Halo semua ada yang masih ingat dengan cerita ini hehehe
Sudah dua tahun lebih aku menelantarkan cerita ini bahkan aku lupa dengan kelanjutan cerita ini, karena itu chapter ini hanya side story sebelum melanjutkan cerita aslinya.
Chapter ini bersetting beberapa hari setelah pertarungan Rena vs Salt dan side story ini menceritakan sebelum 'kematian' Rena.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Didalam kamar rumah sakit yang sunyi terlihat wanita yang sedang terbujur tak sadarkan diri diatas ranjang pasien dengan berbagai alat medis yang terpasang disekujur tubuhnya guna menopang hidupnya.
Sementara itu diluar kamar pasien terlihat dua wanita yang sedang memandang kedalam kamar dengan pandangan sedih seolah tak tega melihat kondisi wanita yang sedang terbujur lemas didalam sana.
"Apa bisa bicara dengan keluarga Matsui-san?" kata dokter yang baru saja datang pada dua wanita tadi.
"Baik Dokter"
Sasshi POV
Aku tak percaya aku akan kesini lagi, tempat yang paling tak ingin kukunjungi yaitu rumah sakit, tiga hari lalu tiba-tiba kesehatan Rena-chan ngedrop hingga pingsan dan ia masih belum sadar hingga saat ini, yang bisa kulakukan hanya berdoa agar Rena-chan segera sembuh karena dokter juga seakan sudah menyerah dengan kondisi Rena-chan saat ini.
Saat ini aku dan adik Rena-chan yaitu Jurina sedang berada diruang dokter yang sedang menjelaskan kondisi Rena-chan saat ini, sungguh aku selalu ingin menutup rapat-rapat telingaku ketika mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Rena-chan dan aku sangat tak ingin mendengar hal itu.
Dokter menjelaskan kalau kondisi Rena-chan sudah parah dan tidak bisa diselamatkan lagi, mendengar hal itu aku langsung mematung seolah tak percaya dengan apa yang dokter katakan, jantungku seolah berhenti berdetak dan mulut tertutup rapat tak sanggup mengatakan apapun bahkan hanya untuk bereaksi.
Aku perlahan menoleh kesamping dan memandang Jurina yang sedang tertunduk diam sambil meremas lututnya, kulihat tubuhnya bergetar menahan tangis yang sudah tak terbendung lagi.
Beberapa saat kemudian dokter pergi setelah menjelaskan dan kami masih diam tak berkata apapun hingga beberapa saat kemudian Jurina berdiri dari duduknya.
"Aku akan melihat kondisi Onee-chan" kata Jurina sambil beranjak pergi meninggalkan ruangan, kulihat Jurina perlahan pergi dengan tubuh masih bergetar seolah menahan tangisnya.
Setelah kupikir selama ini Jurina selalu menahan tangisnya terbukti dengan kedua matanya yang memerah dan membengkak, sementara itu aku sudah tak bisa menahan tangis ku lagi sungguh aku frustasi dan bingung apa yang harus kulakukan saat ini.
"Hiks,,, Hiks,,, Rena-chan apa yang harus kulakukan hiks,,"
"Mungkin ada satu cara, aku harus membicarakan ini dengan Jurina" kataku sambil mengusap air mataku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat ini aku sedang berada di atap rumah sakit degan Jurina untuk membicarakan suatu hal yang mungkin bisa menyelamatkan Rena-chan.
"Jurina sebaiknya Rena-chan segera diopera-"
"Tidak" tolak Jurina cepat bahkan sebelum aku selesai menyelesaikan ucapanku.
"Sudah kubilang berkali-kali aku menolak jika Onee-chan harus dioperasi" tegas Jurina karena memang dari dulu ia selalu menolak kalau Rena-chan harus dioperasi.
