Begitu kembali dari Bali maka sudah pasti bahwa SeoHwa dan YunSeong kembali ke kesibukan mereka masing-masing. Sesuai rencana, pagi ini SeoHwa akan mulai bekerja seperti biasa setelah seminggu ini dia tidak pergi bekerja karena mengambil cuti dengan alasan ada urusan di Bali.
Seperti biasa, di pagi hari SeoHwa beserta kedua kakaknya sudah duduk di meja makan bersama. Sayangnya pagi ini SeoHwa terlihat tidak seceria biasanya. Yohan dan MinKyu yang melihat adik bungsu mereka itu hanya bisa saling bertatapan satu sama lain, bingung dengan apa yang membuat SeoHwa seperti itu.
"Kenapa lemes banget mukanya? Kurang puas liburannya?" celetuk Yohan.
SeoHwa menggeleng pelan. Dia tidak bersemangat untuk menjawab pertanyaan yang Yohan lontarkan.
"Jangan diem aja dong, mas Yohan kan gatau adek lagi kenapa, jadi jangan cuma dijawab geleng aja. Ngomong coba biar mas Yohan tau kamu lagi kenapa," ucap Yohan.
"Cape banget."
"Cape kenapa? Masih jetlag? Perasaan kamu pulang kemaren lusa, masa masih jetlag."
"SeoHwa nggak semangat soalnya hari ini nggak bisa berduaan lagi sama pacarnya. Kan hari ini YunSeong berangkat ke Manila buat pertemuan sama petinggi perusahaan," ucap MinKyu menimpali.
SeoHwa menatap MinKyu dengan kesal. Kalau saja moodnya sedang bagus pasti dia akan berselera untuk menanggapi ucapan MinKyu dengan mengajaknya berkelahi. Sayangnya sekarang ini moodnya sedang tidak bagus dan membuatnya enggan untuk bicara terlalu banyak.
"Emang bener dek?" tanya Yohan mencoba memastikannya.
"Mas Yohan pasti lupa ya kalo sekarang ini mas MinKyu suka jadi kompor kan? Jangan terlalu dipercaya, biasanya yang keluar dari mulut mas MinKyu itu bener, tapi sayangnya kali ini salah besar," balas SeoHwa.
"Ya terus kenapa kalo bukan karena mas YunSeong coba? Semalem juga kamu masih baik-baik aja tuh," ucap MinKyu.
"Gatau, nanti adek cari tau sendiri." SeoHwa beranjak dari duduknya.
"Mas Yohan anter ya?" tawar Yohan.
"Adek berangkat bareng Esa, semalem udah janjian soalnya," jawabnya cepat.
SeoHwa beranjak menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan mengambil tas miliknya. Setelah dirasa siap semua barulah dia turun kembali untuk berpamitan pada kedua kakaknya itu kemudian beranjak keluar untuk menemui EunSang.
Di luar rumah EunSang sudah menunggunya di samping mobilnya dengan seulas senyum lebar seraya melambaikan kedua tangannya dengan sangat bersemangat. Bagai tertular senyuman EunSang, SeoHwa kini tersenyum dan balik melambaikan tangannya pada sahabatnya itu.
"Esa!" serunya seraya melompat ke dalam pelukan EunSang.
"Tumben peluk-peluk gini, biasanya kalo mau Esa peluk SeoHwa nggak pernah mau tuh," ujar EunSang.
"SeoHwa lagi pengen aja, seminggu nggak ketemu Esa tuh kangen banget rasanya," ucap SeoHwa seraya melepaskan pelukan mereka kemudian turun dari gendongan EunSang.
"Oleh-olehnya mana? Masa pulang liburan tapi nggak bawa oleh-oleh."
"Mau dibawa sekarang?" EunSang mengangguk pelan.
"Kalo dibawa sekarang nggak cuma buat kita-kita aja, tapi buat semua dokter yang lagi jaga, gimana? Esa sanggup bawa semua ke rumah sakit?" tanyanya memastikan.
"Kalo gitu nanti dibawa mas WooSeok aja. Kalo misal Esa sama DongYun pengen bisa ambil sendiri ke rumah. Yuk berangkat." SeoHwa tersenyum seraya mengangguk pelan.
***
Sesampainya di basement rumah sakit SeoHwa pamit lebih dahulu pada EunSang karena harus beranjak menuju ruangan praktiknya terlebih dahulu. Semalam Haikal sempat bilang padanya kalau hari ini jadwalnya dimulai sedikit lebih awal dari jadwal biasanya yang mana itu berarti bahwa jadwal praktiknya dimulai 1 jam lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
In Aeternum Te Amabo
Fiksi PenggemarKim Seo Hwa. Anak bungsu keluarga Kim ini sangat amat dijaga oleh ketiga kakak laki-lakinya semenjak kecil hingga dewasa. Yang mana hal itu membuat SeoHwa sangat menikmati seluruh perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh ketiga kakaknya. Apala...
