"Selamat pagi, Lisy. " Myristica sudah duduk di tepi ranjang.
Sosok yang dibangunkan sempat mengerang kesal akibat tidurnya terganggu dengan guncangan kecil pada bahunya. Namun, protes tidak akan pernah meluncur ke luar sebelum rongga mulutnya tersentuh pasta gigi beraroma mint. Kelembutan Myristica tidak akan dibalas Lysandra dengan sikap kasar. Jadi, ia hanya mengintip dari celah mata yang terbuka sedikit dan menyunggingkan senyum.
"Bangunlah. Ada yang menunggumu di luar."
Setelah dirasa lampu di atas kepala tidak terlalu menyilaukan, Lysandra segera membulatkan mata dan mengangkat alis.
Paham dengan dengan isyarat bertanya putrinya, Myristica mengedikkan bahu. "Dia hanya mengatakan ingin mengembalikan tasmu."
Khawatir sarapan yang tengah disiapkan akan hangus, Myristica segera bangkit dan keluar dari kamar tidur putrinya. Ia gagal menangkap kilat-kilat kesal di mata Lysandra yang buru-buru turun dari ranjang dan berlari masuk ke kamar mandi sebelum menjumpai tamunya.
Jelas Lysandra tidak ingin beramah-tamah, tapi ingin mendaratkan tinju sekeras mungkin pada wajah sosok yang membayang jelas dalam benaknya.
Tidak salah lagi, tamu tersebut pasti Alfred.
Di bagian lain kediaman Zeafer, tepatnya di dapur, Myristica tengah keheranan karena hanya ada suara percikan air dari bilik berkeramik putih di seberang ruangan. Tidak ada polusi suara berupa nyanyian-nyanyian asal yang memekakkan telinga.
"Ada apa?" tanya Quentine yang baru masuk dan duduk.
"Pagi, Zeafer. Kau tidak merasa ada yang lain hari ini?" Myristica berteka-teki.
Quentine menggeleng dan hendak bersuara lagi. Namun, Myristica langsung menyandarkan telunjuk di bibirnya. Kesunyian dengan cepat mengisi seantero dapur.
"Ada apa dengan anak itu?" Quentine keheranan dengan suasana pagi di rumah mereka yang lebih sunyi dari biasanya.
Myristica mengendikkan bahu sebelum kembali sibuk dengan adonan pancake di tangannya. "Entah."
"Setidaknya tidak ada polusi di pagi hari." Quentine mendapatkan lemparan senyum dari wanita yang menurutnya memiliki senyum terindah di dunia.
Sekitar 10 menit kemudian, Lysandra keluar dari kamar tidur. Ia memadukan kaos hijau zambrud tebal setinggi leher dan jaket wol putih sebatas lutut hasil rajutan Myristica. Celana panjang ketat berwarna cokelat pucat melengkapi penampilannya.
Di ruang tamu, ia disambut sosok jangkung yang berdiri membelakanginya. "Ternyata benar kau, Tuan Alfred!" Seketika jantung Lysandra berdebar kencang akibat adrenalin yang meledak-ledak.
Sosok yang berpakaian serba hitam berbalik, "Selamat pagi, Nona Hazel. Maaf sudah mengganggu sepagi ini—"
Tubuh Lysandra menegang sewaktu kilasan peristiwa di museum tebersit dalam benaknya. "Ada apa Tuan kemari?"
Alfred menggeleng. "Ah—Jangan panggil saya dengan sebutan 'tuan', Nona."
"Jadi, aku harus panggil apa? Komplotan penjahat museum?" cecar Lysandra sembari meningkatkan kewaspadaannya.
"Bukankah itu terdengar tidak sopan bagi seorang pelajar terdidik seperti Anda?"
"Bisa kita ke intinya sekarang?" Lysandra juga merasa perkataannya kelewatan, tapi tidak bisa menampik kekesalan yang perlu dilampiaskan. Pandangannya bergeser ke tas punggung yang dijinjing Alfred. Pasti pria itu sempat membongkar isi tas hingga bisa menemukan alamat rumahnya. "Anda melanggar privasi saya!"
Alfred paham betul dengan maksud Lysandra. "Maaf atas kelancangan saya, Nona. Dugaan Anda benar, tapi apakah ada pilihan lain?" Alasannya memang masuk akal. Tidak lama ia menyodorkan tas di tangannya dan berkata jujur, "Saya hanya mencari kartu identitas saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]
Fantasy[Pemenang Wattys 2022 Kategori Fantasi] [Reading List WIA Periode ke-2] Kehidupan Trio SEL (Schifar, Excelsis, Lysandra) berubah drastis setelah mereka menjadi magnet dari segala kejadian-kejadian di luar nalar, terutama Lysandra, gadis keras kepala...
![Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/314800084-64-k593850.jpg)