Chapter 5

6K 402 2
                                        

Tari terbangun pagi itu dengan gaya casual sebagaimana hari-hari sebelumnya. Membuka mata yang berat, lalu menggeliat sambil merentangkan kedua tangan. Tari terkesiap saat tangan kirinya membentur sesuatu. Bukan bantal, tapi...

Tari menoleh ke sebelah kiri. Dia hampir saja berteriak saat melihat Devan sedang tidur di sebelahnya. Namun sesaat kemudian Tari segera ingat bahwa mereka sudah menikah. Tari lalu mengatur napas yang sempat sesak kala mengetahui kenyataan itu.

Devan masih tertidur pulas. Tari menatapnya lekat-lekat. Devan memang tampan. Tari mengakuinya. Tak akan cukup kata untuk menjabarkan kerupawanan paras seorang Devan. Wajahnya mewakili kesempurnaan fisik seorang lelaki. Hidung tinggi dan mancung, bibir yang tidak terlalu tipis, tapi juga tidak tebal, mata yang tajam tapi menyihir, serta rahang yang tegas terpahat begitu sempurna. Satu lagi, alisnya yang hitam dan tebal membuat kesempurnaan itu menjadi terasa begitu nyata.

Melepaskan matanya dari wajah Devan, Tari menyingkap selimut pelan-pelan. Dia masih berpakaian lengkap. Mengenakan piyama polos berwarna biru muda. Begitu juga saat Tari menggerakkan kakinya. Tidak sakit, apalagi di bagian pangkal paha. Semua wajar dan normal. Ternyata tadi malam mereka memang tidak melakukan apa pun. Tidak ada aktivitas manusia dewasa atau pun sesi kemesraan ala pengantin baru.

Masih dalam keadaan berbaring, Tari menjangkau ponselnya. Sudah lewat jam enam pagi. Pada jam segini biasanya di rumah dia sedang membantu Ratih menyiapkan sarapan pagi. Lalu, mereka akan sarapan bertiga bersama Sandra, adik perempuannya yang saat ini kuliah menginjak tahun terakhir. Tapi, kini dia berada bersama pria 'asing' tanpa tahu harus melakukan apa.

Melihat baterai ponselnya yang sudah lemah dan hanya tinggal satu persen, Tari pun bergerak perlahan-lahan untuk meninggalkan tempat tidur tanpa meninggalkan suara apa pun.

Setelah menghubungkan dengan pengisi daya, Tari memasangkannya ke sumber listrik. Dia kembali tertegun saat melihat Devan yang masih tidur. Tari bingung harus melakukan apa. Apa dia harus membangunkan Devan?

Sebelum niat itu terlaksana, Devan lebih dulu menggerakkan badan, kemudian membuka mata. Dalam kesadarannya yang belum terkumpul sepenuhnya, samar-samar dia melihat Tari sedang berdiri canggung menatap ke arahnya.

Devan mengusap mata, lalu menggeliat untuk merenggangkan otot-otot yang terasa kaku. Lelaki itu kemudian turun dari tempat tidur dan berkata pada Tari, "Aku mandi duluan, ya!".

Dia mengatakan hal itu bukan karena ingin mengajak berkomunikasi, melainkan ingin meminta izin karena dia tahu sepertinya Tari juga ingin menggunakan kamar mandi tersebut.

Tari mengangguk pelan tanpa berkata apa-apa. Seolah dengan membuka mulut aroma napasnya akan tercium oleh Devan.

Tari mondar-mandir sendiri di kamar hotel yang luas. Sedangkan, Devan membersihkan diri di kamar mandi.

'Apa yang harus aku lakukan?' Kalimat itu terus mendenging di telinganya. Dia cukup tahu tugas-tugas dasar seorang istri karena sering mendengar cerita dari teman-temannya yang kebanyakan sudah menikah. Nyatanya, situasi ini membuatnya merasa canggung.

Tanpa sengaja dia melihat koper Devan, Tari pun berinisiatif untuk mengambil baju di dalamnya. Tari tidak tahu baju yang mana akan dipakai Devan hari ini. Saat tengah memilih-milih, lelaki itu keluar dari kamar mandi dan berdiri di belakangnya.

"Sedang apa, Tari?"

Tari terkesiap. Suara Devan membuatnya kaget.

"Aku sedang mengambilkan baju untuk kamu, Dev," jawab Tari setelah menoleh.

"Nggak usah, Tar, biar aku saja."

Tari beranjak dari tempatnya, kemudian berlalu ke kamar mandi tanpa mengatakan apa pun.

Tari merasa dirinya tidak terlalu lama berada di kamar mandi. Tapi setelah selesai dia tidak menemukan Devan di kamar hotel tersebut. Sampai-sampai Tari merasa perlu untuk meyakinkan diri kalau lelaki itu memang sudah lenyap dari ruangan yang sama dengannya.

Mungkin Devan keluar sebentar, pikir Tari. Buktinya, koper tempat menyimpan baju Devan masih ada. Jadi itu artinya Devan belum pergi, kan? Lagi pula, mana mungkin dia meninggalkan Tari sendiri. Iya, kan?

Masih dengan menggunakan bathrobe, Tari berkaca sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Rambutnya ternyata sudah panjang. Dulu, Rayhan selalu memuji Tari dengan mengatakan Tari terlihat jauh lebih cantik dengan rambut panjang bergelombang sehingga wajahnya terlihat lebih bervolume.

Tari tersenyum kecut mengingat itu semua. Pujian itu tiba-tiba membuatnya merasa muak dan sangat membenci Rayhan. "Laki-laki brengsek! Bajingan! Keparat!" makinya tanpa sadar. Tari melihat sendiri wajahnya yang penuh kebencian di kaca.

Ketukan di pintu kamar mengalihkan Tari dari pikirannya mengenai Rayhan. Perempuan itu melirik ke arah pintu. Apa itu Devan? Tapi, kenapa harus mengetuk pintu? Toh, dia tinggal masuk. Bukankah pintunya tidak dikunci?

Karena ketukan itu terdengar lagi, Tari lalu melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Dugaannya tadi ternyata salah. Bukan Devan yang kembali, tapi Bagas yang datang.

"Pagi, Mbak Tari, apa sudah siap?"

"Siap apanya?" tanya Tari bingung.

"Pak Devan menyuruh saya untuk mengantar Mbak Tari ke rumah." Bagas memperjelas serta menyampaikan maksud.

"Devan? Memangnya dia ke mana?"

"Maaf, Mbak Tari, saya tidak tahu. Saya hanya menyampaikan pesan agar menjemput Mbak Tari dan mengantar ke rumah."

Jujur saja, Tari merasa kecewa oleh sikap Devan. Tapi, tak ada yang bisa dilakukannya. Mungkin nanti dia bisa meminta penjelasan saat mereka sudah bertemu.

"Tunggu sebentar, saya siap-siap dulu."

"Baik, Mbak Tari," jawab Bagas sopan.

Setelah menutup pintu, Tari memandang hampa pada koper Devan sambil mengingat dugaannya tadi. Kenapa Devan pergi tiba-tiba? Urusan apakah yang memanggilnya? Sebegitu pentingkah sampai-sampai dia tidak sempat untuk memberitahu Tari?

Tari berjalan berdampingan dengan Bagas. Tangan lelaki itu menjinjing dua buah koper. Satu milik Devan, dan satunya lagi milik Tari. Sedangkan, Tari melenggang santai membawa bucket bag yang berisi barang-barang pribadinya.

Terlebih dahulu Bagas membukakan pintu mobil untuk Tari, barulah dia kemudian memasukkan koper ke dalam bagasi. Dalam diam, Tari memikirkan Devan. Dia masih meraba-raba karakter lelaki itu. Dan, hingga sekarang semua masih samar baginya. Sejauh ini yang Tari tahu Devan tidak banyak bicara dan hanya berkata yang penting-penting saja seolah orang-orang harus membayar mahal agar dia mengucapkan banyak kata-kata.

Seharusnya Tari tidak akan secanggung ini dan kebingungan sendiri andai saja Devan bisa bersikap lebih hangat dan terbuka. Tari tidak tahu apakah Devan juga bersikap yang sama dengan orang-orang selain dirinya. Andai saja Tari tahu cara menghadapi Devan dan membangun komunikasi dengannya.

Bagas yang sudah duduk di kursi kemudi terlihat sedang menerima telepon sesaat setelah menyalakan mesin mobil. Tari tidak ingin menguping, namun mau tidak mau dia terpaksa mendengar.

"Iya, Pak, saya sudah bersama Mbak Tari. Ini sudah mau jalan. Iya, Bapak tenang saja, saya pasti akan menjaga dan mengantarnya sampai ke rumah dengan selamat. Bapak tidak usah khawatir."

====

L'amour de Paris (TELAH TERBIT) ✅️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang