Chapter 3.1 - Fish It Out

119 23 8
                                        

"Aku ceroboh," gumam Aithne sambil memandangi telapak tangannya yang bersimbah darah akibat tertembus kuku-kuku yang panjang dan runcing. Disambarnya berlembar-lembar tisu dari kotak yang terletak di atas nakas.

Ia meremas bola tisu sambil mengatur napas untuk menurunkan ritme jantung yang berdetak cepat dan beralih pada Excelsis. Beberapa lembar tisu kembali tercabut dari kotaknya untuk digunakan untuk membersihkan noda merah yang menempel di tubuh putrinya dan menarik selimut. Selesai menyelimuti, ia beranjak keluar dan mematikan lampu.

Bola tisu yang sekarang berwarna merah pekat dihempas kasar ke tong sampah dekat wastafel, seolah ingin mencampakkan kemarahan dan kekesalan terhadap diri sendiri. Ia membuka keran, membiarkan cairan bening nan dingin yang mengalir deras membasuh telapak tangan, sekaligus berharap dapat menghanyutkan rasa bersalahnya karena telah melemahkan segel yang dipasang oleh Maeveen untuk menekan ingatan Excelsis. "Maaf, Maeveen ...." desahnya lirih, masih belum bisa memaafkan dirinya.

Sejam berlalu begitu saja. Aithne menatap keriput di ujung jemarinya akibat terlalu lama tersiram air. Semua kuku sudah kembali memendek. Empat luka tusukan di telapaknya juga sudah menutup sempurna, seolah luka-luka tersebut tidak pernah ada.

Ia beranjak dari bilik kamar mandi yang memenjarakannya untuk memeriksa kondisi Excelsis. Namun, sewaktu membuka pintu, wajah khawatir Excelsis lebih dulu menyambut.

"Mama ... tidak apa-apa?"

"Memangnya ada apa denganku?" Aithne berusaha membuat suaranya senormal mungkin.

"Karena sudah lima belas menit aku berdiri di sini. Kupikir Mama perlu pencahar untuk melancarkan—"

"Ssh ...!" Aithne melintangkan telunjuk di bibir Excelsis. "Jangan dilanjutkan. Aku tidak sembelit, ok?"

"Uh—hm." Seperti biasa, tatapan Aithne membuat Excelsis mengangguk pelan.

"Karena sudah bangun, siap bercerita?"

Sekali lagi Excelsis mengangguk. "Bagus. Ikut aku," ajak Aithne sambil melangkah ke ruang tengah.

Sepuluh menit kemudian dihabiskan Excelsis untuk menceritakan keanehan yang terjadi pada Lysandra yang tahu-tahu menghadiahi lima tapak mungil di perutnya.

"EG, kau sempat lihat ... bintik—atau apa pun—berwarna merah di tengkuk anak itu?"

"Aku tidak sempat memerhatikan itu, tapi kerah belakangnya ada noda merah. Tidak mungkin itu darah kan, Ma ...?"

Mata Aithne memang mengarah pada Excelsis, tapi sorotnya jelas menunjukkan ia tengah berpikir, sehingga tidak langsung menanggapi pertanyaan yang terlontar.

"Ma?" panggil Excelsis sambil mengibas-ngibas di depan wajah Aithne.

"Ikut aku." Aithne bangkit dan memberi isyarat supaya Excelsis mengikutinya.

"Kemana, Ma?"

"Memancing."

"Hah? Ini belum hari—" Excelsis mengernyit, tapi segera mengatupkan mulut sewaktu Aithne menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri. Suatu sinyal yang sangat jelas baginya untuk mengerem pertanyaan.

Aura otoriter Aithne sering membuat Excelsis merasa menjadi anak anjing yang menundukkan kepala dan melipat ekor di antara kaki belakangnya karena taring sang induk yang mengintimidasi.

Mereka berhenti di depan sebuah rak buku di ruang kerja Maeveen. Setelah memutar tuas yang disamarkan sebagai ornamen patung singa emas, salah satu rak bergeser dan sebuah tangga rahasia yang tidak pernah diketahui keberadaannya oleh Excelsis, menganga lebar untuk menelan mereka.

Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang