Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seminggu telah berlalu dan ujian pun telah selesai dilaksanakan. Semester ganjil ini adalah masa terakhir kelas dua belas bisa bersantai, setelah ini tak ada lagi nongkrong-nongkrong di kafe semua akan berganti dengan les setiap pulang sekolah. Tak ada lagi jalan-jalan weekend semua akan terganti dengan belajar untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi.
Sampai ujian selesai dilaksanakan Ghea merasa tubuhnya lemas tak berdaya, belajar jadi sangat malas dan tidak ada sedikitpun motivasi untuk melanjutkan perjuangannya. Ghea sudah kepalang kecewa dengan keadaan yang menyudutkannya membuat ia selalu merasa seperti orang tak berguna dan tak pantas untuk dihargai.
Hari ini Ghea berencana untuk mengajak Trisha bertemu untuk meluruskan permasalahan mereka, sampai kini Trisha masih tak ingin berbicara dengan Ghea. Rasanya sangat tak adil bagi Ghea hanya karena ia bercerita pagi itu maka Trisha jadi mendiaminya selama seminggu lebih.
Setelah susah payah mencari alasan untuk keluar dari rumah kini Ghea bisa terbebas dari kukungan rumah yang membuatnya sesak napas. Tentu saja sangat sulit baginya untuk meyakinkan Maya agar mengizinkannya untuk pergi ke rumah Trisha apalagi setelah kejadian penghancuran gitar semakin membuat Maya overprotektif terhadap Ghea.
Ghea mengetuk pintu rumah Trisha yang dibiarkan menganga itu, tampak lusuh dan berantakan seisi rumah seperti baru saja selesai dirampok. Barang berserakan di mana-mana, vas bunga pecah berceceran di lantai, becek lantai tampak bekas langkah-langkah menggunakan sepatu berukuran hampir dua kali lipat kaki Ghea. Mata ini tentu tak salah lihat, bingkai poto besar yang berisi poto keluarga pun ikut berceceran bahkan lebih parahnya poto tersebut seperti baru saja dirobek hingga menjadi potongan kecil-kecil. Melihat hal itu membuat Ghea tergagu, apakah ia bisa menemui Trisha dalam keadaan seperti ini apalagi jika ayahnya ada di rumah bisa-bisa Ghea akan langsung diusir.
"Permisi?" ucap Ghea kembali mengetuk pintu.
Tak ada sahutan dari siapapun bahkan sepertinya tak ada tanda-tanda bahwa di dalam sana ada orang. Ghea kembali mengetuk pintu namun tampaknya benar-benar tak akan ada yang keluar untuk menyapanya.
Ghea mengembuskan napas pasrah kemudian berbalik, mungkin hari ini ia harus mengurungkan niat untuk menemui Trisha. Baru beberapa langkah tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam rumah membuat Ghea terperanjat kaget. Hatinya berkecamuk antara memeriksa atau tetap memilih pergi.
"Sha? Lo di dalem?" panggilnya.
Masih sama, tak ada sahutan yang ada malah Ghea merasa suasana rumah itu semakin dingin dan mengerikan. Ghea tahu ini tak sopan tapi ia benar-benar takut terjadi apa-apa pada Trisha oleh karena itu ia memaksakan diri untuk memeriksa ke dalam rumah terutama kamar Trisha.
"Sha? Ini gue Ghea, lo di dalem?" Sekali lagi Ghea berkoar kemudian ia mengetuk pintu kamar Trisha yang tertutup rapat.
"Sha?"
Ghea semakin khawatir karena tak ada sahutan, perlahan ia mendorong pintu dan ternyata tak terkunci.