Akane bersama dengan partnernya yaitu Kimoto Kanon sedang berada didepan gerbang tempat pemakamam umum.
"Akane-san apa kau yakin dengan ini?" tanya Kanon sambil memegang belakang lehernya yang merinding karena saat ini mereka berada ditempat pemakaman umum, apalagi jam menunjukkam tepat pukul tengah malam.
"Tentu saja aku yakin, aku sudah merencanakan ini dengan matang" jawab Akane sambil berjalan membuka gerbang yang sepertinya sudah terkunci.
"Sial, gerbangnya sudah terkunci" kata Akane melihat gerbang sudah terkunci rapat.
"Itu tandanya kita harus pulang Akane-san"
"Tidak Kanon, kita harus membawa Rena hari ini juga, jika tidak dia akan benar-benar mati" kata Akane sambil memanjat pagar pembatas.
"Tu-tunggu Akane-san" kata Kanon yang tak punya pilihan lain selain mengikuti Akane, karena ia takut ditinggal sendirian disana.
Dengan susah payah Kanon memanjat pagar pembatas karena tangannya masih belum berfungsi normal karena Jurina sudah mematahkan tangannya saat pertempuran beberapa bulan yang lalu.
"Akane-san bukannya ini sangat menyeramkan" kata Kanon memandangi pemakaman yang gelap dan sepi.
"Sudahlah, memangnya ada apa?" tanya Akane karena dari tadi ia melihat Kanon terlihat ketakutan.
"Bagaimana kalau ada hantu?" tanya Kanon dengan wajah ketakutan.
"Apa? Hantu? Aku tak menyangka orang sepertimu takut hantu" kata Akane.
"Memangnya kau tidak takut?"
"Buat apa takut, lagipula hantu itu tidak ada" kata Akane, tapi baru saja berkata seperti itu Akane langsung berteriak ketakutan saat tiba-tiba seekor kucing berlari diantata mereka.
"Kyaaaa!!!" teriak Akane sambil memeluk Kanon.
"Katanya tak takut Hantu?" tanya Kanon memandang Akane yang masih memeluknya.
"Aku tak takut, aku hanya terkejut karena kucing itu tiba-tiba lewat" jawab Akane sambil melepas pelukannya.
"Alasan"
"Sudahlah lebih baik kita segera cari makam Rena"
Setelah itu mereka mencari dimana Rena dimakamkan, cukup sulit mereka mencarinya selain karena sudah malam mereka hanya membawa satu senter kecil.
"Akane-san bersembunyi" kata Kanon sambil menarik Akane untuk bersembunyi dibelakang pohon besar.
"Kenapa memangnya?" tanya Akane.
"Sepertinya ada penjaga yang berpatroli" kata Kanon melihat penjaga yang sedang mengelilingi pemakaman.
"Memangnya buat apa dia berkeliling menjaga pemakaman" kata Akane melihat penjaga tersebut yang belum pergi juga.
"Mungkin dia mengawasi jika ada orang gila yang akan menggali makam orang" kata Kanon yang langsung mendapat tatapan tak mengenakkan dari orang disampingnya.
"Kau menghinaku ya?" tanya Akane menatap Kanon dengan wajah tak mengenakkan.
"Gomen-gomen, kukira kau tak sadar hehehe"
"Sudah ayo kita lanjut mencari" kata Akane sambil beranjak melihat penjaga yang sudah pergi.
"Akane-san,,, tunggu,,,, " kata Kanon dengan wajah ketakutan dan dari nada bicaranya ia terlihat seperti anak kecil yang mau menangis.
"Ada apa?"
"Sepertinya ada yang memegang kakiku" jawab Kanon merasakan ada yang memegang kakinya.
