"Suster May, terima kasih sudah meminjamkan kamar mandi dan bajunya." Excelsis muncul dalam balutan kaos putih dan celana katun panjang berwarna senada yang dipinjamkan Suster May. "Akan kukembalikan besok setelah dicuci."
"Tidak perlu buru-buru." Senyum tidak pernah meninggalkan wajah Suster May.
"Maaf ... sudah merepotkan."
"Tidak, sama sekali tidak. Istirahatlah dulu sampai asistenku kembali."
"Baiklah." Excelsis memilih menurut dan mengambil langkah pertamanya.
"Perlu dipapah?" Suster memperhatikan Schifar yang tidak jadi membawa surat keterangan klinik ke kelas. Calon ponakannya terus menatap Excelsis dalam diam hingga ia harus menendang kakinya di bawah meja.
Sontak perhatian Schifar beralih dan ingin melancarkan protes, tapi langsung terbungkam sewaktu menerima kode dari Suster May untuk membantu Excelsis. Meski enggan, ia menurut dan menghilang sesaat di balik pintu.
"Pantas saja sampai sekarang masih perjaka," celetuk Suster May sambil membetulkan letak kaca matanya.
Untuk sesaat Schifar membeku dalam posisi membungkuk hendak duduk. "Apa maksudmu?"
"Eh ... aku salah?"
Perubahan wajah Suster May dari mengolok dan sekarang seolah-olah terkejut sambil menatap jijik membuat Schifar ingin mencolok mata si calon tante. Ia tahu bila wanita bermata cokelat terang ini hanya bergurau, tapi terkadang gurauan yang terlontar membuatnya serba salah untuk menanggapi dan berakhir memberi impresi yang keliru.
Rona kemerahan yang datang tanpa diundang di wajah Schifar, berhasil mengundang perhatian Suster May, memberinya celah untuk mengolok, "Hei, aku tidak suka tomat. Jadi, singkirkan pipi tomatmu itu."
Tidak puas dengan hanya berdecak, Schifar mendengkus, berharap wanita di hadapannya kembali bersikap serius. "May, kenapa dia menghindar menatapku? Tadi dia baik-baik saja."
"Ya ampun, kenapa setiap perjaka punya sindrom ini!" Suster May membekap mulut demi memperpanjang dramanya.
"Sindrom?"
"Sindrom bodoh, apalagi?"
"Kau mengataiku bodoh?"
"Kalau bukan bodoh, apa namanya? Tentu saja dia malu, kau tahu mengapa dia ngotot ingin mandi?"
"Ya, dia gila kebersihan. Kena muntahan pasti tidak nyaman."
"Hanya muntah? Ayolah, kau lebih cerdas dari ini."
Schifar terdiam sejenak, mencoba memecahkan teka-teki yang diberikan Suster May. Beruntung akhirnya ia mengingat apa yang terjadi setelah memikirkan alasan Excelsis terburu-buru kala itu. Titik penting selain dipukul Lysandra adalah tujuan Excelsis untuk memuaskan hasrat ingin buang air kecilnya!
"Ha~ah, ternyata itu."
"Pintar. Bila kau tidak bisa menemukan jawabannya, aku sudah berencana mentransfer Feeling dia padamu." Mata Suster May tergencet pipinya yang terangkat.
Salah satu kemampuan yang dimiliki succubus adalah memindahkan atau lebih tepatnya memancarkan perasaan yang dimiliki seseorang pada targetnya. Mereka menamai perasaan seseorang sebagai Feeling.
"Tidak perlu." Schifar tidak mau merasakan sensasi malu yang dialami Excelsis.
Jam bergulir begitu cepat. Tidak terasa mereka menghabiskan 10 menit menunggu hasil foto rontgen milik Excelsis. Tambahan 15 menit kemudian diisi dengan penjelasan singkat dari Suster May terhadap beberapa lembar foto yang dipampang bergantian pada alat penerang di dinding.
KAMU SEDANG MEMBACA
Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]
Fantasía[Pemenang Wattys 2022 Kategori Fantasi] [Reading List WIA Periode ke-2] Kehidupan Trio SEL (Schifar, Excelsis, Lysandra) berubah drastis setelah mereka menjadi magnet dari segala kejadian-kejadian di luar nalar, terutama Lysandra, gadis keras kepala...
![Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/314800084-64-k593850.jpg)