Chapter 18

122 10 5
                                        

"Jadi apa kalian bisa menjelaskannya?" tanya ibu Sasshi seakan sedang mengintrogasi Sasshi dan Rena yang sedang duduk bersebelahan disofa.

"Kaa-san sebenarnya Rena adalah kekasihku" jawab Sasshi masih menundukkan wajahnya seakan tak berani menatap wajah ibunya yang terlihat sedang marah.

"Apa! kekasih?" tanya Ibu Sasshi seakan tak percaya dengan apa yang putrinya katakan.

"Benar Kaa-san" jawab Sasshi.

"Apa kalian tau kalau tak seharusnyan kalian seperti ini?" tanya Ibu Sasshi dan Rena yang mendengar itu langsung beranjak dari duduknya.

"Saya tau bahwa ini salah tapi saya sangat mencintai Sasshi dan saya ingin selalu bersamamya, jadi mohon restui hunbungan kami" kata Rena sambil menatap ibu Sasshi penuh keyakinan.

"Onegaishimasu" kata Rena sambil membungkukkan badannya.

'Rena-chan' batin Sasshi melihat Rena yang sedang memohon restu pada ibunya.

"Aku bisa berkata apa-apa sekarang, sebaiknya sekarang kau pulang dulu Matsui-san" kata Ibu Sasshi.

"Tapi-" kata Rena yang ingin menolak tapi setelah ia pikir memang seharusnya pulang dulu karena ia merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan kedua orang tua Sasshi karena sepertinya mereka masih terkejut dengan apa yang baru saja mereka lihat.

"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu" kata Rena sebelum beranjak pergi.

"Tunggu Rena-chan" kata Sasshi yang ingin menahan Rena.

"Sepertinya aku harus pulang dulu Sasshi, besok kita akan bicara lagi" kata Rena sebelum akhirnya ia pergi.

"Sepertinya banyak hal yang harus kau jelaskan" kata ayah Sasshi yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara.

Setelah itu Sasshi langsung menjelaskan mengenai hubungannya dengan Rena dan bagaimana hingga ia dan Rena bisa menjadi sepasang kekasih.

"Tapi kalian sesama perempuan dan kalian tak boleh mempunyai hubungan seperti itu" kata ibu Sasshi.

"Aku tau itu, tapi kami saling mencintai" kata Sasshi.

"Apapun alasannya kalian tidak bisa bersama" kata Ayah Sasshi.

"Kau harus memutuskan Rena" kata Ibu Sasshi yang sontak membuat Sasshi membulatkan mata terkejut.

"A-apa? putus? itu tidak mungkin, aku tak mungkin memutuskan Rena" kata Sasshi.

"Kalau begitu kau hanya punya dua pilihan, memutuskan Rena atau kami akan menjodohkanmu dengan pria pilihan kami" kata ibu Sasshi dan tentu saja hal itu membuat Sasshi terkejut.

"Apa? Itu tidak mungkin, sungguh aku sangat mencintai Rena jadi kumohon setujui hubungan kami" kata Sasshi dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, ia tak bisa membayangkan jika sampai berpisah dengan Rena.

"Kami tak peduli, jika dalam seminggu kau belum memutuskan Rena, kami akan menjodohkanmu" kata ibu Sasshi yang seketika membuat Sasshi tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Sasshi pergi menuju kamarnya tanpa memperdulikan ibunya yang terus memanggilnya.

Didalam kamar Sasshi hanya bisa menangis, ia bingung harus melakukan apa, ia tak sanggup jika harus memutuskan Rena dan dilain sisi ia tak bisa membantah apa yang kedua orang tuanya katakan.

Sasshi berpikir jika saja salah satu dari mereka dilahirkan sebagai laki-laki ia tak akan menghadapi situasi seperti itu.

Selama beberapa jam Sasshi tetap terduduk dibalik pintu sambil memeluk lututnya hingga ia mendegar handphonenya berbunyi pertanda panggilan masuk.

GekiWotaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang