Adjie membawa Tari melihat-lihat aneka gaun koleksinya. Tari terpukau menyaksikan aneka mahakarya sang desainer yang membuatnya kebingungan harus memilih yang mana. Rasanya seperti mimpi jika pada akhirnya dia akan mengenakan hasil rancangan salah satu desainer papan atas Indonesia itu. Gaun-gaun koleksi Adjie pasti berharga puluhan hingga ratusan juta. Tidak ada apa-apanya dengan gaun miliknya yang dibeli bersama Rayhan dengan harga ratusan ribu.
"Tari, kamu boleh memilih gaun mana pun yang kamu inginkan," kata Adjie pada Tari yang masih terlihat takjub.
"Boleh Mas Adjie bantu pilihkan?"
Adjie mengernyit mendengar ucapan Tari. Gadis di hadapannya apa terlalu lugu atau kebingungan karena saking banyaknya pilihan? Lelaki itu tersenyum dan mengajak Tari mengelilingi manekin-manekin yang memajang gaun rancangannya yang terdiri dari berbagai model. Mulai dari yang berpotongan simpel hingga sedikit rumit dengan detail di mana-mana.
"Kalau yang ini bagaimana? Apa kamu suka?" Adjie menunjukkan gaun berwarna broken white dengan potongan mermaid, ketat di bagian dada hingga pinggul, lalu mengembang di bagian bawah.
Tari menatapnya setengah hati. Gaun yang ditunjukkan Adjie mungkin memang bagus, tapi Tari tidak menyukainya. "Maaf, Mas Adjie, saya kurang menyukai modelnya," jawab Tari jujur.
"Oke, kalau yang ini?" Adjie beralih menunjukkan gaun lain dengan potongan ball gown yang dipenuhi kristal swarovski di mana-mana.
Cantik. Pasti harganya mahal. Tapi, tetap saja belum bisa menyentuh hati Tari.
"Gaun ini merupakan salah satu karya terbaik saya. Harganya dua ratus lima puluh juta. Ibu Liliani juga memesannya untuk dipakai Miss World yang akan ke sini bulan depan." Adjie bercerita tanpa diminta.
Tari tahu siapa Liliani yang dimaksud Adjie. Dia adalah istri seorang konglomerat yang menguasai sembilan puluh persen pasar industri pertelevisian di Indonesia. Wanita yang terlihat awet muda di usianya yang sudah kepala lima itu juga dikenal sebagai salah seorang founder dan juri di ajang kontes putri-putrian.
Tari tersenyum kikuk. Dia kembali menolak pilihan Adjie. Tari juga merasa tidak enak hati. Tadi dia sendiri yang meminta Adjie membantu memilihkan untuknya. Nyatanya, tidak ada yang sesuai dengan seleranya.
Pandangan Tari jatuh pada manekin yang terletak di sisi paling ujung manekin lainnya. Perempuan itu tidak melepaskan matanya dari sana. Dia melangkah pelan menuju manekin itu. Sementara, Adjie mengikutinya dari belakang.
Tari menatap penuh kekaguman pada gaun putih dengan potongan simpel di hadapannya. Gaun berwarna putih serta berbahan sutra itu berpotongan A line dan berekor pendek. Dihiasi sedikit detail rendah di bagian lehernya yang berbentuk persegi. Lama Tari terpaku di sana.
"Boleh saya tebak kalau kamu adalah salah seorang penggemar Song Hye Kyo?" Suara Adjie mengagetkan Tari.
Tari menoleh pada lelaki itu, lantas tersenyum tipis. "Iya," jawabnya jujur.
Adjie ikut tersenyum. "Gaun ini sama dengan yang dipakai Song Hye Kyo waktu menikah, tapi versi saya, bukan versi Dior. Simpel, elegan, tapi mahal. You know lah, selalu ada harga yang setimpal untuk karya yang berkualitas."
Tari menelan saliva mendengar kalimat terakhir Adjie. Dia menyukai gaun itu, tetapi mendengar penuturan sang desainer, nyalinya menciut.
"Kalau kamu suka, ambil ini saja!" ucap Adjie lagi.
"Harganya berapa Mas Adjie?" tanya Tari dengan lidah kelu.
"Tiga ratus juta," jawab Adjie lugas.
Tari tersenyum kecut. Dia lantas membuang jauh angan-angannya untuk memiliki gaun itu. Terlalu berlebihan pikirnya. Memangnya dia siapa harus memakai gaun semahal itu hanya untuk sebuah pesta pernikahan yang diselenggarakan hanya selama beberapa jam? Belum lagi nanti entah apa penilaian Devan padanya. Bisa-bisa lelaki itu menuduhnya memanfaatkan kesempatan.
"Ayo, kita coba sekarang!" Adjie menyuruh asistennya melepas gaun tersebut dari manekin.
"Nggak usah, Mas Adjie," tolak Tari. Sekali lagi, dia merasa tidak pantas untuk kemewahan ini.
"Nggak apa-apa, kamu nggak usah malu, gaun ini sangat cocok untuk kamu. Pak Devan juga pasti menyukai pilihan kamu."
Tari masih bersikeras ingin menolak. Namun, asisten Adjie sudah menggiringnya ke fitting room. Di ruangan luas itu Tari mengganti bajunya dengan gaun mewah pilihannya dibantu oleh perempuan muda asisten Adjie.
Tari takjub sendiri melihat refleksi dirinya di kaca. Melalui kaca itu juga dia melihat asisten Adjie memasangkan veil di kepalanya. Baru fitting, tapi Tari sudah merasa menjadi pengantin sungguhan. Dia kembali teringat gaun lima ratus ribu yang dibelikan Rayhan untuknya. Gaun itu hanya remah-remah rengginang baginya kini. Mungkin nanti setelah tiba di rumah Tari akan menyingkirkannya jauh-jauh, atau membuangnya ke tempat sampah. Sebentar! Tari rasa tindakannya itu terlalu sombong. Lebih baik gaun itu dia berikan saja pada orang yang lebih membutuhkan. Entah siapa orang itu. Tari belum punya gambaran.
"Apa saya bilang, gaun ini cantik sekali dan cocok dengan kamu." Adjie tiba-tiba masuk ke fitting room dan melemparkan pujian pada Tari. "Pak Devan, silakan masuk, Pak, lihatlah calon istri Anda!"
Apa? Ada Devan? Tari sedikit kaget. Apa Devan sudah datang? Tapi, sejak kapan?
Belum sempat Tari berpikir banyak, Devan sudah muncul di hadapannya. Menatap Tari sekilas dan juga gaun indah yang melekat di tubuhnya. Hanya itu, Devan tidak berkomentar apa-apa. Berbeda dengan pasangan calon pengantin lainnya yang biasanya akan saling memuji dengan kalimat semisal, "Kamu semakin cantik dengan gaun itu." Atau, "Gaunnya cantik sama seperti orangnya."
Jangan harap kalimat tersebut akan meluncur dari mulut Devan. Lelaki itu malah keluar dari fitting room tanpa berkata apa-apa pada Tari, atau bahkan sekadar untuk berbasa-basi.
Bagas ikut melongok ke fitting room. Dia tersenyum melihat Tari. "Cantik Mbak Tari," pujinya tulus.
"Terima kasih," jawab Tari. Lelaki itu sedikit lebih hangat ketimbang Devan yang terkesan angkuh jika dilihat sepintas lalu.
Bagas lalu keluar karena Tari akan mengganti bajunya lagi. Dia ikut bergabung bersama Devan yang sedang berbicara dengan Adjie.
"Jadi acaranya akan dilaksanakan di mana, Pak Devan?" tanya Adjie pada Devan.
"Di hotel," jawab Devan singkat.
"Oh, saya pikir akan diadakan di Crystal Cruise," ujar Adjie heran seraya menyebutkan nama sebuah kapal pesiar. Dia pikir sudah terlalu mainstream untuk pengusaha sekelas Devan menyelenggarakan pesta pernikahan hanya di ballroom hotel.
"Nggak. Kebetulan saya sedang sibuk." Devan beralasan.
Percakapan mereka terputus karena Tari muncul setelah keluar dari fitting room.
"Tari, besok pernikahan kita akan diadakan jam sembilan. Nanti Bagas yang akan memberitahukan tempatnya. Jangan sampai terlambat," ucap Devan.
Tari belum sempat menjawab ketika Devan berlalu pergi setelah sebelumnya berpamitan pada Adjie.
"Mari kita pulang, Mbak Tari," ajak Bagas.
Tari mengangguk pelan, lantas mengikuti Bagas. Sementara, Devan pergi dengan kendaraannya sendiri.
====
KAMU SEDANG MEMBACA
L'amour de Paris (TELAH TERBIT) ✅️
Romance[SEBAGIAN CHAPTER TELAH DIHAPUS] Tari dan Devan sama-sama dikhianati pasangan mereka, membuat mereka akhirnya memutuskan untuk menikah. Tanpa rasa cinta. Mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang hampa, namun memilih untuk tetap bertahan atas das...
