6.6

11 4 0
                                        

Jika biasanya rumah keluarga Kim akan terasa tenang dna hangat di pagi hari maka sekarang ini kondisinya berbeda. Pagi-pagi sekali SeoHwa sudah disambut dengan keributan dan teriakan yang berasal dari arah dapur yang sudah pasti disebabkan oleh ketiga kakak laki-lakinya.

Alasan terjadinya perkelahian hari ini tentu saja tidak jauh beda dengan apa yang terjadi kemarin malam dimana alasan utamanya adalah karena masalah yang ditimbulkan oleh MinKyu. Masih belum selesai karena semalam MinKyu hanya bercerita kepada SeoHwa dan belum sempat membicarakan hal itu lebih lanjut besama WooSeok serta Yohan.

"Coba diterusin berantemnya. Adek pengen liat siapa yang duluan dibawa ke rumah sakit," ucap SeoHwa yang sudah bosan melihat perkelahian ketiga kakaknya.

Begitu mendengar ucapan SeoHwa, ketiganya lantas berhenti adu mulut. Entah mengapa setiap mereka berkelahi suara SeoHwa bisa menjadi sesuatu hal yang ampuh menghentikan perkelahian mereka.

"Kenapa berenti? Udah puas berantemnya? Jangan cuma adu mulut lah, mending langsung pake tangan sekalian aja biar puas. Nanti kalo udah ada yang luka kan berenti."

"Adek tuh gatau masalahnya. Mending diem aja deh," ucap Yohan menimpali.

"Mas MinKyu udah cerita semalem. Nggak mungkin adek gatau soal masalah ini. Sekarang adek tanya deh, mas WooSekk sama mas Yohan memang kasih waktu buat mas MinKyu jelasin? Enggak kan? Pantes aja salah paham terus dari kemaren, nggak selese juga. Jangan langsung nubruk kalo mas MinKyu lagi jelasin makanya," ucapnya seraya beranjak pergi dari tempatnya.

"Mau kemana?"

"Rumah om DongWook. Mau liat menantu barunya yang lagi hamil, katanya ngidma ketemu adek. Nanti kalo adek pulang udah baikan lho, nggak ada berantem adu mulut lagi," balas SeoHwa.

Di halaman depan rumahnya EunSang sudah menunggunya seraya melambaikan tangannya menyambut SeoHwa. Senyumannya yang lebar yang terlihat sangat mempesona hingga membuat SeoHwa ikut tersenyum begitu melihat wajahnya.

"Esaa." SeoHwa melambaikan tangannya kemudian berlari menuju EunSang.

EunSang merentangkan tangannya menyambut SeoHwa dengan begitu gembiranya. SeoHwa yang merasa mendapatkan sambutan langsung melompat ke dalam pelukan EunSang.

"Kangen banget sama Esa," ucap SeoHwa.

"Baru juga nggak ketemu sebulan. Tapi Esa juga kangen sama SeoHwa sih. Biasanya ada yang ngajakin makan siang bareng kalo shift siang, sebulan ini Esa makan sendiri deh jadinya."

"Ayo kita liat calon keponakan kita." EunSnag mengangguk pelan.

***

"Cie yang mau punya anak," ledek SeoHwa begitu melihat JinHyuk sedang menyirami tanaman di halaman rumahnya.

JinHyuk tersenyum lebar. Bibirnya rasanya ingin bercerita mengenai banyak hal pada SeoHwa tapi EunSang sudah lebih dulu membawa sahabatnya itu masuk ke dalam.

"Eh ada calon mantunya bunda."

"Bunda ih, kan Esa udah berulang kali bilang kalo SeoHwa udah ada yang punya. Masih aja ngotot Kali SeoHwa mantu bunda," kesal EunSang.

"Ya kan siapa tau beneran jadi menantu bunda, le. Memangnya kamu nggak mau punya istri kaya SeoHwa? Apa perlu bunda buka kartumu le?"

"Buka aja bun kartunya biar tau rasa," ucap JinHyuk menimpali.

SeoHwa memperhatikan JinHyuk dan Ibundanya, tatapannya kemudian beralih pada EunSang yang berada di sampingnya. Sosok yang ditatap SeoHwa buru-buru mengalihkan pandangannya kemudian menarik tangan SeoHwa menuju halaman belakang. Dia terlalu malu karena tingkah ibunda dan kakaknya yang berdebat mengenai kartu dirinya yang mereka ketahui, kecuali SeoHwa tentu saja.

In Aeternum Te AmaboTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang