Chapter 3.2 - Parasite

76 21 2
                                        

Selagi Excelsis bersimbah peluh dan tak sadarkan diri, pertarungan Aithne masih berlanjut. Seperti ikan yang dipisahkan dari air, sesuatu yang dikelilingi oleh kabut hitam perlahan membesar hingga seukuran bola golf dan menggelepar-gelepar di lantai. Hasil tangkapan kali ini lebih menyerupai kelomang yang kehilangan rumah—Excelsis.

Tidak seperti kelomang di alam liar yang terus mencari kulit kerang tak berpenghuni yang sesuai dengan ukuran tubuhnya, 'kelomang' dalam tubuh Excelsis adalah parasit yang menginvasi, mengambil alih, serta mengeksploitasi inangnya hingga mati. Persamaan kedua makhluk tersebut terletak pada bisa atau tidaknya mereka menemukan rumah. Kelomang di pinggir pantai, pasti akan mati bila tidak mendapatkan rumah. Panas matahari dengan mudah membakar kulit sensitif mereka.

Di ruang bawah tanah ini memang tidak ada matahari, tapi hanya seorang wanita yang hatinya panas membara seperti matahari. Cukup dengan satu percikan kecil dan ia terbakar. Si 'kelomang' parasit berhasil menjadi percikan kecil yang dibutuhkan dengan menginvasi tubuh Excelsis, suatu kesalahan fatal tak terampuni.

Vonis telah dijatuhkan dan pisau yang tergenggam siap mengeksekusi. Kilatan di mata Aithne sedingin bilah perak berujung lancip yang tengah menyeruput genangan darahnya di lantai hingga tandas.

Permata ungu terang yang tersemat pada gagangnya perlahan menggelap seturut perubahan pada bilah yang memerah seperti pijar lahar. Parasit yang masih terhubung dengan benang ungu Aithne meringsut mendekat untuk satu tujuan—mencoba menginvasi inang baru.

Aithne menarik kasar benangnya hingga 'kelomang' tak tahu diri itu tergantung. Kaki-kaki kurus si makhluk lunak bergerak-gerak di udara untuk mencari pijakan. "Heh! Makhluk rendahan!"

Beruntung Excelsis masih pingsan. Gadis berhati lembut ini pasti akan mengira mamanya dirasuki setan akibat nada suaranya yang dingin dan gelap terdengar sangat bengis.

Belas kasihan sama sekali tidak tersisa di hati untuk makhluk yang membuat Aithne mengumbar semua kemarahan. Ia membanting keras si makhluk tak bercangkang hingga terpelanting dua kali dan mendarat di punggungnya, mengekspos bagian bertitik merah di tengah abdomen, titik yang memiliki fungsi yang sama dengan jantung.

Lagi, berpasang-pasang kaki kurus itu bergerak liar seperti menantang lawan untuk berduel. Tingkahnya semakin menyalakan kobaran api dalam diri Aithne. Mungkin bila tidak memerlukan pisau kecil yang masih tergenggam erat, ia sudah menginjak-injak kelomang parasit di lantai sampai menjadi gumpalan tanpa bentuk.

Jeritan panjang, melengking dan menyayat hati—tapi tidak cukup menyayat hati Aithne—membelah kesunyian di ruang rahasia tanpa saksi mata terhadap apa yang terjadi pada si parasit yang meregang nyawa.

Ujung pisau Aithne tertancap di abdomen kelomang parasit yang masih menggeliat sebelum meledak seperti balon yang diisi air, meninggalkan titik-titik embun di lantai.

***

Aithne kembali turun ke ruang rahasia setelah membaringkan Excelsis di kamarnya sendiri. Ia membuka sebuah kotak yang diambil dari laci meja kerja Maeveen. Di dalamnya berisi tiga pasang pipet, enam ampul kecil berisi cairan yang masih tersegel dan sebuah papan pipih kecil yang berisi enam cekungan.

Ia meraih pipet kecil untuk mengambil sampel dari beberapa titik air serupa embun dan diteteskan pada cekungan di papan pipih di atas lantai. Proses pertama selesai. Selanjutnya, Aithne memutuskan segel mulut ampul dan menumpahkan seluruh cairan pada sampel yang telah diambil hingga terjadi reaksi kimia.

Sambil menunggu reaksi yang mirip air mendidih berakhir, Aithne membereskan semua perlengkapan yang terpakai. Pisau kecil miliknya sudah kembali ke wujud cincin perak bermata merah keunguan yang selalu terlingkar di jari manis.

"Mari kita lihat kau berasal dari mana, parasit jahanam!" maki Aithne sambil mencocokkan warna di cekungan papan pipih dengan selembar kertas petunjuk.

Warna akhir dari hasil reaksi menghasilkan warna hitam seperti oli bekas. "Sudah kuduga. Merphanon, hah?" Sudut bibir Aithne terangkat sinis, sorot matanya masih dingin dan bengis, seperti ingin mengatakan 'kalian akan membayar mahal untuk ini'.

Aithne mengibaskan tangan dan seluruh sumber cahaya dalam ruangan langsung padam, meninggalkannya seorang diri dalam kegelapan pekat. Hanya sepasang cahaya ungu terang yang terlihat bergerak naik kemudian bergerak lurus menuju pintu keluar, serupa komet berekor.

Sepasang cahaya ungu yang mengumbar aura sinis dan berbahaya itu merupakan sepasang mata Aithne. Bola matanya seperti menjelma menjadi versi kecil dari permukaan bola api yang konstan menyala, siap membakar dan menghanguskan segala sesuatu tanpa belas kasihan.

Serangan Lysandra tadi siang, selain merusak pelindung perut, juga berhasil menginfeksi Excelsis melalui pusarnya. Setelah menemukan inang, telur makhluk dunia perairan itu menetas dan menempel pada organ perut dalam bentuk larva untuk menyedot nutrisi. Sekali masuk tahap dewasa, mereka akan mencari cara untuk masuk ke sistem peredaran darah dan berkelana sampai ke otak. Di sini, mereka akan menetap dan mendegradasi sistem pusat saraf hingga rusak permanen tanpa membunuh si korban karena merekalah yang menjadi 'otak baru'.

Mungkin ungkapan 'manusia bercangkang kosong' sudah tepat untuk menjelaskan fenomena para manusia sial yang terinfeksi salah satu makhluk dunia perairan ini. Sama sekali tidak salah atau berlebihan menyebut mereka sebagai parasit, meski awalnya sempat memberi keuntungan berupa kekuatan melebihi apa yang bisa dilakukan manusia biasa. Namun, dengan segala efek buruk setelahnya, tentu tidak ada yang mau menukar hidup untuk memiliki kekuatan super dalam waktu singkat dan berakhir menjadi budak monster air yang hanya bergerak bila diperintahkan oleh pengendali mereka.

Para monster air biasa digunakan oleh bangsa Merphanon untuk memata-matai daratan dan memiliki kemampuan untuk meniru wujud inangnya dengan sempurna, kecuali pada bagian mata yang tetap berselaput. Kelemahan terbesar mereka hanya satu, sangat bergantung dengan air. Bila mereka tidak menemukan air dalam jangka waktu tertentu, tubuh mereka akan mengering dan menjadi mumi.

Excelsis beruntung karena Aithne cepat mendeteksi makhluk tersebut dan dipancing keluar, meski prosesnya amat menyakitnya.

***



Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Ilustrasi pisau (dagger) milik Aithne, berupa anting dan cincin. Permata pada cincin dapat berubah dari merah muda, ungu hingga merah, tergantung dari kondisi emosi Aithne sendiri. Aithne memiliki kecenderungan untuk memesan satu set perhiasan lengkap (kalung, anting, cincin, gelang), tapi hanya memakai anting dan cincin saja. Kalung jarang digunakan sehari-hari.

 Kalung jarang digunakan sehari-hari

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang