Chapter 11.4 - Svelatrix, The Red Phoenix

57 12 0
                                        

Keanehan kembali terjadi. Lysandra kembali terlempar entah ke dimensi mana yang memungkinkan seseorang mengambang di udara. Belum juga mengerti, ia dikagetkan oleh penampakan sesosok wanita tua berkulit pohon berbalut dedaunan hijau. Rambutnya terdiri dari untaian akar-akaran yang dikepang. Bagian jemari dipenuhi ranting-ranting kecil bercabang-cabang.

"Si—siapa?"

"Aku Fraxina. Terima kasih atas empatimu, aku tahu bukan kau pelakunya." Seluruh tubuh si wanita berpendar hijau zamrud.

"Pelaku?" Lysandra memiringkan kepala, belum mengerti arah pembicaraan makhluk aneh di hadapannya.

"Vyraswulf dan kau telah menyerap energi kehidupanku."

"Vyraswulf?" Lysandra berharap Fraxina tidak mengacu pada Schifar. "Di—dia, bukan laki-laki berambut biru, kan?"

"Bukan."

Lysandra mengembuskan napas lega untuk Schifar. Namun, rongga dadanya segera mengencang dengan sosok pelaku yang kedua. "Tapi aku—"

"Merphanon, mereka menggunakan tubuh kalian. Itu bukan salahmu."

"Ma—maafkan aku ...." Kepala Lysandra menunduk dalam. "Pasti ada caranya, kan? Cara menolongmu? Aku ... Aku tidak—" Air mata Lysandra berjatuhan.

Pendar cahaya milik Fraxina semakin redup. "Tidak ada. Carilah dia ... jangan sampai mereka menemukan dia lebih dulu atau ... akan binasa ... dia satu-satunya ... cari dia ...." Suara Fraxina semakin sayup-sayup seiring dengan pendar cahaya yang tidak stabil dan padam selamanya.

Kegelapan menyelimuti Lysandra setelah sumber cahaya satu-satunya menghilang. "Fraxina ... siapa? Siapa yang kau maksud? Siapa yang harus kucari ...? Binasa? Apa yang binasa?"

Ia tersungkur setelah kehilangan kontak dengan pohon besar yang telah berubah menjadi onggokan abu. Rasa bersalah dan tidak berguna bersekongkol untuk mempermainkan hatinya. Memang si pelaku utama adalah bangsa air, tapi tetap saja secara tidak langsung ia yang menjadi penyebab kematian Fraxina.

Entah apa yang salah hingga panggilan panik Excelsis seakan berasal dari permukaan air. Atau ... dirinya yang perlahan tenggelam ke dasar. Lysandra gelagapan dan berusaha menarik napas sedalam dan sebanyak mungkin dari mulut karena hidungnya serasa tersumbat.

"Lysa, Lysa ... hei Lysa, kau kenapa ...?"

"EG, kau di mana? Kenapa semuanya gelap?" Tangan Lysandra menggapai-gapai. "Luxum!"

Tidak terjadi apa-apa.

"Kenapa tidak bisa? Luxum!"

Tetap tidak terjadi apa-apa.

"Kenapa masih belum ada cahaya? LUXUM!" Frustrasi menjalar dan membungkus Lysandra yang semakin kalut karena tidak bisa melihat apa pun, seolah seseorang telah merenggut indra penglihatannya.

Excelsis segera memakaikan kaca mata hitamnya supaya Lysandra dapat melihat mereka.

"EG ...." Lysandra memeluk erat Excelsis sembari terisak. "Fraxina ... aku yang telah membunuhnya, EG ... aku yang telah membunuh dia—"

"Ssst ... tenangkan dirimu, Lysa." Excelsis menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya. "Siapa itu Fraxina, apa dia membalurkan sesuatu pada pohon yang membuatmu pingsan setelah menyentuhnya?"

"Fraxina—pohon besar—serap, aku yang telah menyerap energi kehidupannya—aku yang telah membunuhnya, EG ...!" Meski sudah memasang telinga baik-baik, Excelsis tetap tidak bisa menangkap penjelasan Lysandra—yang lebih mirip racauan—di sela-sela tangisnya.

Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang