Chapter 9.4 - A Tree?

62 15 0
                                        

Entah berapa lama Quentine tenggelam dalam lamunannya. Ketika tersadar, sepasang mata sudah menyambut dan menuntut jawaban. Beruntung dirinya masih ingat pembahasan terakhir mereka. "Ah ... ya. Aku yang membawamu ke kamar. Kau tahu? Beratmu sekarang sama dengan anak sapi."

Kepuasan menghinggapi Quentine sewaktu berhasil mengundang cemberut di wajah Lysandra sebagai bentuk protes disamakan dengan hewan pemamah biak tersebut. Ternyata perasaan menyenangkan setelah menggoda seseorang memang diturunkan darinya. Ia tersenyum lebar hingga menampilkan geligi putih yang berderet rapi. "Satu sama."

Lysandra memperhatikan kerutan-kerutan kecil di sudut terluar mata Quentine, tanda penuaan seorang manusia. Hanya saja, ia ingin tahu manusia mana yang sanggup mengeluarkan makhluk api atau es seperti yang dilakukan orang tuanya. Apakah penyihir dalam komik atau permainan RPG yang sering dimainkan di waktu senggang memang benar-benar ada dalam dunia nyata?

Menolak percaya keberadaan para penyihir tidak lagi mudah baginya. Ini sama saja seperti menolak keberadaan Schifar dan juga orang tuanya sendiri. Sungguh durhaka jika tidak mengakui mereka. Lysandra berhenti mengunyah dan meraih kotak susu untuk ditandaskan dengan sekali teguk. "Pops—Apa kalian benar-benar manusia?"

"Hazel, apa gunanya gelas?" Quentine risih dengan cara bar-bar Lysandra yang langsung meminum susu dari kotaknya.

"Ups. Maaf, Pops. Sumpah ini ga sengaja." Lysandra cukup terkejut dengan tindakannya sendiri, bahkan bahasa kekinian yang sangat jarang keluar juga tumpah begitu saja.

"Jangan dibiasakan. Kau anak perempuan, Hazel. Bertindaklah selaku seorang putri." Quentine menghabiskan potongan roti terakhirnya. "Gunakah bahasa yang baik dan benar!"

"Maaf, maaf. Serius itu ga sengaja. Ga tahu kenapa ini jadi tegang sendiri waktu ingat makhluk api yang tadi itu."

"Hazel ...!" Quentine menyipitkan mata.

"Iya, Pops." Lysandra membuat gerakan memutar anak kunci di depan mulut seraya mengacungkan jari telunjuk dan tengah, lalu diakhiri dengan menjabat tangan sendiri. Semua bahasa tubuh yang berarti sebuah janji akan mengunci bahasa kekinian.

Mengetahui sifat putrinya, Quentine hanya berdecak singkat dan menggeleng pelan sebelum menyeruput habis tehnya yang sudah dingin.

"Pops, aku akan cerita semua yang sedang kukerjakan. Setelah itu, tolong beritahu apa yang ingin kuketahui. Bagaimana?" Dalam hati Lysandra berharap tawarannya diterima.

"Balik urutannya, Hazel. Sekarang cerita apa yang kau tahu tentang Vyraswulf." Quentine melipat kedua tangan di atas meja sambil mencondongkan tubuh.

"Itu ... aku tidak tahu banyak. Makanya aku mulai mencari informasi tentang mereka." Pandangan Lysandra naik ke atas. Tidak lama ia berkedip-kedip dan menyingkirkan sejumput poni yang menjuntai, pura-pura risih dengan ujungnya yang bahkan tidak sampai menusuk mata. Ia hanya perlu pelarian dari sepasang mata yang semakin mudah melihat akal bulusnya.

"Dari mana kau dengar tentang mereka?"

"Dari ...." Lysandra berpikir sejenak lalu teringat dengan wajah guru di sekolahnya. Ya, ia bisa bersembunyi di balik nama itu. "Pelajaran Sejarah. Nona Gale, Pops tahu guru purbakala itu, kan?"

"Apa saja yang dia ajarkan?" Quentine jadi bertanya-tanya mengapa guru sejarah Lysandra bisa menyinggung soal bangsa serigala dalam mata pelajarannya.

"Aku kurang menyimak, pelajarannya selalu sukses membuatku tidur, Pops." Menyadari baru membuka kartu, Lysandra langsung membekap mulut sendiri. "Maksudku, cara dia mengajar sangat membosankan. Jadi ... begitulah."

Quentine dihadiahi seulas senyum yang menampilkan sepasang lesung pipi khas milik Myristica. "Tapi mustahil bila kau bisa selamat dari matanya terus-menerus, bukan?"

Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang