Chapter 11.2 - Wren, Wyvern?

64 15 0
                                        

Selagi Lysandra memilih-milih minuman dan makanan kecil, yang bersangkutan tengah berteduh di dekat sebuah pohon yang tumbuh di area depan gerbang sekolah, menunggu sopir pribadi keluarga Vladimatvei datang menjemput.

Tidak lama mobil sedan terbuka berhenti di depannya. Si pengendara mengenakan kaca mata hitam. Tanpa bicara, ia membuat isyarat dengan hentakan kepala supaya Excelsis naik ke mobilnya.

Excelsis tidak menanggapi karena merasa ajakan tersebut bukan dituju untuknya. Lagipula, ia tidak mengenal sosok yang tengah memegang setir dengan satu tangan, sementara tangan lain tersandar santai pada pintu mobil. Wajah si pria sama sekali tidak berpaling, seakan-akan sepasang mata di balik lensa gelap tersebut hanya mengarah padanya. Sebagai jalan tengah, Excelsis menoleh ke belakang dan menemukan Zev yang entah sejak kapan berada di sana. Sang senior melambai ke arah lelaki berkaca mata sambil melangkah santai.

Tahu-tahu lengan Zev merangkul bahunya.

"Lepas!" Excelsis menepuk keras punggung tangan Zev yang tergantung di bahu kirinya. Kalau permintaannya tidak ditanggapi serius, ia sudah berencana membanting lelaki yang dianggapnya semakin lancang. Mereka sudah beberapa langkah di luar gerbang sekolah. Jadi, aturan sekolah sudah tidak berlaku lagi.

"Ups. Maaf—salah orang." Zev mengelak sambil menarik turun lengannya. Tidak lama, ia menggenggam lembut ujung jemari Excelsis dan bermaksud menciumnya. "Sampai bertemu besok, Tuan Putri."

Suara klakson menghalangi niat Zev.

"Sabarlah sebentar, Wren—aku sibuk!" teriak Zev pada penjemputnya.

"Stop. Atau kupotong tanganmu."

Excelsis sontak menoleh. Ia mengenali suara lelaki yang semalam mengantarnya pulang. "Wyfrien?"

Begitu identitasnya terbongkar, Wyfrien langsung membuka kaca mata. Ia menatap ganas pada Zev yang masih menggenggam jemari Excelsis.

"Oh!" Zev segera melepas kontak dengan jemari Excelsis dan mengangkat kedua tangan, membuatnya mirip seorang pesakitan yang pasrah pada todongan senjata api milik polisi. 

"Galak sekali."

"Cepatlah!"

"Iya, iya ...." Zev segera membuka pintu dan duduk di kursi penumpang. Ia melambai pada Excelsis seiring dengan mobil yang bergulir menjauh.

***

Wyfrien memarkir mobil tidak jauh dari sekolah, tapi tersembunyi dari penglihatan Excelsis. Sebenarnya Zev akan tahan seandainya mereka parkir di tempat teduh, bukan di area yang terang benderang dan tergigit oleh sinar matahari yang sedang tinggi-tingginya berada di puncak langit. Bulir-bulir keringat bermunculan dan bercucuran dari dahinya.

"Ada apa ini, Wren? Tadi siapa yang memintaku cepat-cepat, dan sekarang kau memerangkapku di sini!" Kesabaran Zev habis. "Setidaknya tutup mobil dan nyalakan AC."

"Diamlah atau turun dan naik angkutan umum, sana," balas Wyfrien datar. Matanya masih melekat pada Excelsis yang belum dijemput.

"Inikah bentuk terima kasihmu padaku setelah membantu menemukan dia, hah?" Zev menggeleng-gelengkan kepala, tanda protes pada kakak angkatnya itu.

"Aku tidak pernah minta kau mencarinya."

"Shhh, tetap saja aku yang menemukannya!"

"Lalu?" Wyfrien mendengar desisan tertahan dari Zev. Lelaki itu sudah kehilangan motivasi untuk melanjutkan debat yang tidak akan bisa ia menangkan. Matanya kembali mengawasi Excelsis.

Sosok yang diawasi menerima telepon dari seseorang. Dagu Wyfrien mengencang setelah tahu lawan bicara Excelsis adalah seorang pria.

Zev menahan diri untuk tidak berdecak sebal. Toh, tidak menghentikan embusan kasar dari kedua lubang hidungnya yang mancung. "Jangan bilang kau cemburu pada sopirnya," ejeknya, "oh iya, jangankan sopir ... adiknya sendiri saja ingin dipotong tangannya karena menyentuh 'Tuan Putri'-nya."

Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang