Chapter 4.3 - Peculiar Contract: Magnolia

78 20 4
                                        

"Lepaskan aku!"

Jeritan penyiksa telinga sekaligus mengiba membuat Schifar buru-buru mengangkat kepala. Mantra pembeku memang telah lepas, tapi meninggalkan sengatan-sengatan nyeri di seluruh tubuhnya.

Schifar menemukan si ular putih disiram hujan hijau neon. Tubuhnya terbelit sekumpulan tanaman rambat berduri yang entah muncul dari mana. Semakin ia meronta, belitannya semakin kencang.

Alis Schifar terangkat, bingung dari mana datangnya tetesan-tetesan cairan berwarna hijau neon yang menyala dalam gelap. Warna tersebut mengingatkannya pada limbah radioaktif. Matanya memanjat lagi dan menemukan sosok Mindy yang tergantung seperti boneka tali.

Kepala Mindy menunduk lesu. Sekumpulan rambut ular tanpa kepala juga terjulur gontai. Ya, tiap untai rambut ular di kepala Mindy memiliki satu kepala yang sekarang terpenggal. Tubuh Mindy yang terbelit sulur tanaman dipenuhi ratusan goresan dan sayatan berbeda ukuran. Rupanya cairan hijau tersebut berlomba-lomba menetes dari setiap luka yang belum menutup.

"Hei! Kau dengar aku, 'kan? Lepaskan aku!" teriak si ular putih, frustrasi dengan keadaannya.

"Kenapa? Itu ganjaranmu!" Senyum mengejek khas milik Schifar mengembang. "Sekarang bilang, kenapa kau juga dikirim ke sini, hah? Terbunuh dengan jurusmu sendiri?" Schifar membuat gerakan menggorok leher. "Hahaha ... kau benar-benar menyedihkan!"

Keinginan Schifar untuk mati membuatnya berhalusinasi. Ia mengira sudah berhasil berpindah ke dunia orang mati, padahal seluruh sel sarafnya saja masih mengerang sakit.

"Diam KAU ...!" Provokasi Schifar membangkitkan kegeraman di hati si ular putih. "Hegh—lepas, lepas ... kan...."

Belitan yang merespon gerakan dan getaran kecil semakin kencang, mengancam mencacah tubuh si ular albino menjadi beberapa bagian kecil. Praktis ia bermandikan darahnya sendiri. Duri-duri halus yang terdapat pada tanaman rambat tersebut juga semakin dalam terbenam bila ia terus bergerak dan bicara.

"Tutup saja mulutmu, cacing cerewet! Atau tanaman penghukum atas dosa-dosamu itu akan segera mengirimmu—kemana ya, apa nama tempat untuk orang yang sudah mati lalu mati lagi?" Schifar menggaruk-garuk kepala, mencoba menjawab pertanyaannya sendiri.

Keenceran otak kebanggaan rupanya masih belum kembali karena hingga sekarang Schifar masih belum bisa menggunakan nalar yang entah jatuh di mana.

"Bodoh, kau dan aku belum mati, tahu! Semua ini salah wanita emas itu!" balas sosok mengenaskan di ujung mata Schifar, pasrah bila tubuhnya akan terpotong rapi atau terkoyak.

Ia sadar telah kalah total dan bersiap memeluk kematiannya. Dua kegagalan berturut-turut adalah prestasi yang memalukan. Hanya penyesalan yang tersisa karena tidak sempat mengetahui nama si wanita emas.

Schifar menampar pipi kuat-kuat untuk membuktikan si ular putih tidak berbohong. Jelas pipi yang berdenyut perih adalah bukti tak terbantahkan bila ia memang belum mati. Ia menunduk dan merasakan embusan napas Lysandra di jari telunjuknya. Masih ada.

Lysandra dibaringkan dengan hati-hati di atas rerumputan sebelum ia bangkit berdiri. "Sebut permintaan terakhirmu!"

Tidak ada respon dari si ular putih cerewet. "Hei, kau dengar, tidak!" Bentakan Schifar terhenti sewaktu melihat kondisi musuhnya.

Tubuh sang musuh dalam keadaan teriris-iris. Darah merembes keluar dari setiap garis-garis merah lukanya, beberapa bagian bahkan nyaris putus. Meski telah menjadi sumber kesulitan, rasa kasihan masih saja berhasil meggelitik jiwa sosial Schifar.

"Bertahanlah!" Tanpa pikir panjang, ia melompat tinggi untuk memutuskan sulur-sulur tanaman rambat yang membelit si musuh tak berkaki. "Hei, kau masih hidup, 'kan?" tanyanya sembari menggoncang-goncang si makhluk panjang bersisik dalam genggaman, "jangan membuat tindakanku sia-sia untuk menolongmu!"

Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang