Chapter 6.1 - A New Reality

67 15 13
                                        

Excelsis terus mengawasi Lysandra dan Aithne karena penasaran sekaligus cemas dengan nasib sang sahabat. Namun, karena tak kunjung dilibatkan dalam perbincangan mereka, kebosanan datang melanda. Toh, mereka tampak akur. Tangannya meraih sebuah buku tebal dari rak dan dibuka acak, tidak lupa menyumpal telinga dengan earphone.

Sebagai seseorang yang bisa melakukan sesuatu sekaligus, Excelsis bisa dengan mudahnya membaca sambil menggoyang-goyangkan kepala mengikuti irama lagu dan sesekali melantunkan lirik dari deretan penyanyi favorit yang tersimpan di ponsel. Pada satu titik, mempertanyakan perannya di ruang kedap suara yang menebar aroma kayu dan buku tua ini.

***

Aithne menuntun Lysandra sampai di depan sebuah cermin berdiri di dekat raku buku, lalu mengambil cermin duduk dari meja Maeveen. "Kelihatan?"

Lysandra melihat bercak merah di ruas tulang leher melalui pantuan cermin duduk yang dipegang Aithne. Sekonyong-konyong kejadian di toilet bertamu kembali. "Makhluk kurang ajar, sudah mengambil tubuh orang tanpa izin masih mencederai kulitku pula!" makinya sengit.

Jelas Lysandra naik pitam. Kulit mulus kebanggaannya sekarang dinoadi bercak merah yang tidak enak dipandang. Belum lagi rambut yang kepalang pendek mungkin tidak akan bisa menutupi noda tersebut bila ia memakai pakaian yang mengekspos punggung.

"Makhluk?" Mata Aithne menyipit. Kecurigaannya mulai mendapat titik terang.

"Ceritanya panjang, Tante." Lysandra enggan menceritakan kejadian kemarin karena khawatir akan dituding berhalusinasi liar. Tidak ada yang suka didiagnosis mengidap penyakit Tidakwaraskus gilanensis, nama lain dari penyakit yang meragukan tingkat kewarasan seseorang.

"Kalau begitu bisa dimulai sekarang." Aithne melirik jam dinding antik yang tergantung di atas bola globe.

"Iya." Lysandra tahu tidak akan bisa meloloskan diri bila sudah berada dalam cengkeraman Aithne. Tikus kecil sepertinya pasti akan dipojokkan dan dibuat tidak berkutik.

Cerita detail mulai bergulir dari mulut Lysandra. Namun, peristiwa di restoran kecil dan pengejaran di hutan pinus sengaja diluputkan. Lysandra takut Excelsis akan mengejar 'calon potensialnya' bila identitas Schifar terbongkar. Schifar yang pemberani dan gagah seperti kemarin adalah tipe lelaki pendamping yang pasti akan disukai Excelsis. Terutama kesigapan Schifar yang bisa dimanfaatkan untuk mengejar dan mendapatkan makanan favorit mereka di kantin.

Tidak ada yang tahu pasti bagaimana Excelsis memandang Schifar, lelaki sensitif yang mungkin bisa tenggelam dalam air matanya sendiri bila sisi melankolis tahu-tahu datang. Pilihannya hanya ada dua, sebagai calon potensial yang mengenalkan Excelsis pada cinta atau hanya sebagai seseorang yang selalu menolong seperti petugas sosial.

"Benar sudah cerita semuanya?" Maskara hitam beraksen sayap runcing di sudut mata mempertegas mata Aithne yang berujung tajam, membuatnya semakin terlihat galak.

"I—iya." Mata Lysandra bergerak-gerak, tidak yakin untuk melanjutkan kontak mata atau segera melarikan diri dari tatapan menusuk penuh selidik Aithne.

Bila Lysandra memilih opsi kedua, Aithne pasti langsung mengendus ketidakjujurannya dan inilah yang paling ia takutkan. Bagaimana bila wanita yang dalam sekejap waktu menjadi tidak ramah ini terus mencecar sebelum rasa ingin tahunya terpuaskan. Bisa-bisa ia tertahan hingga malam di sini. Lysandra tidak keberatan untuk menikmati hidangan makan malam, tapi tetap saja intinya bukan itu.

"Kau tidak masuk ke wilayah hutan di selatan?" Aithne melirik tangan Lysandra yang meremas rok dan menyanjung keberanian gadis yang serata bahunya dalam hati.

Wilayah selatan? Letak hutan pinus, kan?

Lysandra berkelit. "Tidak ... tentu saja tidak." Dari gelengan yang tidak mantap, suara yang bergetar, dan senyum yang dipaksa saja sudah mengkhianati semua usahanya.

Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang