Dugaan Tari ternyata salah. Arga bukan menempatkannya sebagai karyawan back office, tapi sebagai asisten pribadi atau sekretarisnya. Semua ini jauh di atas ekspektasi Tari.
"Arga, aku sama sekali nggak ada background sekretaris." Tari memberitahu. Secercah rasa kurang percaya diri timbul di hatinya.
"Nggak apa-apa kok, aku yakin kamu pasti bisa. Tapi ini beneran jadi asistenku, lho. Maksudnya, nanti kamu juga harus melakukan hal-hal yang sifatnya pribadi seperti menjemput Luna di sekolahnya. Nggak keberatan, kan?" tanya Arga untuk lebih meyakinkan. Siapa tahu Tari merasa tugas-tugas yang Arga berikan berada di luar konteks sebagai seorang sekretaris.
"Tentu saja nggak, aku suka anak-anak kok," sahut Tari cepat. Bekerja di perusahaan Arga sudah merupakan keberuntungan yang luar biasa bagi Tari. Jadi apa masalahnya kalau hanya disuruh menjemput seorang anak kecil ke sekolah lalu mengantar ke rumahnya, kemudian kembali lagi ke kantor. Sepertinya tidak sulit.
"Kalau begitu aku ke ruangan dulu ya, nanti Fani akan memberitahu lebih detail job desc kamu apa saja," ucap Arga sebelum meninggalkan Tari sendiri di ruangannya. Tadi Arga memang sudah menerangkan pada Tari tugas-tugasnya, tapi hanya secara garis besar.
"Iya, Arga," jawab Tari.
Tari tidak tahu siapa Fani yang dimaksud. Tapi, pasti sebentar lagi dia akan tahu setelah bertemu dengannya. Yang jelas, pasti dia salah satu pegawai di sini.
Tari mendudukkan diri di kursi kerja besar berwarna hitam yang kini sah menjadi tempat duduknya. Kursi itu terasa sangat empuk dibanding kursi kerja di kantornya yang lama. Bahkan, Tari merasa sambil duduk saja dia bisa tertidur kendati tidak mengantuk sekali pun.
Semua ini benar-benar baru baginya. Tari mensyukuri segalanya. Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai karyawan kubikel dengan gaji yang ala kadarnya, akhirnya Tari berhasil menduduki posisi terhormat ini. Sekretaris untuk Presiden Direktur. Semua terasa semakin sempurna setelah Arga menjelaskan secara detail apa saja yang akan dia terima setiap bulan. Tari sempat merasa sungkan dan hampir menolak begitu mengetahui nominal yang akan masuk ke rekeningnya setiap akhir bulan. Tari pikir, karena dia adalah istri Devan maka mendapat kompensasi sebesar itu. Tapi, kemudian Arga mengatakan bahwa jumlah segitu memang standar gaji sebagai seorang sekretaris Presiden Direktur di perusahaannya. Mungkin nanti Tari akan mengucapkan terima kasih pada Devan, karena atas campur tangannya juga Tari bisa bekerja di sini.
Ngomong-ngomong, di mana Devan sekarang? Apa dia jadi mengunjungi wanitanya yang katanya sedang sakit?
Tidak mungkin tidak. Tari yakin seyakin-yakinnya kalau suaminya itu ada di sana. Mungkin saja sekarang mereka sedang bermesraan, bercumbu, atau... ah, entahlah, Tari tidak ingin memikirkannya. Lagi pula, apa pedulinya?
Seorang perempuan masuk ke ruangan setelah Tari mempersilakan. Perempuan itu sedikit lebih tinggi dari Tari. Rambutnya pendek sebahu. Bibirnya tipis tapi sedikit lebar. Ada lesung pipinya. Itu Tari ketahui ketika kemudian perempuan itu tersenyum dan mengajak berkenalan.
"Hai, aku Fani, Pak Arga bilang kamu sekretarisnya yang baru."
"Iya, aku Tari." Tari menyambut uluran tangan Fani dan tersenyum tak kalah ramah.
"Dengar-dengar kamu istrinya Pak Devan, ya?" Fani bertanya lagi sambil mengamati Tari dengan pandangan menilai.
"Iya," jawab Tari dengan lidah kelu. Entah seperti apa penilaian Devan di mata orang-orang di sini. Dan, entah seperti apa pula penilaian mereka pada Tari sebagai istri Devan.
"Tari, kenapa kamu nggak kerja di perusahaan Pak Devan saja?"
Sampai di sini Tari mulai kebingungan. Entah bagaimana caranya menjawab. Logikanya, pastilah seharusnya Tari bekerja di perusahaan Devan. Dia bisa memilih jabatan apa pun yang diinginkannya. Nyatanya, Devan malah mencampakkannya ke sini. Sekarang baru terpikir oleh Tari. Kenapa Devan tidak menempatkan di perusahaannya saja? Kenapa harus di perusahaan Arga? Apa ada yang Devan sembunyikan? Atau, jangan-jangan Devan sengaja agar setiap gerak-geriknya lolos dari pantauan Tari. Ya, pasti itu. Tari sebenarnya tidak ingin berpikiran negatif. Tapi, satu-satunya hal yang masuk akal baginya adalah hal tersebut. Agar Devan bebas melakukan apa saja.
"Tari?" ulang Fani melihat Tari yang mematung.
"Eh, iya, Arga yang memintaku kerja di sini. Dan kebetulan Devan juga nggak butuh tenagaku di sana."
Fani mengangguk-angguk. "Oh iya, memang sih sekretaris Pak Arga satu minggu yang lalu baru resign, dan kebetulan kamu yang gantiin dia."
"Oh, gitu ya?" Tari hanya mengangguk.
Fani lalu menjelaskan pada Tari apa saja job desc-nya sebagai sekretaris Arga. Semuanya hampir sama seperti tugas-tugas sekretaris pada umumnya. Hanya saja yang ini lebih kompleks.
"Ada yang ingin ditanyakan, Tari?" tanya Fani setelah selesai menjelaskan.
"Sementara nggak ada. Nanti kalo ada yang membuatku bingung, aku bakalan tanya kamu kok."
Fani mengacungkan jempolnya, lalu meninggalkan Tari kembali ke ruangannya yang berada tepat di sebelah ruangan Tari.
Tari mempelajari dokumen kontrak kerja sama yang menumpuk di atas meja. Fani yang memberikan dan meminta Tari untuk memahaminya. Semua memang masih baru bagi Tari, tapi dia rasa tidak terlalu sulit.
"Lagi sibuk, ya?"
Konsentrasi Tari terpecah saat mendengar suara itu. Tari mengangkat kepalanya dan melihat Arga sedang berdiri di sisi pintu.
"Nggak kok, masuk Arga!" Tari mempersilakan.
Arga melangkah pelan mendekati Tari. "Aku mau ajak kamu ke sekolah Luna sekarang, setelah itu kita makan siang, gimana?"
"Boleh," jawab Tari, lalu melirik jam tangannya. Sudah jam setengah dua belas siang, sudah saatnya mengisi perut.
Tari lalu mengambil tas dan beranjak mengikuti Arga. Lelaki itu berjalan duluan, namun ketika sampai di pintu, dia menunggu Tari dan mempersilakan Tari keluar duluan, kemudian menutupnya.
Beberapa pegawai yang berpapasan dengan mereka menyapa Arga dengan ramah dan penuh hormat. Mereka juga memberi senyum ramah pada Tari. Tadi Arga memang sudah memperkenalkan Tari sebagai sekretarisnya pada seluruh pegawai, dan sambutan mereka sangat baik, terutama ketika mengetahui Tari sebagai istri Devan. Selain sebagai sahabat Arga, Devan sepertinya juga punya nama dan sangat populer di sini.
"Biasanya sekretaris lamaku yang menjemput Luna ke sekolah. Besok kalo kamu sendiri nggak apa-apa, kan?" tanya Arga setelah berada di mobil.
"Sendiri, ya?" Tari menggigit bibir. Bukan masalah sebenarnya. Yang jadi masalah adalah dia tidak bisa menyetir. "Arga, maaf, aku nggak bisa nyetir. Apa boleh pakai motor?"
Arga terkekeh mendengar ucapan polos Tari. "Pakai mobil saja, ya. Besok kamu perginya sama supir kantor. Kayaknya kamu perlu belajar nyetir dulu deh. Nggak apa-apa, kan? Itu buat menunjang pekerjaan kamu juga. Soalnya nanti kamu bakal sering tugas di luar. Ehm, maksudku, kita juga."
"Iya, Arga, nggak apa-apa," jawab Tari.
====
KAMU SEDANG MEMBACA
L'amour de Paris (TELAH TERBIT) ✅️
Romance[SEBAGIAN CHAPTER TELAH DIHAPUS] Tari dan Devan sama-sama dikhianati pasangan mereka, membuat mereka akhirnya memutuskan untuk menikah. Tanpa rasa cinta. Mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang hampa, namun memilih untuk tetap bertahan atas das...
