Season 2 : Chapter 5

102 6 68
                                        

Rena POV

Kringgg!!!

Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya aku mencoba meraih alaram yang terus berdering disamping tempat tidurku.

Aku terus mencoba meraih tapi entah kenapa aku tak bisa menggapainya seakan ada yang menahanku, selain itu aku merasakan tubuhku berat sekali seperti ada yang menindihku.

SRET!!!

"Huwaaahhh!!!"

Aku membuka selimutku, sontak aku langsung bangkit dan berteriak melihat Akane yang sedang menindihku dengan keadaan tanpa busana.

"Ren-kun,, kamu sudah bangun ternyata?" tanya Akane sambil menguap, sepertinya ia bangun karena teriakanku tadi.

"Apa yang kau lakukan disini Akane?" tanyaku yang masih shock dengan apa yang terjadi barusan.

"Aku menemanimu tidur" jawab Akane sambil memunguti pakaiannya yang berserakan.

"Sejak kapan kau dikamarku"

"Sejak kemarin malam aku tidur sambil memelukmu" jawab Akane dengan santainya.

"Apa kau sudah gila Akane?" tanyaku yang tak habis pikir dengan kelakuannya.

"Sudah kubilang aku tergila-gila padamu" jawab Akane dengan nada menggoda.

"Cepat pakai pakaianmu, kau tidur pake telanjang segala, kau tak melakukan apapun padaku kan?" tanyaku dengan perasaan was-was.

"Tenang saja Ren-kun, aku belum melakukan apapun" jawab Akane sambil memakai pakaiannya.

"Tapi jika kau ingin, bagaiman kalau kita lakukan sekarang" lanjut Akane sambil berpose sexy mencoba menggodaku.

'Sepertinya aku harus cepat mencari apartement baru'

.
.
.
.
.
.
.
.

"Ren-kun kamu mau kemana?" tanya Akane.

"Aku mau keluar dulu" jawabku sambil memakai sepatu sport milikku, aku berencana untuk jogging sebentar sekalian menghindar dari apartement ini yang diisi dengan gadis yang setiap hari berusaha menerkamku.

"Aku ikut"

"Kau disini saja, karena aku mau bertemu seseorang" jawabku sambil bergegas pergi tanpa menunggu jawabannya.

.
.
.
.
.
.
.
.
.

'Udara pagi yang sangat menyegarkan' batinku sambil menikmati udara segar ditaman sambil berlari santai menikmati pemandangan, sudah lama aku tak menikmati suasana seperti ini.

Sebenarnya aku ingin bertemu dengan Sasshi sekalian jogging guna menyegarkan tubuhku, sejak aku terbangun beberapa bulan yang lalu aku masih merasakan efeknya seperti tubuhku cepat lelah dan beberapa bagian tubuhku yang  terkadang sulit digerakkan, karena itu aku harus secara rutin berolahraga.

Setelah dirasa cukup aku memutuskan untuk beristirahat dan meneguk habis air mineral yang baru kubeli.

"Ren"

Seseorang memanggilku dan aku menoleh melihat Sasshi yang datang menghampiriku, kebetulan sekali padahal aku berniat menemuinya.

"Sasshi, kebetulan sekali padahal aku ingin bertemu denganmu" kataku.

"Benarkah? Ada perlu apa memangnya?" tanya Sasshi.

"Bukan apa-apa, hanya ingin berkunjung saja, ngomong-ngomong kau mau kemana?" tanyaku basa-basi.

"Aku ingin mengunjungi Rena-chan" jawab Sasshi yang membuatku terdiam, setelah kuingat memang jam segini waktunya Sasshi berkunjung kemakamku atau lebih tepatnya makam kosong yang bertuliskan namaku.

"Apa aku boleh ikut?"

"Tentu saja"

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Sesampainya disana Sasshi langsung mengganti bunga diatas makam dengan yang baru, seperti biasa Sasshi akan bercerita mengenai kesehariannya didepan makam sementara aku hanya diam memandangnya, ingin sekali aku memeluknya dan memberitau bahwa orang yang kau sayangi berada dibelakangmu sekarang.

Selama beberapa saat aku hanya diam karena tak ingin mengganggunya hingga akhirnya Sasshi menyudahi ceritanya.

"Mungkin itu saja Rena-chan, besok aku akan kembali lagi" kata Sasshi memyudahi ceritanya.

"Ayo kita kembali" kata Sasshi sambil beranjak pergi sementara aku menggikuti dibelakang.

"Oh ya Sasshi dimana Rino-chan?" tanyaku memulai pembicaraan.

"Dia sedang bermain dirumah temannya" jawab Sasshi.

"Dia tak sekolah hari ini?"

"Hari ini dia sedang libur" jawab Sasshi sementara aku hanya menggangguk mengerti.

"Oh ya Ren, mumpung begini apa aku boleh mampir kerumahmu?" tanya Sasshi yang membutku terkejut.

"Eh,, Mampir kerumahku?" tanyaku memastikan.

"Iya, apa tidak boleh?"

"Bu-bukan begitu hanya saja,,,,," jawabku bingung harus menjawab apa, bukannya aku tak senang, tapi sekarang aku masih tinggal berdua dengan Akane, bisa gawat kalau Sasshi dan Akane bertemu.

"Kenapa memangnya?" tanya Sasshi dan aku bingung harus menjawab apa karena jika aku menolak Sasshi pasti akan curiga dan aku yakin tujuan Sasshi ingin mampir karena ingin memastikan sesuatu.

"Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi" kataku memutuskan memyetujuinya, tapi sebelum itu aku memberi pesan ke Akane agar ia pergi ke minimarket untuk membelikan sesuatu yang tak ada disana agar Akane keluar rumah cukup lama.

.
.
.
.
.
.
.
.

Saat ini aku dan Sasshi sudah berada di depan apartementku dan kuharap Akane sudah pergi.

Dengan was-was aku membuka pintu dan sesuati yang kukhawatirkan akhirnya terjadi.

"REN-KUN!!"

Baru saja aku membuka pintu dan Akane langsung menerjang dan memelukku.

"Lepaskan Akane" kataku sambil melepaskan pelukan Akane.

Aku menoleh dan melihat Sasshi yang terlihat terkejut dan langsung menatap Akane dengan penuh kebencian.

"K-kau!!" kata Sasshi penuh ancaman dan kulihat ia mengepalkan tangannya erat-erat, karena bagaimanpun yang Sasshi tau Akane adalah penyebab dari kematianku.

"Aku akan membunuhmu" kata Sasshi sambil menyeramg Akane dengan pukulannya.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.


TBC

GekiWotaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang