Chaptet 32

103 8 8
                                        

"Bagaimana keadaanmu? apa sudah baikan?" tanya Yuki yang baru saja masuk kamar sambil  membawa semangkuk bubur yang baru saja ia buat.

"Sepertinya masih belum ada perkembangan" jawab Rena yang terbaring lemah diatas ranjang, sejak kemarin Rena mulai tak enak badan dan sekarang sepertinya sudah semakin parah, tubuhnya terasa lemas sekali dan langsung pusing jika dibuat bergerak

"Begitu ya, ini makanlah dulu, mungkin ini bisa membuatmu lebih baik" kata Yuki sambil duduk ditepi ranjang untuk menyuapi Rena.

"Terimakasih Yuki, maaf jadi membuatmu merawatku seperti ini" kata Rena sambil memakan bubur yang disuapkan Yuki.

"Tak perlu berterimakasih Rena, aku tak keberatan sama sekali dan yang terpenting kau harus cepat sembuh" jawab Yuki, saat Rena bilang kalau ia sedang sakit, Yuki langsung bergegas kerumahnya tak peduli kalau ia sedang dalam jam kerja.

"Apa tak apa meninggalkan pekerjaanmu?" tanya Rena, ia tau kalau saat ini Yuki masih dalam jam kerja.

"Tenang saja, di minimarket ada karyawan baru jadi aku bisa menitipkan padannya" jawab Yuki.

"Setelah ini kau kuantar kerumah sakit ya?" tanya Yuki.

"Tak perlu Yuki, aku hanya demam biasa, setelah tidur tubuhku pasti akan sembuh" jawab Rena.

"Tapi tubuhmu panas sekali" kata Yuki sambil menyentuh dahi Rena yang terasa panas.

"Tak apa Yuki, kau tak perlu khawatir" kata Rena, meski begitu terlihat sekali kalau Rena sedang tak baik-baik saja karena nada bicaranya lemah sekali.

"Baiklah kalau begitu, apa adikmu sudah tau kalau kau sakit?" tanya Yuki.

"Sudah, Jurina tadi pagi menelponku, padahal aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja, tapi dari nada bicaraku sepertinya ia sadar kalau aku sedang sakit dan dia bilang kalau ia akan pulang secepatnya" jelas Rena.

"Jurina pasti sangat mengkhawatirkanmu, tapi bukannya dia kuliah di London" kata Yuki.

"Karena itulah aku melarangnya untuk pulang karena perjalanannya sangat jauh, tapi sepertinya aku aku tak bisa menghentikannya" kata Rena.

"Tentu saja, Jurina pasti khawatir saat mendengar kakaknya sakit, apalagi sekarang kau tinggal sendiri" kata Yuki.

"Aku jadi ingat saat kau demam beberapa tahun yang lalu, saat itu Jurina masih berumur 10 tahun dan dia tak berhenti menangis seharian karena takut jika kau meninggalkannya" kata Yuki mengingat saat Rena demam beberapa tahun yang lalu yang membuatnya cukup kerepotan karena selain harus merawat Rena ia juga harus menenangkan Jurina yang terus menangis, padahal saat itu Rena hanya demam biasa.

"Diingat-ingat itu lucu sekali dan Jurina saat kecil memang cengeng sekali" kata Rena tersenyum kecil memgingat Jurina yang dulu cengeng sekali kini sudah berubah menjadi gadis yang hebat.

Saat sedang asik bicara mereka harus terhenti saat seseorang memencen bel rumah.

"Aku akan membukakan pintu" kata Yuki sambil menaruh bubur dimeja lalu bergegas untuk membukakan pintu.

"Mau apa kau kemari?" tanya Yuki memandang tak suka saat melihat siapa yang datang berkunjung.

"Yuki-san kenapa kau disini?" tanya orang tersebut yang ternyata adalah Sasshi.

"Bukan urusanmu" jawab Yuki singkat.

"Apa Rena-chan ada didalam?" tanya Sasshi.

"Dia sedang beristirahat, jadi sebaiknya kau pergi" jawab Yuki.

"Apa Rena-chan baik-baik saja" tanya Sasshi.

"Dia sedang sakit, jadi kau jangan ganggu dia" jawab Yuki sambil akan menutup pintu tapi Sasshi menahannya dan langsung masuk begitu saja tanpa menunggu dipersilahkan.

"Oi! Kau" protes Yuki karena Sasshi nyelonong begitu saja.

"Rena-chan apa benar kau sedang sakit?" tanya Sasshi yang baru memasuki kamar Rena.

"Sasshi" kata Rena melihat Sasshi yang tiba-tiba datang.

"Sudah kubilang jangan ganggu dia" kata Yuki sambil menarik Sasshi membawanya keluar kamar.

"Yuki-san aku hanya ingin melihat keadaannya" kata Sasshi.

"Lebih baik kau pulang dan jangan ganggu dia" kata Yuki dan tentu saja Sasshi tetap bersikeras untuk melihat keadaan Rena dan karena tak ingin menimbulkan keributan jadi Yuki membiarkan saja Sasshi untuk menjenguk Rena.

"Rena-chan bagaiman keadaanmu?" tanya Sasshi yang terlihat khawatir melihat kondisi Rena yang terlihat lemah.

"Aku hanya demam biasa kau tak perlu khawatir"

"Rena sebaiknya kau segera tidur" kata Yuki sambil membantu Rena memposisikan tidurnya dengan nyaman.

"Sashihara Rino-san bagaimana kalau kita keluar dan membiarkan Rena beristirahat" kata Yuki sambil berjalan keluar kamar.

"Baiklah" kata Sasshi, sebenarnya ia ingin menjaga Rena disini tapi ia memilih untuk ikut keluar agar istirahat Rena tak terganggu.

"Kau tak pulang?" tanya Yuki melihat Sasshi ikut duduk dengannya diruang tamu.

"Kalau kau sendiri?" tanya balik Sasshi.

"Tentu saja aku merawat Rena" jawab Yuki.

"Aku juga, aku juga akan merawat Rena-chan" kata Sasshi.

"Tch!" Yuki hanya mendecih kesal karena sepertinya ia masih tak suka jika Sasshi mendekati Rena

.
.
.
.
...
.
.
.
.
.
.
.
.

"Ugh!"

Rena terbangun dimalam hari karena ia merasa sangat lapar dan haus.

"Kepalaku sakit sekali" kata Rena sambil memegangi kepalanya yang pusing.

Rena melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 2 malam, karena rasa lapar dan haus tak tertahankan Rena langsung menuju dapur untuk membuat makanan.

Dengan langkah gontai Rena menuju dapur meski ia sangat kesulitan bahkan ia harus berpegangan tembok untuk berjalan.

Rena memandang Yuki yang tertidur diruang tamu, sebenarnya ia ingin meminta bantuan Yuki tetapi ia mengurungkan niatnya karena tak ingin membangunkan Yuki yang tertidur pulas jadi ia memutuskan untuk membuat makanan sendiri.

"Sepertinya demamku belum turun juga" kata Rena sambil memegang lehernya yang terasa panas.

Baru saja berjalan beberapa langkah Rena terjatuh karena tubuh lemasnya tak kuat menopang berat badanya.

GREP

Belum sempat tubuhnya menyentuh tanah seseorang sudah menahan tubuhnya.

"Sasshi" kata Rena melihat siapa yang menahan tubuhnya.

"Kamu mau kemana Rena-chan?" tanya Sasshi.

"Sasshi, kenapa kau disini?" tanya Rena.

"Aku menginap disini, aku baru dari kamar mandi dan melihatmu hampir terjatuh" jawab Sasshi.

"Begitu ya"

"Rena-chan sebaiknya kau tidur dan beristirahat saja, jika ada sesuatu bilang saja padaku"

"Terimakasih Sasshi, aku hanya ingin membuat makanan" kata Rena.

"Kamu tidur saja Rena-chan, aku akan membuatkan makanan" kata Sasshi sambil membantu Rena menuju kamarnya.

Setelah itu Sasshi membuatkan makanan dan menyuapi Rena makanan yang ia buat.

Sambil makan mereka berdua membicarakan berbagai hal, terlihat Rena yang sesekali tertawa kecil mendemgar apa yang Sasshi ceritakan dan Sasshi juga terlihat semangat  bercerita, sepertinya jarak antara mereka mulai dekat lagi.

'Meski aku tak suka dia dekat denganmu tapi aku bahagia jika kau bahagia' batin Yuki melihat kebersamaan Rena dan Sasshi dari balik pintu.

.
.
.
.
.

.
.
.

TBC

GekiWotaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang