3.5

21 5 0
                                        

Setelah lama memohon pada WooSeok, akhirnya hari ini papanya diperbolehkan untuk bertemu dengan SeoHwa. Mengobrol bersama di bangku taman belakang rumah mereka. Ketiga kakak SeoHwa sebenarnya tidak serta merta membiarkan SeoHwa mengobrol berdua saja dengan papa mereka  karena nyatanya mereka asik menguping di gudang penyimpanan yang berada di halaman bekalang juga. Adik tiri mereka dibiarkan bermain kuda plastik mainan milik SeoHwa di halaman depan rumah mereka.

Sepuluh menit berlalu, masih tidak ada obrolan yang mengalir diantara keduanya. SeoHwa asik memandangi langit yang cerah namun tidak terlalu terik hari ini, sesekali dia menarik napas dalam-dalam karena merasa bosan. Di sampingnya, sang papa sedang sibuk menyusun kata-kata yang tepat ketika berbicara dengan SeoHwa. Walau sudah lama tidak bertemu dia tahu betul kalau ketiga putranya itu pasti menjaga dan mendidik SeoHwa dengan baik.

"Adek sekarang kuliah dimana?" Akhirnya sebuah pertanyaan basa-basi itu meluncur membuka obrolan diantara mereka.

"Di kampus yang sama kaya mas WooSeok," balas SeoHwa.

"Jurusan apa?"

"Kedokteran gigi."

"Wahh. Hebatnya anak papa. Bangga banget punya anak kaya adek."

SeoHwa menyunggingkan senyumnya. Bukan senyum yang biasa ditampilkannya karena kini dia tersenyum getir mendengar apa yang papanya itu katakan.

"Papa nggak boleh gitu, anak papa kan ada empat. Harusnya papa juga bangga sama mas WooSeok, sama mas MinKyu, sama mas Yohan juga. Semua anak papa itu pinter dan harus dibanggakan, nggak cuma SeoHwa aja."

SeoHwa sengaja menyebutkan bahwa hanya dirinya dan ketiga kakaknya saja yang menurutnya patut disebut sebagai anak papanya. Dia tidak dendam pada anak kecil tak berdosa yang ternyata adik tirinya itu. Hanya saja hatinya mengatakan bahwa dia belum siap dengan apa yang sebenarnya terjadi.

"Maaf."

"Gapapa. Manusia memang rentan berbuat kesalahan tapi mereka cenderung menyesal di akhir. Kalau tau ujungnya cuma ada penyesalan pasti setidaknya nggak akan banyak orang-orang yang tega berbuat kesalahan."

Kim Joon tersenyum getir begitu mendengar jawaban yang putrinya itu ucapkan. Entah mengapa hatinya merasa tertohok dengan kalimat yang SeoHwa ucapkan. Di lain sisi dia juga merasa bangga bahwa kini putrinya tumbuh menjadi anak yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ketiga putranya memang benar-benar berhasil membesarkan SeoHwa dengan begitu baik.

"Papa mau balik ke Korea. Adek mau kan ikut tinggal sama papa?"

Begitu mendengar pertanyaan itu ketiga kakak SeoHwa yang berada di gudang penyimpanan rasanya ingin mengumpat dam memaki tapi yang keluar dari mulut mereka hanyalah lantunan doa supaya SeoHwa tidak meng-iyakan pertanyaan tersebut. Mereka tahu dan sadar betul kalau membesarkan dan mendidik SeoHwa tidaklah mudah. Tapi mereka rasanya tidak bisa berada jauh dari adik kesayangan mereka itu, walaupun terkadang SeoHwa gemar sekali membuat kesabaran mereka diuji. Namun ketika SeoHwa mengikuti lomba menyanyi di luar kota dan harus berpisah dengan mereka saja rasanya begitu sulit. Apalagi kalau SeoHwa sampai harus tinggal di Korea bersama papa mereka.

"SeoHwa tau kalo SeoHwa ini manja dan nggak bisa diandalkan dalam beberapa hal. SeoHwa juga sadar betul kalo SeoHwa kangen tinggal sama papa kaya dulu lagi. Awal papa mutusin buat tinggal di Korea setelah bunda meninggal itu bener-bener bikin SeoHwa sedih banget. Tapi lambat laun SeoHwa lupa kalo SeoHwa pernah sesedih itu." SeoHwa tersenyum tipis sembari menatap langit.

"Jujur, SeoHwa kecewa banget sama papa waktu tau kalo papa sebenernya udah nikah lagi dan nggak izin dulu atau bahkan ngasih kabar. Berulang kali kita minta izin sateng ke Korea buat nemuin papa tapi nggak pernah sekalipun dapet izin. Bahkan kita udah lupa gimana rasanya punya papa karena saking lamanya papa nggak pernah dateng buat berkunjung ato kasih izin buat kita Dateng ke Korea," lanutnya. SeoHwa menghela napas sebelum melanjutkan kata-katanya.

In Aeternum Te AmaboCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang