak Bunga atau mama," tubuh Mel merosot kebawah lalu menenggelamkan wajahnya di tekuk lututnya, "semesta nggak menyambut baik kehadiran Mel,"

Mel mendongak, mengingat kejadian tempo hari, saat dirinya pulang dengan menggunakan jaket besar Areska, dan Mel yakin Marvin tau tentang seragam Mel yang robek.

Flashback on-

Setelah membasuh wajahnya Mel sedikit bernafas lega, sesak di dadanya sedikit berkurang. Mengamati pantulan wajahnya di cermin, "semaluin itu ya? sampai semua orang yang gue sayang, jijik untuk mengakui keberadaan gue?" gumam Mel sambil tersenyum miris.

Setelah memastikan bahwa tidak ada yang aneh diwajahnya, Mel keluar dari toilet dengan menundukkan. Karena tak fokus melihat depan, sekarang malah Mel merasa ia menyenggol seseorang.

"Hay..."

Mel mendongak tinggi, "Mada?"

"Kalau jalan jangan nunduk, untungnya cuman nabrak gue kalau jatuh digot gimana?" ujar Mada sambil terkekeh geli.

Entah tapi saat Mada tertawa Mel pun ikut tersenyum, Mel baru sadar diwajah Mada ada kemiripan dengan kakak laki-lakinya- Marvin.

"Lo habis nangis ya?" Mel buru-buru menggeleng kuat.

"Terus?, Mata lo bengkak," lanjut Mada yang belum puas dengan jawaban Mel. Tapi Mel hanya menimpali pertanyaan itu dengan senyuman.

Sepeninggalnya Mada, Mel yang ingin kembali kedalam kelas harus terhenti saat dengan kasar tangannya ditarik oleh Areska. membawanya untuk menjauh dari jangkauan orang lain.

EskamelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang