Chapter 11.3 - Eorwood Forest

61 15 0
                                        

Selang 45 menit kemudian, dalam keadaan kenyang dan mengantuk, Excelsis kembali menarik Lysandra mendekat dan berbisik, "Lysa, kita pulang jam berapa?"

"Pulang? Kita akan bertualang hari ini, EG."

"Eh?"

"Kau ingin tahu kemana orang tua kita pergi?"

Pertanyaan Lysandra hanya dibalas gelengan kecil oleh Excelsis. Meski penasaran, ia tidak seantusias sahabatnya untuk mencari tahu.

"Hutan Eorwood!" Lysandra melirik jam dinding kafe. "Harusnya sekarang mereka sudah sampai."

"Kenapa kau yakin mereka ke sana? Tadi sopirku bilang akan mengantar papaku ke rumah sakit utama di kota, makanya aku hampir naik bus ke sini. Untung saja ada mereka berdua." Jari Excelsis menunjuk Wyfrien dan Zev.

"Hmm ...." Lysandra melirik Wyfrien yang duduk di seberang meja, mencium sesuatu yang tidak beres.

Merasa ada yang melirik ganas padanya, Wyfrien menoleh dan mata mereka bertemu. Lysandra tidak segan-segan menunjukkan ketidaksukaan dan menjulurkan lidah. Masih belum cukup, ia memasang wajah ingin menantangnya berkelahi, tapi diabaikan. Wyfrien malah mengulas senyum pada Excelsis dan kembali melihat ke luar jendela.

"Wah! Sudah jam segini!" Gale buru-buru berdiri. "Kalian pergilah dulu. Aku menyusul nanti," sarannya sambil berjalan ke arah kasir.

Mendapat komando, Lysandra segera menyambar tas punggungnya, tidak lupa menarik Excelsis dan menunggu di depan kafe. Wyfrien dan Zev juga ikut keluar dan langsung menuju tempat parkir. Gale sudah selesai membayar semua tagihan dan mengajak kedua muridnya masuk ke mobil Wyfrien yang sudah parkir di depan mereka.

Wyfrien menekan tombol dan atap mobil yang sedari tadi dibukanya mulai melingkupi mereka dan menutup sempurna. Setelah itu ia menaikkan semua kaca jendela serta menyalakan pendingin.

Di bangku penumpang bagian belakang, Lysandra berbisik pada Gale, "Kenapa kita pergi bersamanya?"

"Karena janjiannya dengan dia," balas Gale santai.

"Kalian sudah lama kenal?"

"Baru kemarin."

"Apa!" Lysandra mengundang semua mata tertuju padanya. "Maaf."

"Ada apa, Manis?" tanya Zev dari jok depan.

"Tidak ada apa-apa. Obrolan perempuan, harap maklum ...." Lysandra semakin mengagumi kemampuannya untuk membuat alasan masuk akal tanpa dicurigai tengah berkelit.

"Ah, ok."

Masih di wilayah jangkauan berbisik, Lysandra mempertanyakan kewarasan Gale, satu-satunya orang dewasa dalam grup mereka. "Kenapa kau mempercayakan keselamatan hidup kita pada orang asing itu?"

"Kenapa? Aku tidak tahu juga, tapi dia bisa dipercaya."

"Absurd. Jawaban yang terlalu absurd." Lysandra mengacak-acak rambut sendiri dan menendang-nendang kecil. Kalah telak dengan keantikan gurunya.

Excelsis yang sejak tadi hanya memperhatikan tingkah Lysandra akhirnya bersuara, "Kau kenapa, Lysa?"

"Berdoalah kita akan selamat hari ini, EG. Kalau kita jadi roh gentayangan, tolong jangan berevolusi jadi Malefowl dan menyeretku ke Talmios."

Dahi Excelsis otomatis mengerup dan melemparkan tatapan takut. Ya, ia takut temannya mulai tidak waras. Tahu-tahu Lysandra menjamah dan meremas tangannya yang dipaksa mengatup erat. "Sungguh ... kalau kita selamat, izinkan aku selalu di sampingmu. Kita teman—bukan, sahabat—harus selalu bersama dalam suka dan duka, betul? Kita tidak akan terpisah, kita adalah satu sekarang dan selamanya. Catat, kau harus catat janjiku ini di dalam hatimu, EG—Jangan pernah lupa! Kalau lupa, selalu ingat hari ini. Paham ...?"

Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang