Selagi waktu sang sahabat disita oleh Wyfrien yang sudah turun dari panggung untuk bercakap-cakap, ia kembali teringat dengan tongkat berbentuk bunga dandelion yang diyakininya memang berkedip-kedip. Beberapa kali ia celingak-celinguk untuk memastikan tidak yang menaruh perhatian padanya sewaktu menarik diri dari kerumunan dan berbelok menuju area tongkat Solvāģė dipamerkan, tentu sambil menghindari sapuan mata petugas keamanan yang berdiri di beberapa titik strategis. Di dekat pedestal, ia mengulurkan tangan. Sesaat jarinya bersentuhan dengan ujung tongkat, ia tersedot ke dalam lubang angin yang kuat.
"A—apa yang terjadi?" Lysandra menyadari tubuhnya mengambang karena dirinya lebih tinggi dari puncak pohon konifer tertinggi.
"Kau senang, Malaikat Jatuh?"
Lysandra dikagetkan oleh suara seorang wanita yang berwibawa. Sambil menahan baret ungu pinjaman supaya terus melekat di rambutnya, ia berpaling ke kanan dan menemukan seorang wanita bergaun putih tengah berdiri menantang angin. Gaun dan rambutnya berkibar-kibar, tapi sang wanita bergeming. Di tangannya tergenggam sebuah tongkat bertakhta kristal merah muda berbentuk bunga dandelion.
Tongkat Solvāģė! Mata si mungil sama sekali tidak beralih pada wanita cantik berambut cokelat terang yang di dahinya tersembul benda bulat berkilau mirip mutiara. "Siapa dia?"
Terlalu terpesona, Lysandra sampai lupa pada sosok yang disapa tadi hingga ia berputar menghadap mereka. "Argemona ... lama tidak berjumpa." Nada angkuh bergelayut di setiap kata yang keluar dari bibirnya.
Siapa orang bengis ini?
"Apa yang sedang kau rencakan, Lodric?" Mata secokelat karamel Argemona menatap lurus ke dalam mata berwarna merah darah dari sosok bernama Lodric.
"Berusaha mengakses pikiranku? Tidak akan kubiarkan." Lodric mengibaskan tangan hingga menimbulkan gelombang fisik yang bergerak cepat ke arah target Argemona. Namun, gelombang tersebut langsung buyar saat mengenai tameng tak kasatmata di sekitar tubuh wanita itu.
Berita buruknya, Lysandra tidak kebal dengan serangan tersebut dan terpental.
Excelsis sadar ia ditinggal sendirian bersama Wyfrien langsung buru-buru pamit untuk mencari sahabatnya. Keributan kecil yang berasal dari ruang di sebelah menarik perhatiannya.
Sekitar lima atau enam orang mengerumuni seseorang yang terjengkang di lantai sambil menekan dadanya yang sesak. Salah satu di antara kerumunan adalah Alfred. Begitu bertemu mata dengan Excelsis, ia buru-buru mendekat.
"Nona, teman Anda—"
"Lysa? Ada apa dengan dia?" Excelsis melesat dan menyelipkan diri di antara dua orang tamu.
"Lysa! Kau kenapa ...?
Mulut Lysandra masih megap-megap, berusaha menampung sebanyak oksigen ke dalam paru-paru. Kondisinya mengingatkan Excelsis pada kasus pemukulan di sekolah.
"Beri ruang, beri ruang. Terima kasih ...." Alfred yang mempersilakan salah satu tim medis untuk memeriksa kondisi tamu yang mendapat surat undangan langsung darinya.
Setelah diperiksa, kondisi Lysandra tidaklah terlalu mengkhawatirkan. Alfred segera membopongnya ke ruang kerja Wyfrien demi mengendalikan suasana yang semakin ribut. Suara bisik-bisik dari para tamu sama sekali tidak terdengar pelan bagi telinganya. Excelsis membuntuti hingga mereka masuk ke ruangan bernuansa cokelat karena interior yang didominasi oleh furnitur berbahan kayu.
Alfred membaringkan tamu kecilnya di sofa panjang, lalu menarik bangku untuk diduduki oleh Excelsis. "Istirahatlah di sini sampai teman Anda merasa lebih baik. Saya akan membawakan teh untuk Anda berdua."
KAMU SEDANG MEMBACA
Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]
Fantasy[Pemenang Wattys 2022 Kategori Fantasi] [Reading List WIA Periode ke-2] Kehidupan Trio SEL (Schifar, Excelsis, Lysandra) berubah drastis setelah mereka menjadi magnet dari segala kejadian-kejadian di luar nalar, terutama Lysandra, gadis keras kepala...
![Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/314800084-64-k593850.jpg)