Wyfrien mengulas senyum tipis karena mata Excelsis yang membulat sambil membekap mulutnya sendiri. "Berhasil memanggil sesuatu dari masa lalu?"
"Kau ... melakukan sesuatu padaku?"
"Aku tidak akan melakukan apa-apa sebelum mendapat persetujuan." Wyfrien menggaruk ekor alis kanan yang tidak gatal. "Kecuali terpaksa," gumamnya pelan hingga nyaris tidak menggerakkan bibir.
"Oh." Excelsis membuang muka, tidak tahan dengan tatapan intens Wyfrien. Pikirannya berkelana lagi pada acara di televisi tentang kota Venzenia. "Hei, kau tahu tentang keluarga Sterling?"
"Sterling? Ada apa dengan mereka?"
"Entahlah. Tiba-tiba aku teringat dengan dia, Wise Sterling."
Wyfrien menelengkan kepala sambil tersenyum singkat pada Excelsis dan menekan sebuah tombol untuk membuka penutup tangki bahan bakar. "Kau ingin bilang wajahku mengingatkanmu padanya?"
"Iya."
"Siapa dia? Seseorang yang telah melukai hatimu?" Wyfrien menurunkan jendela dan memberikan kartu kreditnya pada seorang karyawan. "Isi penuh. Terima kasih."
Excelsis menunggu Wyfrien selesai berurusan dengan petugas yang mengambil kartu kreditnya sebelum menjawab, "Bukan. Kurasa itu pertemuan pertama kami—di sana, di atas balkon."
"Sepertinya berkesan."
"Mungkin." Excelsis kembali menatap ke luar jendela, tidak tertarik lagi untuk mengagumi pantulan wajahnya di jendela pintu mobil. Aliran pertanyaan yang terus mengalir dan membanjiri kepala, semakin menggugah rasa ingin tahunya. "Mengenai penguncian ingatan yang kau sebut tadi. Bisa jelaskan sedikit tentang itu?"
"Bisa, tapi bersyarat."
Sembari menimbang-nimbang untuk mengambil pilih setuju atau tidak, matanya kembali pada Wyfrien, terutama pada kristal Alexandrite berbentuk tetesan air yang membangkitkan ingatan pada bandul kalung bertali hitam pemberian Aithne. "Aku akan mendengar persyaratannya setelah tahu namamu. Sangat tidak adil kalau hanya kau yang tahu namaku."
Wyfrien tertawa kecil lalu mengerling pada Excelsis. "Wyfrien Bleid Myers. Ada lagi?"
Ternyata bukan orang yang sama, meski wajah mereka nyaris identik. Kekecewaan sempat menelusup dalam hati Excelsis. Ini berarti ia harus membuang jauh-jauh pikiran ornamen kristal di pergelangan tangan Wyfrien adalah miliknya yang hilang dan tidak sengaja ditemukan oleh lelaki ini. "Persyaratannya, silakan."
"Baiklah. Pertama, kenapa dan temanmu yang cerewet itu nekat menerobos? Terlalu sibuk hingga tidak membaca papan pengumuman?"
"Tentu saja bukan itu."
Excelsis menceritakan pada Wyfrien dosa kecil yang dilakukannya. Sesaat keluar dari lift, ia tidak sengaja mencuri dengar percakapan seseorang. Kira-kira sepuluh langkah dari tempatnya berdiri, ada area tangga yang kondisinya remang-remang akibat tidak tergapai cahaya lampu yang ada. Lampu yang tepat menaungi tangga memang rusak dan tidak pernah diperbaiki.
Akibat percakapan dua sosok berpakaian serba putih inilah yang membuat Excelsis langsung menghubungi Lysandra. Begitu tahu tempat tujuan sahabatnya, ia segera berlari secepat kakinya bisa dipacu. Namun, beberapa langkah sebelum gerbang museum, si mungil itu hendak masuk sendirian.
"Apa yang kau dengar dari percakapan itu, sepertinya bukan berita bagus?"
"Tentang serangan dan—entahlah—invasi? Ya, aku tahu kedengarannya gila, tapi aku tidak ingin sahabatku terancam bahaya. Hanya saja ...."
"Ya? Ceritakan saja." Wyfrien mendorong Excelsis untuk terus bercerita dan membuang keragu-raguannya.
"Sesaat setelah Lysa menyeretku ke dalam, aku tidak bisa bergerak dan ... berhalusinasi? Ah, aku tahu ini aneh, tapi kuharap kau—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]
Fantasy[Pemenang Wattys 2022 Kategori Fantasi] [Reading List WIA Periode ke-2] Kehidupan Trio SEL (Schifar, Excelsis, Lysandra) berubah drastis setelah mereka menjadi magnet dari segala kejadian-kejadian di luar nalar, terutama Lysandra, gadis keras kepala...
![Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/314800084-64-k593850.jpg)