6.2

15 6 0
                                        

Pagi harinya WooSeok pergi ke rumah sakit lebih dulu karena ada jadwal mendadak, seperti biasa. Sementar si kakak tertua sudah pergi lebih dahulu, ketiga adiknya masih bersantai di rumah karena mereka semua mendapatkan jadwal libur dan diminta untuk membantu persiapan pernikahan JinHyuk yang rencananya akan dilaksanakan besok.

"Hari ini jadi nemenin calonnya mas JinHyuk ke salon dek?" tanya minKyu memastikan.

SeoHwa yang sedang berkutat dengan semangkuk sereal miliknya mendadak menghentikan kegiatannya itu. Matanya beralih menatap MinKyu yang duduk di hadapannya.

"Rencananya gitu. Kalo ada panggilan dari poli bedah mulut ya berati nggak jadi," balasnya kemudian.

"Ngapain dapet telpon dari poli beda mulut? Adek kan bukan dokter gigi spesialis."

"Dokter spesialis minta adek buat ikut operasi biasanya. Katanya bagus kalo misal nanti adek berminat buat lanjut kuliah lagi," ucapnya.

"Lanjut kuliah aja dek mending. Mas WooSeok yang sibuk aja bisa lanjut spesialis. Ayo adek mau lanjut spesialis kapan. Mumpung mas Yohan belum nikah," celetuk Yohan seraya mengambil segelas air minum.

"Pengen lanjut spesialis sih. Tapi capek kalo harus belajar lagi adek tuh sebenernya."

Yohan duduk di kursi yang ada di samping MinKyu. Tatapannya tertuju pada si adik bungsu, begitu pun dengan MinKyu.

"Mas Yohan sih nggak maksain. Tapi kalo pengen lanjut ya ayo mas bayarin. Kalo nggak pengen lanjut juga gapapa. Adek bisa sampe sini aja udah keren banget," ujar Yohan.

"Kalo kata mas MinKyu sih terserah adek juga. Toh yang bakal ngejalanin ke depannya kan adek sendiri, bukan kita. Selama pendidikan kemaren buat jadi dokter gigi aja udah stress banget kan? Mas MinKyu gamau kalo adek jadi langganan konseling mas JinHyuk lagi. Dinikmatin aja sekarang sambil dipikir," tambah MinKyu.

SeoHwa mengangguk pelan. Selama ini sebagian dari dirinya memang memikirkan akan hal itu. Setidaknya kini dia tidak lagi terbebani akan pikirannya yang satu itu.

Mereka kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Yohan asik mengobrol bersama MinKyu sambil sesekali memperhatikan ponselnya. SeoHwa asik memakan serealnya sambil membalas satu persatu pesan yang masuk ke dalam ponselnya.

"Adek hari ini ke salon sama calonnya mas JinHyuk ya," ucap SeoHwa kemudian beranjak dari duduknya.

"Duitnya masih ada nggak?" tanya Yohan memastikan.

Walaupun SeoHwa sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri katiga kakaknya tidak lantas dengan mudahnya membiarkan SeoHwa menggunakan uangnya sendiri. Setiap bulannya WooSeok, Yohan, dan MinKyu selalu menyisihkan uang mereka dan mentransfernya ke rekening SeoHwa. Bahkan SeoHwa sampai harus membuka rekening baru yang khusus diisi dengan penghasilannya sendiri supaya tidak tercampur dengan uang yang kirimkan ketiga kakaknya.

"Ada. Masih banyak cashnya. Jangan transfer pokoknya, adek nggak bawa debit yang satunya," jawabnya kemudian berlalu menuju kamarnya.

"Udah gede ternyata si bontot ya," ucap Yohan pada MinKyu.

"Gede doang bawa mobil sendiri masih ngeri."

"Dia nyebrang jalan sendiri aja bikin ngeri yang liatnya. Kadang mas Yohan juga heran ini anak bontot cantik banget, pinter juga tapi kok nggak bisa bawa mobil. Udah gitu gatau arah juga, miris kadang kalo dipikir." MinKyu mengangguk pelan, setuju dengan apa yang Yohan katakan.

"Nanti kalo kita nikah SeoHwa gimana ya mas?" ucap MinKyu tiba-tiba.

"Ya nggak gimana-gimana. Lakinya sekarang juga bagus kok. Tipe-tipe Mr.Yes yang pasti nurutin apa yang dimau SeoHwa."

In Aeternum Te AmaboCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang