Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kemarahan hanya akan memperkeruh suasana, kemarahan adalah cara sederhana untuk menertawakan penyesalan dan kemarahan hanya akan membuat kita menjadi mahkluk gila yang merasa paling benar untuk itu kendalikan amarah sebelum menyesal kemudian tersesat tak berarah.
Kejadian yang terjadi begitu cepat membuat Ghea tertegun, jujur ia benar-benar merasa jantungnya akan melompat dari tempat ketika sebuah truk hampir menggilas mereka. Jika saja Barra tak segera membanting stir ke arah lain entah sudah jadi apa mereka sekarang.
Saat ini Ghea mencelupkan kakinya di sungai tak jauh dari tempat yang hampir menghilangkan banyak nyawa. Barra terdiam, raut wajah itu penuh penyesalan namun ada hal lain yang membuat Ghea sadar Barra tidak baik-baik saja.
"Gue pernah bilang kan kalau ada apa-apa lo bisa cerita ke gue?" tanya Ghea membuka suara.
Barra menoleh, tanpa berkata-kata ia langsung merengkuh Ghea dalam dekap. Jantung yang berdetak cepat dengan dada sesak ia berusaha melepas penat.
"Gue pernah bilang kan kalau lo itu satu-satunya alasan gue bisa bahagia?" Barra balik bertanya.
Ghea mengangguk, entah sudah berapakali ia mendengar kalimat tersebut dari Barra. Awalnya Ghea kira hanya candaan yang tak semestinya ia tanggapi sampai ia sadar bahwa ucapan Barra benar-benar berasal dari titik terdalam di hatinya dengan keseriusan dan kejujuran.
"Jangan tinggalin gue ya?" imbuhnya lemah.
Ghea tak pernah melihat Barra serapuh ini sebelumnya, hati Ghea ikut teriris bersama suara yang semakin berat di telinga. Perlahan Ghea menepuk pundak Barra menyalurkan kekuatan yang ia miliki.
Dua orang terluka berusaha untuk mencapai bahagia meski ada keraguan bahwa bahagia itu hanya ada dalam fiksi saja.
"Nyokap udah tandatangan suratnya," lanjut Barra.
Ia terdiam beberapa saat, entah kata apa yang bisa ia ucap. Semua terasa sama-sama menyakitkan, bersama atau berpisah semuanya tetap memberikan luka bagi Barra dan ibunya.
Keinginan Barra untuk ibunya segera lepas dari pria gila itu sudah ada sejak lama, hidup dalam keluarga yang dikira baik-baik saja ternyata lebih mengerikan daripada benar-benar terpecah secara nyata.
Barra mengurai dekap kemudian menatap mata Ghea lamat-lamat, apakah Ghea juga akan meninggalkannya? Setiap hari Barra tak pernah tenang memikirkan bahwa semua yang ia punya perlahan lenyap meninggalkannya termasuk Ghea.
Kita tak pernah bisa membuat seseorang selalu ada bersama kita entah itu waktu atau alam yang akan memisahkan. Barra tahu mendahului takdir adalah perbuatan tercela namun ia tak ingin kesepian dalam dunia kejam meringkih memeluk diri sendiri.
"Lo nggak akan ninggalin gue kan?"
Ghea terdiam, janji adalah kalimat dusta yang akan membuatnya menjadi pengecut di kemudian hari. Hal yang paling ia hindari adalah memberi janji karena ia sendiri tak yakin di depan sana masih ada pelangi. Orang berkata setelah mendapat luka maka kita akan menemukan bahagia, sayangnya Ghea berpikir ketika ia bahagia pasti di depan sana sudah ada belukar yang menunggunya.